Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Wednesday, 24 November 2021

MENGOMENTARI DEBAT POLITIK PRAKTIS DI MEDIA SOSIAL



Setiap masa pergantian kepemimpinan nasional di medsos (FB, WA, Twitter) akan muncul dan lahir perdebatan perdebatan politik yang seru dan juga tak kalah lucunya.

Dalam diskusi di grup Whatsaap, Facebook atau Twitter, setiap orang bisa merasa paling benar. 
Setiap orang dapat mengatakan bahwa itu adalah kebenaran menurutmu, namun menurutku kebenaran tersebut adalah berbeda.

Tetapi, masa sekarang ini yang sistim politik nya telah terbuka.. orang sepertinya tidak peduli lagi pada kebenaran. Kejujuran pun gak pernah menjadi keutamaan.
Di masa mendekati pemilu atau pilkada maupun pilpres yang sesuai siklus (UU), misalnya, kebohongan menjadi budaya untuk disebar-luaskan dengan berbagai sarana dan cara, dengan argumen mengacu pada kebenaran. 

Demikian pula dusta dan manipulasi membanjiri pikiran masyarakat. 
“Sampai di titik ini, saya jadi bingung”, apakah berpolitik harus seperti itu? Benarkah cara berprosesnya  politik itu dengan menerabas moral dan etika..entahlah, saya pikir kembali ke hati nurani masing-masing aja ya.

Memang betul kalau setiap momen politik itu menyediakan kesempatan, dan setiap kesempatan menyediakan peluang. Setiap peluang adalah keuntungan. Sesungguhnya politik adalah tanda dan sarana penyelamatan untuk mewujudkan kebaikan bersama bagi seluruh anggota masyarakat. Dan seharusnya dalam momen hingar bingar nya perpolitikan saat perhelatan pergantian kepemimpinan itu masing-masing individu yang ikut berpartisipasi politik tidak mengingkari jati dirinya alias gak perlu menyeret isu terkait SARA. Karena sejatinya Indonesia itu lahir dari keberagaman. Keberagaman itu keberkahan bagi NKRI.

Saya dan juga banyak orang akan  lega bahwa teman-teman selalu menghindari atau bahkan tidak mau ngomong agama sebagai alat bagi individu sebagai pembenaran politik  nya apalagi mengaitkan agama dengan politik.

Memang hidup tak lepas dari konflik. Konflik telah menjadi bagian yang wajar dan tak terelakkan dalam kehidupan manusia. 
Konflik dapat dipastikan akan selalu muncul selama manusia memiliki tujuan, kepentingan, dan pengejaran cita-cita yang berbeda dalam hidup.

Karena itu, seiring dengan berjalannya waktu manusia harus bergelut dengan isu-isu konflik kata RW Mark dan RC Snyder.

Konflik sering dikaitkan dengan konsep yang terkait dengan kepentingan antagonis, kesalahpahaman, persaingan, kepentingan dan tujuan yang secara logis tidak dapat didamaikan, ketegangan yang berlawanan, persaingan, manuver politik, dan perilaku sebuah permainan.

Meskipun semua perilaku dan sikap ini mungkin menyertai, mempengaruhi, dan memberikan sumber konflik.

Kata seorang pakar politik Inggris Andrew Heywood. "Kalau sudah berurusan dengan power, kekuasaan, maka akan terjadi konflik. Sebab, kekuasaan adalah sumber daya yang terbatas, sementara yang menginginkan banyak.” Benar juga ya..

Kalau kita mau belajar dan memahami tentang proses politik maka bahasa seorang Machiavelli dengan Sutan Syahrir pasti akan beda banget. 

Bahasa Machiavelli itu untuk “mendapatkan sesuatu”, maka semua kekuatan politik saling bersaing; alias menghalalkan segala cara.

Bahasanya Sutan Syahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia: "Politik adalah mempertaruhkan hidup dan dengan itu memenangkan hidup itu sendiri. 

Menurut Sjahrir, dalam politik hidup  dipertaruhkan untuk dimenangkan, bukan untuk disia-siakan atau dihilangkan dengan cara yang gampangan.

Meminjam istilahnya Hannah Arendt,  *politik merupakan seni untuk mengabadikan diri manusia—seni  untuk dikenang oleh sesama warga negara dan dicatat sejarah karena jasa-jasa dan prestasinya dalam membangun kehidupan bersama.  Jasa dan prestasi itu menandai kepedulian terhadap kehidupan bersama yang memberi bobot identitas politikus*.

Ini kiranya yang dalam filsafat politik disebut sebagai *political virtue*, dalam arti moral excellence. 
Dalam berpolitik moral tidak boleh dilupakan. 

Sebab, urusan politik  sejatinya adalah urusan moral. Karena itu, dalam dunia politik muncul istilah-istilah yang berkaitan dengan moral. Misalnya, *kesetiaan, integritas, dan dedikasi atau pengkhianatan*.

Sebelum tulisan ini diakhiri, kita bertanya pada diri sendiri:

Apakah, politik seperti yang diarti bahasakan oleh Sutan Sjahrir ini masih punya tempat hidup di negeri ini?

By: Aad (2401121)

Wednesday, 23 December 2020

Ketika Moral Kembali Hilang Karena Keegoisan Kita.

Artikel ini buat teman-teman yang merayakan hari natal dan tahun baru, penulis mengucapkan : “Selamat merayakan hari natal dan tahun baru....”

Tanpa kita sadari walau hidup sudah berada dalam era modernisasi, namun kita lebih sering hidup bersama pemikiran “nenek moyang” yang kita tidak tahu tentang kebenarannya, bahkan hingga saat ini sebuah stigma lampau tetaplah berkembang ditengah masyarakat yang dianggap “modern”.

Rasis merupakan hal yang sangat tidak kita sukai, tapi mungkin kerap kali kita lakukan. Rasis menjadi sebuah pola pikir yang sudah terpenjara dikalangan manusia dan turun menurun disebarkan.

Melanggar hak orang lain bukan lagi menjadi urusan yang penting untuk dibahas, karena jika sudah berbeda kulit, ras, maupun agama bisa saja menghapus kata adil dan hak antar manusia.
Akan tetapi, dewasa ini kita seakan merasa “lebih tahu” daripada Tuhan dengan melanggar hak orang lain. Sangat disayangkan modernisasi ini semakin membuat kita acuh dan kembali ke pemikiran yang primitif.
Kadang-kadang lucu ketika melihat mayoritas dengan seenaknya menekan minoritas dengan berbagai cara, entah itu dari sisi agama, ras, suku dan lainya. Penting bagi kita untuk memahami segala sesuatu itu dengan baik. Jangan hanya bersuara ketika hak kita diganggu namun tak “beradab” ketika menggangu hak orang lain.
Menurut saya tidak ada yang salah dengan sebuah modernisasi, tapi diri kita dalam menyikapinya lah yang mungkin masih salah.

Modernisasi diharapkan mengubah pola hidup kita dan pikiran kita agar lebih mudah untuk menjalankan sesuatu atau memahami sesuatu, jika kita salah menyikapinya maka kita akan salah langkah untuk diri kita bahkan untuk di sekitar kita akibat keegoisan diri kita. Tak salah ketika moral kembali hilang karena modernitas.
Hiduplah dengan saling merangkul saling menghargai saling menganggap satu sama lain dan mari kita jadikan modernisasi ini sebuah refleksi untuk diri kita untuk tidak saling menyakiti, diskriminasi, rasis dan sifat buruk yang menganggu keberlangsungan hidup ini. Krisis moral setidaknya bisa kita minimalisir.

Sunday, 19 August 2018

Logika Memilih Dengan Rasional.

Semangat betul rasanya untuk melanjutkan postingan-postingan Buzzer Pendukung PASLON.

Dimedia sosial terjadi aksi saling "serang" antara pendukung masing-masing capres/cawapres, saling meng-klaim paslon mereka yang paling hebat.."perang di medsos ini akan semakin panas bulan-bulan yang akan sampai pilpres/pileg April '19.

Banyak orang kecewa setiap setelah PILPRES karena harapannya tidak realistis (terlalu muluk-muluk), walaupun PASLON dukungannya yang terpilih.
Kenapa begitu?
Karena terlalu percaya dengan koar-koar/kampanye yang tidak realistis (muluk-muluk) juga.

Apa iya, seperti semangatnya PS, kemiskinan bisa dihilangkan dari bumi Indonesia? Begitu juga, apa iya negara bisa dibebaskan dari hutang?
Coba ambil napas dalam-dalam, berpikir sedikit dan gunakan rasionalitas (akal sehat). Kalau kita mau sungguh-sungguh berpikir tidak secara emosional, akan ketemu jawabannya bahwa semangat PS itu hanya bisa dicapai di didalam mimpi. Bukan di alam dunia nyata.
Negara Adidaya dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia (USA) saja sampai sekarang tetap berhutang dan hutangnya sangat besar, selain itu rakyat miskin di USA juga cukup banyak.

Walaupun ekonomi negara dan bangsa kita meningkat, kesejahteraan rakyat meningkat, itu bukan berarti semua rakyat akan bisa menikmati.
Yang miskin akan tetap miskin, yang lumayan atau cukup/sedang-sedang saja hidupnya tetap akan sedang-sedang saja, kecuali jika masing-masing golongan tersebut berusaha keras memperbaiki tingkat kesejateraannya.

Sudah biasa dalam kampanye, baik untuk menjadi KADES, Walikota/Bupati, Gubernur, Presiden dan untuk menjadi Anggota Legislatif, menjanjikan yang tidak masuk akal (muluk-muluk).
Buat mereka ditantang untuk menurunkan BULAN dari Langit ke Bumi pun akan dijawab "BISA".

Tinggal kita calon pemilih, rakyat yang akan mereka pimpin (Pemerintah) atau yang akan mereka wakili (Legislatif), apakah kita hanya akan menjadi Pemilih yang dimanfaatkan karena kita hanya menggunakan alam pikiran emosional dalam mempertimbangkan pilihan (pakai perasaan, semangat doang, pokoke, dan lain-lain yang sejenis) atau kita akan menjadi penentu dan tidak sekedar dimanfaatkan karena kita mau mempertimbangkan pilihan dengan rasionalitas (akal sehat).

Calon Pemilih yang bijak yang menggunakan rasionalitas akan menelisik track record (rekam jejak) calon, latar belakang calon (keluarganya, pergaulannya di masyarakat, pendidikannya, aktifitasnya di pemerintah, sosial atau swasta/bisnis).

Dan juga kita perlu menyadari bahwa sistim ketatanegaraan, termasuk sistim perpolitikan (PARPOL) masih belum sehat. PARPOL masih sangat kuat membelenggu walaupun sistim pemerintahan di Indonesia Presidensial. Presiden dalam memerintah seperti berjalan diantara ranjau dan harus berhitung betul terhadap respon PARPOL sebelum bertindak.
Sistim Pemerintahan di Indonesia walaupun Presidensial tapi masih rasa Parlemen.

Parlemen (DPR/DPD/DPRD) selalu siap menerkam jika kepentingan mereka terganggu. PARPOL mementingkan rakyat banyak itu omong kosong, jargon doang. Kepentingan PARPOL termasuk masing-masing anggota legislatif-lah yang sebenarnya mereka utamakan.
Tapi itu sistim yang berlaku sampai saat ini, sehingga mau tidak mau harus diikuti.

Oleh karenanya, jika berharap Presiden terpilih tidak dipengaruhi dan tidak dikuasai oleh kepentingan PARPOL, itu tidak akan bisa kita dapatkan selama sistimnya masih seperti saat ini. Karena sistim pemerintahan dan PARPOL diatur di dalam UU, sementara pembuat UU juga anggota legislatif, perbaikan sistim hanya bisa jika ada niat yang kuat baik dari pemerintah maupun dari legislatif. Satu pihak menolak, tidak akan bisa jalan.

Makanya, jika berharap ideal, presiden tidak dipengaruhi dan tidak dikuasai oleh PARPOL, tidak akan didapat sebelum sistim diperbaiki...😁

Mari memilih dengan akal sehat, cerna isi kampanye masing-masing paslon, simpan egonya dulu 😆, semoga Indonesia kedepannya tambah maju, sejahtera.

Monday, 6 August 2018

73 TAHUN, TRAGEDI HIROSHIMA DAN NAGASAKI.

Dari kisah dan bukti sejarah yang aku lihat di museum Hiroshima Jepang, terbayang betapa kejamnya manusia dalam meraup kekuasaan dan menguasai sumber daya ekonomi dan politik dunia ini sampai melewati batas kemanusiaan.

Monumen di halaman Museum
dok,pribadi
73 tahun tepatnya 6 agustus 1945 dan 9 agustus 1945 puncak dari sejarah kelam peperangan yang terjadi di dunia ini. Serangan bom atom meluluh lantakkan negeri Jepang dan mengakibatkan jatuhnya banyak korban di kedua kota tersebut.

Tidak hanya itu efek yang ditimbulkan setelah serangan tapi yang lebih parah dari peristiwa tersebut adalah  penderitaan berkepanjangan dari generasi ke generasi akibat radiasi kimia yang diturunkan lewat genetika.
kunjungsn murid murid ke museum
dok pribadi
Bom Atom yang jatuh di Kota Hiroshima dan Nagashaki dilakukan oleh pihak sekutu (Amerika, dkk) dengan alasan untuk membungkam angkatan perang kekaisaran Jepang yang terkenal sangat heroik, pantang menyerah dan loyal kepada kaisarnya. Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945.

Perang Dunia II  adalah konflik paling mematikan dalam sejarah manusia. Pertanyaannya mengapa Hiroshima dipilih sebagai target pertama dari serangan bom atom AS ini? Jawabannya karena kota Hiroshima sebagai pusat markas militer Jepang, juga dikenal sebagai kota pelabuhan yang besar di Jepang. Alasan inilah yang membuat kota ini sebagai sasaran strategis. Sedangkan Nagasaki dipilih sebagai pengganti Kyoto sebagai target potensial disamping itu Nagasaki kota industri perkapalan.

Dari Pangkalan Militer di Kepulauan Mariana Utara Filipina, tempat pesawat pengebom lepas landas menuju Jepang. Bom bom tersebut dijatuhkan dari sebuah pesawat B-29 Flying Superfortress bernama Enola Gay (aneh yah namanya...) yang dipiloti oleh Letkol. Paul W. Tibbets, dari sekitar ketinggian 9.450 m (31.000 kaki). Senjata ini meledak pada pukul 08.15 pagi (waktu Jepang) ketika dia mencapai ketinggian 550 meter.  

Sejarah mencatat, inilah pemusnahan massal pertama. Dan, inilah pula ikon perang massa datang jika lomba senjata nuklir tak juga dihentikan. Pemahaman terhadap benda terkecil namun mematikan ini dimulai lewat penelitian Albert Einstein (1905), Ernst Rutherford (1911), dan Niels Bohr (1913). 

Sementara sebagai bom, dunia mengenalnya lewat proyek berkode Manhattan Project Atas perintah Presiden AS Frank D. Roosevelt, proyek rahasia senilai dua miliar dollar ini katanya sengaja diupayakan untuk mengakhiri Perang Dunia II sekaligus Perang Pasifik.

Jam menunjukkan tepat pukul pukul 08.15, tanggal 6 Agustus 1945. Letkol Paul Warfield Tibbets Jr (30) duduk di kursi pilot pesawat pengebom B-29.


Lalu dalam sekejap…



Bom bom atom atau yang juga disebut dengan ‘the little boy’ muntah dari perut pesawat yang dikemudikannya, tepat di atas kota Hiroshima. Sebuah kota berjarak 43 mil arah barat daya Tokyo. Dan cendawan raksasa kematian pun terbentuk.




Sontak penduduk kota itu tidak bisa menyelamatkan diri. Mimpi buruk yang selama ini hanya menjadi isu, ternyata menjadi kenyataan. Lawan mereka, Amerika, telah berhasil membuat bom yang mematikan secara massal. Benar-benar di luar dugaan, dalam waktu sekejap, 140 ribu nyawa meninggal begitu saja, sia-sia.



Barang barang yang di simpan di musium ini telah memberikan kesaksian bisu dari sejarah yang sangat kelam dan tragis 73 tahun yang lalu. 


pakaian korban bom nuklir hiroshima
dok pribadi

Dan sebagai bangsa Indonesia, kita hanya dapat mengambil hikmahnya, sebab  dari peristiwa tragis ini juga lah telah mempengaruhi proses kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Jikalau hal itu tidak terjadi, Jepang tidak akan pernah menyerah kepada sekutu dan Indonesia tetap terjajah.

Semua yang terjadi di dunia ini tak terlepas dari ketentuan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala jua..

Saturday, 13 January 2018

Wujudkan Pilkada dan Pilpres Harapan Masyarakat Meraih Sejahtera.

Persoalan politik sampai SARA beberapa waktu yang lalu 2016 telah membuat suasana sosial budaya yang tidak sehat bagi warga di negara tercinta ini.
Isu-isu tersebut  tak lain sebagai salah satu gerakan yang  bersifat identitas dalam menentukan arah politik dan memilih pemimpin.
Kita harus melihat substansi memilih seorang pemimpin. Dia harus bisa jadi panutan dan menjadi pemimpin semua golongan masyarakat.
Di negara demokrasi ini, warga masyarakat bebas memilih, tanpa harus dipengaruhi atau mempengaruhi orang lain. Namun, belakangan seakan-akan bangsa mulai tercerai-berai karena ceramah-ceramah politisi dan kelompok tertentu. Padahal, Indonesia mempunyai budaya dan pandangan sendiri dalam memilih pemimpin. Pemimpin yang mereka inginkan itu idealnya harus berjiwa melayani.
Umar bin al-Khattab pernah berucap :
" Pemimpin kuat berkuasa mengendalikan diri dan pegawai-pegawainya. Pemimpin lemah berkuasa mengendalikan diri, tapi membiarkan pegawai bertindak seenaknya ".
Pemimpin bertindak seenaknya. Ini sangat berbahaya. Ada lagi jenis penguasa yang membiarkan diri dan para pegawai bertindak seenaknya. Jenis pemimpin terakhir ini  yang paling berbahaya. Dia bisa memusnahkan secara keseluruhan tata sosial budaya masyarakat.
Masyarakat sudah seharusnya cerdas dalam menentukan pemimpinnya. Mereka yang diberikan amanah akan menjadi wakil rakyat dan penentu nasib masyarakat dan bangsa masa depan. Jika masyarakat salah menentukan pemimpin karena hanya mengekor, apalagi karena diberi materi, masa depan bangsa dan negara itu terancam rusak dan hancur. 
Isu SARA ( Suku, Agama, Ras, Aliran ) yang sudah disepakati  sering mengalahkan isu program kerja calon kepala daerah.
Bangsa ini sudah 71 tahun menjalani kemerdekaan. Bila hal ini masih diributkan, maka sama saja dengan kemunduran.
Isu SARA atau hal-hal negatif yang bersumber dari “ konflik “ perbedaan aliran dalam Agama Islam dan perbedaan Agama Islam dengan Agama lain pada akhirnya dapat dipergunakan dengan baik oleh kalangan anti Islam yang berstandar ganda didalam kesempatan waktu hajatan pilkada dan bisa berlanjut pada hajatan pilpres nanti, karena suasana kompetisi dan fanatisme  masyarakat pemilih rentan dimanfaatkan kalangan tertentu. 

Managemen Konflik yang dikembangkan Orde Baru pada waktu dulu ternyata tidak tenggelam bersama masa Orde Baru akan tetapi secara masif dan sistematis secara estafet dilanjutkan oleh kekuatan anti Islam dari kalangan Liberalis, Demokratis Individualistis Sekuler yang ingin memisahkan Islam dari kehidupan bernegara dan mengganti tata nilai Pancasila tersebut dengan Slogan Liberty, Equality , Fraternity melalui pendekatan Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia. 
Hal ini tentu saja bertentangan dengan deklarasi sumpah pemuda yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928 serta TAP MPR Nomor II Tahun 1978 tentang  pegangan hidup Bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, sehingga segala bentuk perbedaan identitas yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia ( Suku, Ras, Agama dan Antar
Golongan ) dilebur dan dibentuk menjadi satu pandangan dalam hidup
berbangsa / bermasyarakat dan bernegara.

Penyatuan pandangan/pegangan hidup
inilah yang kemudian membentuk pola pikir “mindset” bangsa Indonesia menjadi
satu, searah, dalam melihat, menilai segala permasalahan dalam berbangsa dan bernegara, yaitu berdasarkan Pancasila. 
Indonesia  butuh pemimpin wilayah yang tidak hanya punya rasa berkeadilan, tetapi butuh pemimpin yang tegas dalam menegakkan aturan aturan  yang sudah disepakati di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah , Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dalam menjalankan pemerintahan nya.
Masyarakat sudah memahami bahwa sistem pemerintahan di Indonesia itu menggunakan sistem sentralisasi dan desentralisasi dan bisa kita baca perbedaan pemerintah pusat dan daerah pada UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Jadi setiap warga negara yang berniat untuk jadi pemimpin di daerah dan pusat, tentu saja memiliki kompetensi dalam mengelola pemerintahan dapat mengikuti prosedur , pedoman dan tata cara menjalankan pemerintahan sesuai undang-undang.
Jadi pada prinsipnya dalam masa Pilkada 2018 ini masyarakat menyadari hak  dan kewajiban nya dalam memilih dan dipilih tentu saja  memenuhi asas
LUBER JURDIL

Menurut hemat penulis , Luber Jurdil
memiliki arti :
a. Langsung
Dalam hal ini langsung berarti pemilih memilih secara langsung tanpa diwakilkan kepada siapapun pada saat pemilu tersebut dilaksanakan. 
b. Umum 
Umum berarti pemilih yang telah memenuhi syarat usia ( yang telah berumur 17 tahun ke atas) dapat menggunakan hak suaranya tanpa adanya pengecualian yaitu hak aktif dan hak pasif. 
c. Bebas 
Bebas berarti pemilih memiliki kebebasan untuk menggunakan hak suaranya sesuai hati nuraninya tanpa adanya paksaan dari pihak manapun 
d. Rahasia 
Pemilih pada saat memilih dan menggunakan hak suaranya dipastikan tidak akan diketahui oleh orang lain atas apa yang telah dipilihnya. 
e. Jujur 
Pada saat pelaksanaan pemilu, pemilih maupun panitia pemilu serta semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu harus bersikap jujur sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan tidak ada kecurangan yang dilakukan. 

f. Adil 
Seluruh pemilih dan pihak yang terlibat mendapatkan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, maupun tingkat sosial.
Kita berharap pilkada dan pilpres 2018 & 2019 ini mampu memberikan harapan Masyarakat Meraih Sejahtera lahir dan batin  yang diberkahi Allah SWT.
Buat yang mencalonkan diri jadi pemimpin di daerahnya , niatkan  :
Jadi Kepala Daerah itu dengan niat
untuk mencukupkan sebagian ibadah dalam agamamu. Artinya bila agama yang menjadi rujukannya maka sudah pasti dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang ada takkan pernah tanggung-tanggung untuk senantiasa memimpin dengan kesungguhan hati yang mendalam.

Keberkahan Allah tentu akan selalu disanding dengan kebaikan dan kebahagiaan setiap saatnya.. insyaallah.

Monday, 27 February 2017

Memilih Mereka yang Punya Integritas.

Bicara soal integritas di era pilkada 2017 ini sangat penting untuk kita pahami didalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Berkaitan dengan hal ini, didalam hati seluruh masyarakat  di Indonesia sangat ingin memilih seseorang pemimpin yang punya integritas untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupan berbangsa.

Jack Welch, dalam bukunya yang berjudul “Winning” dikatakan bahwa, integritas  adalah sepatah kata yang kabur (tidak jelas). Orang-orang yang memiliki integritas mengatakan kebenaran, dan orang-orang itu memegang kata-kata mereka. Mereka bertanggung-jawab atas tindakan-tindakan mereka di masa lalu, mengakui  kesalahan mereka dan mengoreksinya. Mereka mengetahui hukum yang berlaku dalam negara mereka, industri mereka dan perusahaan mereka – baik yang  tersurat maupun yang tersirat – dan mentaatinya. Mereka bermain untuk menang  secara benar (bersih), sesuai  peraturan yang berlaku.

Berbagai survei dan studi  kasus telah mengidentifikasikan bahwa, integritas atau kejujuran sebagai suatu  karakteristik pribadi yang paling dihasrati dalam diri seorang pemimpin yang baik.
Integritas itu sangat dibutuhkan oleh semua orang, tak hanya pemimpin namun juga yang dipimpin. Orang-orang menginginkan jaminan bahwa pemimpin mereka dapat dipercaya jika mereka harus menjadi pengikut-pengikutnya. Mereka merasa yakin bahwa sang pemimpin memperhatikan kepentingan setiap anggota tim dan sang pemimpin harus menaruh kepercayaan bahwa para anggota timnya melakukan tugas tanggung-jawab mereka.

Pemimpin dan yang dipimpin sama-sama ingin mengetahui bahwa mereka akan menepati janji-janjinya dan tidak pernah luntur dalam komitmennya. Orang yang hidup dengan integritas tidak akan mau dan mampu untuk mematahkan kepercayaan dari mereka yang menaruh kepercayaan kepada dirinya. Mereka senantiasa memilih yang benar dan berpihak kepada kebenaran. Ini adalah tanda dari integritas seseorang.

Mengatakan kebenaran secara bertanggung jawab, bahkan ketika merasa tidak enak untuk mengatakannya.
Kebenaran itu tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr.

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku:

1) Mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka,
2) Beliau memerintah agar melihat pada orang dibawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada diatasku,
3) Beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar,
4) Beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun,
5) Beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit,
6) Beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat menyampaikan risalah di jalan Allah,
7) Beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan contoh mengenai hadits ini “Berkata yang benar walaupun pahit” yaitu dalam hal orang yang biasa berkomentar sinis atau tidak suka terhadap kebenaran yang terjadi atau belum dan sudah terjadi.

Integritas adalah kualitas yang mendasar dan harus ada dalam diri seorang pemimpin. Dalam sebuah buku “Jonathan Lamb” yang berjudul, Integrity, Leading with God Watching, (Buku ini diterbitkan oleh Perkantas 2008. Bukunya Softcover, 246 halaman). Jonathan Lamb menulis, bahwa panggilan hidup untuk berintegritas tidak hanya dituntut oleh Allah.
Di semua lapisan masyarakat ada seruan yang kuat agar para pemimpin baik di bidang usaha, politik atau agama, hidup berintergitas.



Betapa  pentingnya hidup berintegritas, Lamb menjelaskan apa wujud dari integritas. Menurutnya ada tiga ciri integritas:

1. Ketulusan: Motivasi yang murni
2. Konsistensi: Menjalani hidup sebagai suatu keseluruhan
3. Keandalan: Mencerminkan ke tundukan kepada kekuasaan  Allah.

Dengan memakai gambaran Nabi Muhammad  Shalallahu Alaihi Wassalam, saya sebagai  ummat  islam bisa mencontoh beliau hidup sebagai seseorang yang berintegritas. Bagi saya, nabi sebagai pemimpin yang berintegritas sangat tepat  dan akan selalu menjadi panutan.
Kita sering di berikan penjelasan oleh para guru dan ulama tentang  sifat dan karakter Nabiyullah Shalallahu Alaihi Wassalam, seperti;

Sidik, Sidik berarti benar. Benar dalam perkataan maupun perbuatan. Kadang-kadang kita terlalu banyak berkata-kata tanpa hasil yang sejalan. Banyak kata yang dilontarkan, bahkan kadang-kadang berbohong hanya untuk mendapat pujian saja.

Amanah, Amanah memiliki arti benar-benar dapat dipercaya. Masih ingatkah mengapa Rasulullah dijuluki gelar ‘Al–Amin’? Nabi Muhammad berhak mendapatkan gelar mulia itu karena beliau selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya jika ada urusan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap kata yang diucapkan Nabi Muhammad adalah kejujuran. Belajar dari sifat Nabi tidak semudah teori yang ada.
Di zaman sekarang, nilai amanah ini semakin luntur. Banyak sekali kasus korupsi dan cacat moral di tempat bekerja atau tempat lainnya. Karakter pemimpin saat ini banyak yang dianggap tak layak, tetapi haus akan jabatan membuat orang tak peduli untuk saling sikut.

Fatanah, Fatanah berarti cerdas. Nabi Muhammad adalah suri teladan yang luar biasa cerdas. Cerdas bukan berarti sesuatu yang harus sempurna di bidang akademik saja, melainkan juga berpikir terbuka dan berbeda. Artinya, kita harus aktif dan memandang sesuatu dari segi kebaikan.

Tablig. Tablig yang berarti menyampaikan.  Sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Karakter pemimpin yang mencontoh sifat Nabi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita capai, mulailah dari diri sendiri karena dalam suatu keluarga apalagi berbangsa dan bernegara pasti ada selisih paham.

Jika kita mengalami hal ini, utarakanlah hal ini. Bersikaplah saling terbuka. Jangan memfitnah, menyebar kebencian atau berghibah. Berbeda pendapat itu rahmat karena itu jangan saling membenci. Lalu bagaimana kita bisa diam terhadap para penyeru dan penebar pemikiran sesat yang telah ditokohkan oleh sebagian umat Islam, padahal kesesatan mereka telah meracuni hati dan pikiran masyarakat sampai-sampai kebenaran dianggap sebagai kebatilan dan kebatilan justru dianggap benar?

Siapkah seseorang yang kita pilih itu melanjutkan karakter pemimpin seperti ini? Ini pasti akan terasa sangat sulit untuk dilakukan jika tidak memiliki tekad dan niat yang bulat dalam hati dan pikirannya.

Bahwa panggilan hidup berintegritas adalah hidup yang menunjukkan akuntabilitas, menunjukkan tanggung jawab dan rasa takut kepada Allah, termasuk dalam mengerjakan perkara-perkara kecil, terkait  integritas dalam  melayani kepentingan masyarakat yang membutuhkannya.

Kepemimpinan dalam hal menggunakan otoritas, membangun komunitas, menangani kegagalan dan pengelolaan keuangan. Serta tantangan dalam mengendalikan  kelemahan dan kekuasaan, status dan ambisi yang sejati, keangkuhan dan panggilan untuk  berkorban.

Integritas sebagai cara hidup. Sangat  penting untuk memahami  tentang bagaimana hidup dengan rasa puas, hidup secara konsisten dan menjalani kehidupan secara autentik. 


Berpijak dari kesadaran ini, maka perkenankanlah kami memberi panggilan untuk memilih  mereka yang punya integritas, karena kami menyukai kebenaran dan kebaikan yang ada pada mereka sebagaimana kami menyukainya ada pada diri kami. Terima kasih.


By: EM


Monday, 12 December 2016

Antara Jadi Cerdas dan Tak Waras

“ Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, slogan yang sudah sangat lengket di kepala kita semua, hasilnya bangsa kita cerdas-cerdas. buktinya pelajar Indonesia menjadi juara science olympiade dunia dan banyak lagi prestasi yang lainnya. 

Berjalannya waktu ternyata cerdas bisa melupakan kewarasan, jadi mungkin perlu dipertimbangkan apa perlu kita ganti slogan ini menjadi ““mewaraskan kehidupan bangsa”..cerdas itu lebih tepat di sebut sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan yang muncul yang sebelumnya belum pernah bersentuhan dengan hal tersebut. Jadi cerdas itu sifat bawaan tanpa belajar..negatifnya orang cerdas ini mampu "mengarang bebas" mempengaruhi orang lain jadi waras dan tidak waras.
Kalau kita kilas balik maksud dari cerdas itu dalam arti "tau aja ngak cukup tapi butuh mengerti juga ( logika ) artinya mau pakai otak kiri apa kanan tergantung . lalu maksud waras itu bisa bedain mana yang benar dan salah. 

Orang-orang waras sudah merampas kewarasan pada orang-orang yang mereka jadikan  tidak waras. Jadi siapa yang waras, siapa yang tidak waras? Yang mana yang pelihara ke warasan nya, yang mana yang membuang kewarasan ?

Orang-orang hidup yang menganggap dirinya waras, apakah memang waras? Atau mungkin sebenarnya orang-orang yang dianggap tidak waras oleh orang-orang yang menganggap dirinya waraslah yang sebenarnya masih waras, karena mereka bebas. Bebas. ..Gak ikuti peraturan kewarasan yang ditetapkan oleh orang waras. Bebas. Memiliki tubuh, pikiran dan jiwa yang bebas. Gak terpasung sama trend/ isu terbaru, seharusnya begini, seharusnya begitu, gak terikat dengan pemikiran-pemikiran umum tentang tata cara hidup, kalau mereka gak mau ya gak mau..gituu dech.

Orang yang dianggap tidak waras oleh orang-orang yang mengaku dirinya waras itu pemberani. Gak mau ikut-ikutan kelakuan orang yang dianggap waras agar dapat dianggap waras. Mereka bukan pengecut karena mereka berani menyatakan dirinya, bukan seperti calon orang waras yang milih jadi penurut atau, jadi pengikut aja, orang-orang kayak gini dia juga harus gini. Gini udah gak zaman, terus ganti jadi gitu ya ngikut jadi gitu. Biar sama, biar waras katanya. Kata siapa ???

Orang yang dianggap tidak waras oleh orang-orang yang mengaku dirinya waras itu demokratis. Berani berdiri diatas pemikiran sendiri. Memiliki hidupnya seutuhnya, pemikiran seutuhnya, jiwanya utuh.

Bukan seperti zombi, mayat hidup, seperti orang-orang yang melabeli dirinya waras tapi hidupnya dimiliki orang lain, kemauan orang lain. Entah dia ingin dibilang mayat hidup, robot, atau boneka teletubie? Entah apa dia masih memiliki hidupnya sendiri? Menghidupi hidupnya. Atau hanya hidup dalam persepsi orang lain?

Banyak orang yang dipakaikan label tidak waras disekitar kita. Mereka toh gak peduli, persetan apa kata orang waras. Orang waras itu yang malah kebanyakan sakit jiwanya, pikirannya, hatinya.

Coba lihat di sekeliling kita;

Oknum aparatur Kepolisian, TNI, Kejaksaan, Hakim, Kepala daerah, tokoh masyarakat, politisi bahkan pendidik yang mengkonsumsi narkoba.

Ada oknum pejabat negara dan lokal  banyak  yang cukup cerdas dalam “mengumpulkan” uang negara masuk dompet pribadi. 

Bertolak dari sejarah bangsa di Indonesia, bahwa sistim kepemimpinan didalam masyarakat sudah ada peran dari masing masing posisinya. Penulis dalam hal ini mengambil contoh  di Minangkabau . Ungkapan filosofis "tigo tungku sajarangan" memiliki makna mendalam membentuk peradaban kepemimpinan. Pilar kepemimpinan itu ada tiga : Alim Ulama ( Pemuka ), Cadiak pandai   (Teknokrat) dan Ninik Mamak ( eksekutif  ) mereka ini menjalankan posisinya masing masing secara independen agar jernih melihat persoalan masyarakat ( ini sangat cerdas dan waras ). Namun yang kita lihat saat ini, justru Ulama / pemuka agama yang katanya “cerdas” masuk jadi anggota partai politik atau menjadi pendukung/ simpatisan  calon kepala daerah tertentu. waah ..Ini “cukup cerdas tapi tak waras”.. seharusnya tokoh agama itu menjadi pagar keimanan dan pembentukan moral umatnya. Bukan "berpihak ke satu golongan". Kita bisa tebak yang terjadi jika tidak netral pada saat ada persoalan dalam masyarakat , kaum ini tak jernih lagi menyelesaikan atau memilah masalah masyarakat justru mengaburkan masalah kenapa ??..karena etika moral  makin tak waras.

Bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam pada saat kondisi masyarakat yang tidak nyaman, peran dari seorang tokoh agama dan masyarakat ini harusnya bijak dalam menghimbau dan menasehati pengikutnya untuk bersikap adil, toleran, jujur, saling peduli, memahami, menghormati, mencintai, dan saling menolong di antara sesama manusia. 

Sejalan dengan itu, peran sentral tokoh agama semestinya berperan penting mengajarkan budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Dan menumbuhkan budaya keteladanan itu harus diwujudkan dalam perilaku para pemimpin baik formal maupun informal.

Emang sih, kita ini bangsa yang besar tapi ternyata menjadi sulit besar  ..Kenapa? Karena   secara historis pernah “dididik” oleh bangsa-bangsa cerdas yang tak waras (warisan pikiran kotor kali ya?!)  Bukankah bangsa Belanda, Inggris, Prancis, Jepang, Spanyol, Portugis adalah bangsa yang  cerdas?  Kecerdasan yang diakui oleh bangsa di dunia plus kebiadabannya. 

Sebaiknya jangan dicontoh  oleh generasi bangsa  saat ini !!!!!.

Para pemimpin  dan tokoh masyarakat lah yang menjadi penentu warasnya bangsa ini.  Dalam dimensi kebangsaan yang pluralistis ( suku bangsa yang beragam ) ini sebaiknya mulai dari presiden, dpr, tokoh politik  sampai birokrasi terbawah wajib hukumnya melakukan "revolusi mental dan moral" ( minjem istilah pak dhe..)  mereka agar lebih waras dan cerdas.

Untuk menumbuhkan suasana sosial dan politik yang berpaham demokrasi  dan bercirikan keterbukaan, tanggung jawab, tanggap akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat  yang memihak kepada kebenaran bukan pembenaran, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa.

Etika moral semua elemen bangsa harus diwujudkan dalam bentuk sikap yang ber tata karama dalam perilaku sosial politik dan agama  yang toleran ( hargai persaudaraan) , tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan berbagai tindakan yang tidak terpuji lainnya. Mohon untuk  kita jauhi semua itu.

Saatnya bangsa ini di waras kan melalui pengajaran dan nasehat  dari semua orang yang di tokoh kan oleh masyarakat, karena bangsa yang waras itu lebih baik dari bangsa yang cerdas.

Kewarasan identik dengan integritas dan kekuatan karakter. Mari kita semua mulai dari diri sendiri, keluarga kembali kepada pembangunan kewarasan menuju kewarasan  kolektif agar menjadi  bangsa yang lebih baik dan tak kalah bermoralnya dari bangsa yang lebih kecil.

Ingat baik baik... Indonesia adalah bangsa yang besar, jauh lebih besar dari negara asean lainnya. Jangan terpatri dalam pikiran bangsa lain bahwa kita besar menjadi terlihat kecil karena moralitasnya masih “kecil”.

Sebaliknya mereka bangsa yang kecil tapi terlihat lebih “besar” karena moralitasnya lebih baik. Pengajaran  yang mewaraskan dan mencerdaskan harus  jadi terpadu. Tak dapat dibantah proses pengajaranlah  yang bisa mewaraskan bangsa.

Bangsa yang waras adalah bangsa yang cerdas namun bangsa yang cerdas belum tentu waras.


Maaf bila ada yang kurang berkenan, tulisan ini semata mata untuk saling mengingatkan ..

by admin.2016

Saturday, 12 December 2015

Etika, sudah mulai lapuk di negeri ini ...

Setiap orang di dunia ini  merindukan rumah, tempat dimana mereka akan pulang, tempat dimana orang-orang yang mereka sayangi berada. Pada hakikatnya, rumah bukan semata tempat  yang berbentuk bangunan segi empat atau bertingkat - tingkat. 

Tapi  rumah yang kita rindu kan itu sebuah rumah yang dibangun dengan cinta dan kasih sayang, juga rasa saling menghormati dan menghargai serta saling bahu membahu untuk semua kepentingan hidup bersama, apakah di rumah itu berdiam sahabat, saudara, kekasih, suami, istri, anak, adik, kakak, maupun orang tua kita sendiri. Rumah yang kita rindukan itu sebuah tempat yang telah memberi contoh pengajaran tata cara ber etika dan mengajarkan nilai luhur kekeluargaan.  Etika yang  merupakan pedoman cara hidup yang benar dilihat dari sudut pandang budaya, susila dan agama lalu  terintegrasi  yang ujungnya bermuara kepada bentuk  jati diri penghuninya. Etika ini biasa disebut juga adat, kebiasaan atau kesepakatan bersama sebagai  pedoman untuk diterapkan dan dipatuhi semua anggota keluarga  tentang apa yang dinilai baik dan buruk  di masyarakat sekitarnya.

Contoh etika yang umum kita perhatikan di dalam rumah seperti, mengucap salam, merendahkan suara saat berbicara dengan orang tua, meminta maaf jika lakukan kesalahan dan lain sebagainya. Kesemua aktifitas yang menjadi kebiasaan baik ini  berlaku dari generasi ke generasi menjadi budaya sebuah kelompok masyarakat yang berkembang dari rumah yang kita rindukan selama ini menjadi tradisi  yang selalu di informasikan atau diajarkan secara berkelanjutan.

from ; academyofautomotiveexcellence,com
Jika rumah kita analogikan sebagai negara. Dalam beberapa dekade ini kita melihat dan merasakan kondisi kekeluargaan telah mengalami moral hazard seperti  sikap acuh tak acuh terhadap nasib orang lain yang notabene adalah saudaranya sendiri, mungkin kita bisa menyebutkan bahwa rasa kekeluargaan yang ada di negara kita ini mulai ter gerus dengan nilai budaya yang tidak lagi mencerminkan kebersamaan, terlihat dari cara kita menghargai nilai etika dan kesepakatan yang tidak tertulis itu sebagai pedoman yang harus dipatuhi bersama tentang apa yang dinilai baik atau buruk dari sisi nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum. Oleh karena itulah penulis merasa perlu untuk menganalogikan antara negara dengan sebuah rumah tangga dalam arti kita lebih bisa melihat secara sederhana apa yang sedang terjadi dalam kehidupan bernegara saat ini.

Kita semua paham, bahwa di dalam keluarga itu ada ayah, ibu, dan anak. Kemudian ada juga keluarga lain yang juga tercatat sebagai anggota keluarga. Tugas-tugasnya pun secara tertulis atau tidak tertulis sudah sangat jelas. Seperti misalnya ayah bertugas memberikan nafkah keluarga, memberi rasa aman, dan memberikan rasa keadilan terhadap semua anggota keluarga. Kemudian ibu bertugas untuk mengelola jalannya rumah tangga, menjadi wakil dari ayah ketika beliau sedang tidak ada di rumah, dan menjadi pelengkap kekurangan ayah dalam ke pemimpinan nya. 

Sedangkan anak, sebelum ia berkeluarga, berkewajiban untuk patuh terhadap peraturan yang ada di rumah tersebut, menjadi kebanggaan keluarga, dan juga berhak mendapatkan perlindungan dari ayah dan ibu mereka. Secara sederhananya dari semua anggota keluarga tersebut harus saling menjaga dan melindungi. Jika satu anggota sakit maka sakitlah anggota keluarga yang lain begitu juga sebaliknya. Idealnya seperti itu.

Dalam kehidupan sebuah keluarga, akan sangat malu kalau mendapati salah satu dari anggota keluarganya yang tersangkut masalah berperilaku buruk  seperti “mencuri, menipu orang atau menyakiti orang lain“. Karena orang yang ada di dalam keluarga tersebut pasti akan berfikir beberapa kali tentang nama baik keluarganya ketika ia akan melakukan hal-hal yang buruk dan tidak lazim di dalam masyarakat.Begitu juga dalam kehidupan bernegara. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat itu berfungsi selayaknya bagai orang tua ( Ayah dan Ibu ) secara normatif harus mampu melindungi, mengayomi dan menjamin rakyatnya bisa hidup adil sejahtera lahir dan batinnya.  

Tak pernah terbayangkan ,ketika masalahnya kemudian muncul ketika  Dewan Perwakilan Rakyatnya (Ibu) tidak sepenuh hati untuk memenuhi tugas dan janjinya. Dengan kata lain acuh terhadap kepentingan rakyatnya, menganggap bahwa rakyat harus bisa menyelesaikan segala kepentingannya  sendiri dengan berbagai macam dalih, lalu melepaskan tanggung jawabnya dan sibuk mencari kesenangan pribadi dengan mencampuri urusan yang tidak sepantasnya di lakukan dalam arti menyimpang dari kesepakatan tugas dan tanggung jawabnya. 

Hal ini sungguh sangat melukai hati rakyat yang berharap kepada mereka. Malah yang lebih parahnya adalah jika oknum Dewan ini bertindak diluar batas norma kepatutan dan kepantasan yang bisa memberi kesengsaraan pada rakyat dan negara di kemudian hari. Dapat dikatakan  sebagai sikap seseorang yang tidak berempati kepada rakyat yang telah ikhlas memberi kan amanah yang suci namun dibalas dengan sikap tak peduli dalam arti hak yang diberikan rakyat di terlantar kan oleh oknum tadi di Dewan Perwakilan Rakyat yang mereka jadikan daulah orang yang dihormati nya. 

Karena seperti kita ketahui bahwa jika orang tuanya saja sudah tidak peduli maka siapa lagi yang diharapkan untuk mengurusi anak negeri ( rakyat ). Kita semua tak akan rela bila di kemudian hari terlantar dan menjadi budak di negeri sendiri sampai kiamat mungkin.. Kita semua, sebagai rakyat di negeri ini menggugat etika kalian semua itu ada dimana ???.yang seharusnya menjadi pengawal moral bangsa yang dapat dijadikan panutan untuk menghargai budaya bangsa yang luhur itu .

Kita berhak untuk bertanya kepada mereka ini .."Masih adakah etika dan rasa malu itu di hati mu wahai senator ??? atau etika itu sudah mulai lapuk di negeri ini...".


Sunday, 29 November 2015

Peduli kepada Negara itu seperti apa ?

Peduli itu satu kata banyak makna, karena jika aku tanya kepada beberapa orang maka jawabannya sangat ber variasi ..

Lalu aku bertanya ,apakah kita di dalam memajukan kehidupan ekonomi masyarakat di negara ini telah menggunakan produk bangsa sendiri ???  jawabannya pun bervariasi sesuai kebutuhannya juga .

Dalam beberapa hari ini aku mendengar dan membaca di media massa baik itu online, televisi atau cetak yang meluas secara nasional bahwa pemerintah kita akan membeli helikopter Agusta Westland AW-101 sebagai pengganti Super Puma yang di produksi PTDI pada 1980.

AW-101. youtube.com

Dari berita ini , menimbulkan polemik  masyarakat yang peduli terhadap produk dalam negeri  yang menolak kebijakan pembelian helikopter ini, dengan mempertimbangkan bahwa Indonesia  melalui PT.Dirgantara Indonesia mampu memproduksi helikopter pengganti yang baru. 


BUMN yang telah berpengalaman memproduksi pesawat dan helikopter  dan sudah diakui dunia internasional. Alangkah eloknya jika pemerintah memberi contoh kepada masyarakat untuk mencintai produk dalam negerinya sendiri. Karena kepedulian menggunakan produk bangsa sendiri itu tidak se kedar slogan kosong dan terkesan munafik . sudah saatnya pemerintah dan lembaga lainnya secara bersama sama memajukan hasil produk dalam negeri tanpa mencari kelemahan sebagai alasan membeli barang import. 

Secara psikologis , penggunaan produk dalam negeri tentunya merupakan kepedulian, dan komitmen slogan revolusi mental yang selalu di kobarkan ke masyarakat. Jika pemegang amanah rakyat menegaskan produk dalam negeri sebuah harga mati untuk digunakan, maka masyarakat pun akan mencontoh dan bangga menggunakannya. Mengapa kita tidak bangga dengan produk anak bangsa sendiri ?, sedangkan bangsa asing  bangga menggunakan produk indonesia " jawabannya ada dalam diri kita sendiri.

Jadi ? kalau kita baca Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat arti peduli sebagai mengindahkan, menghiraukan, dan memperhatikan. berarti jika pemerintah c.q bapak presiden kita telah peduli akan sesuatu, maka  ia akan memperhatikan sesuatu dan mulai memikirkan nya. ia tidak akan ambil sikap tak acuh atas sesuatu pendapat atau usulan serta kritik warganya . Pertanyaannya apakah selamanya demikian ??? kita sangat berharap semoga segera terwujud kesejahteraan bangsa ini  karena ketergantungan nilai ekonomi untuk pembelian barang import yang selama ini berlangsung, telah membuat  kedaulatan ekonomi rakyat menjadi hilang ditangan kita.

Maka pertanyaan tadi  terjawab sudah bahwa masyarakat memiliki kebutuhan dan passion mereka masing-masing. semisal, ada masyarakat yang lebih menganggap penting sisi teknologi, maka ia dikatakan peduli ketika ia bisa bertanggung jawab terhadap kompetensi ahli pembuat pesawat nya. ada juga masyarakat yang lebih tertarik pada  sisi kesejahteraan ekonomi, maka kepedulian nya dapat dilihat dari bagaimana ia ber kontribusi membangun kejayaan negaranya lewat pengembangan industri dalam negeri. di sisi lain ada juga mereka yang ter fokus pada kewibawaan pemerintah dan memikirkan isu yang beredar di masyarakat, maka kepedulian mereka akan nampak dari perubahan yang mereka lakukan lewat partai  yang mereka tunggangi.

Jadi , cara pandang dari peduli itu bukan permasalahan yang sifatnya langsung. peduli adalah konsep yang sangat personal. tiap orang memiliki caranya untuk peduli. Maka dari itu, siapa pun kita, marilah kita terus ber kontribusi dalam membangun Indonesia dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, tentunya dengan cara dan methoda kita yang beragam. Semuanya harus bergerak untuk mengisi kemerdekaan dan memajukan bangsa ini.

Masih peduli kah kita dengan bangsa ini ? Tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Seberapa besar  sumbangsih kita untuk ke maslahat an masyarakat Indonesia tercinta. 

Indonesia Jaya, Masyarakat pun sejahtera. Insya allah.


Monday, 10 August 2015

Mencari Rektor yang Berkarya.

Proses pemilihan atau pencarian pemimpin perguruan tinggi, rektor sudah dimulai dikampusku. Setiap pihak berusaha menyajikan konsep pemilihan dan pencarian, aku berharap pemilihan ini harus objektif dan tidak menggunakan konsep pilkada (pilihan kepala daerah yang menggunakan mekanisme one-man/woman one vote). Akibatnya rektor terpilih dapat bersikap seperti bupati dalam era desentralisasi di Indonesia lho, lalu menciptakan perangkat yang bisa memberikan zona nyaman bagi diri calon tersebut.
Pemerintah berharap pemimpin tersebut mampu dan loyal dalam menjalankan berbagai kebijakan pemerintah nantinya. 

Loyalitas kepada pemerintah akan jadi kriteria dominan dalam mekanisme ini. Masyarakat kampus  berharap pemimpin tersebut nanti mampu memberi nilai manfaat kampusnya dan mengapresiasi  kesejahteraan masyarakat kampus. Semua ini harusnya tak ada masalah apabila pemerintah dan perguruan tinggi punya tujuan dan kerangka berpikir yang sama.

Siapa yang kita inginkan ?? mau cari yang loyalis atau populis ?
Sosok yang kita cari itu seyogianya bukanlah sekedar sosok yang loyalis atau populis, melainkan pemimpin yang berkarya, bukan berkarier. Karya yang diharapkan dari seorang pemimpin kampus? menjadikan kampus sebagai kekuatan moral yang mampu meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dan bangsa melalui kiprahnya.

Bagaimana cara memilih atau mencari pemimpin kampus ? Sebaiknya kita mencari pemimpin bukan memilih pemimpin. Sangat berbeda antara memilih dan mencari lho. Memilih artinya menetapkan dari calon yang ada atau tersedia atau mencalonkan diri atau dicalonkan, sedangkan “mencari “ artinya menemukan calon yang sesuai untuk tugas yang akan diemban. Proses yang dilakukan kampus adalah pencarian, bukan pemilihan, rektor.
Rektor atau direktur perguruan tinggi bukan pekerjaan atau jabatan karier tetapi penugasan atau jabatan yang dipercayakan.

Tugas itu dipercayakan kepada yang mampu mengembannya. Mampu dalam arti adil dalam memperlakukan dan menetapkan aturan sesama insan akademik serta mampu mengemban tugas sebagaimana mestinya.

Kita patut untuk  mempertanyakan jika seseorang menyatakan bahwa dirinya mampu dan berhasil. Sebab, kemampuan dan keberhasilan seseorang tak dapat dinilai oleh diri sendiri. Hal itu tidak obyektif dan sangat subyektif. Namun, penilaian dilakukan dan dirasakan oleh kalangan independen di luar dirinya sehingga bisa obyektif .

Untuk mendapatkan pemimpin yang dipercaya bagi sebuah institusi perguruan tinggi, pemerintah dan perguruan tinggi sebagai dua entitas terpisah harus memerankan dirinya sebagai pemangku kepentingan untuk kemajuan bangsa dan negara.  Baik pemerintah maupun perguruan tinggi bertanggung jawab mensejahterakan dalam hal taraf hidup masyarakat.Pencarian dilakukan, antara lain, dengan menelaah rekam jejak kepemimpinan dan kewibawaan akademik dari mereka yang selama ini berkiprah di bidang akademik.

Bagi yang berkompeten, panitia menanyakan kesediaan mereka untuk menjadi pemimpin kampus. Dalam hal ini tidak ada proses pendaftaran atau pencalonan diri sebagai calon pemimpin kampus. Untuk menjamin kualitas pemimpin yang akan diberi kepercayaan, panitia harus terdiri atas orang-orang yang punya integritas dan komitmen dan hanya  semata  punya pamrih terhadap kemajuan kampus.

Krisis multidimensional yang berkepanjangan. Berbagai elemen masyarakat pun mengharapkan kepastian bagaimana bangsa ini akan menghadapi kompetisi global. Karena dari berbagai indikator sosial dan ekonomi juga telah menunjukkan bahwa posisi bangsa ini makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam kompetisi global. 

Saatnya  pendidikan tinggi mencari jalan keluar bersama masyarakat menggalang upaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini ? Bagaimana caranya perguruan tinggi meningkatkan mutu akademiknya di tengah keterbatasan sumber daya dan kurangnya perhatian dan dukungan lingkungan ?  Ini menjadi latar belakang perlunya transformasi  visi perguruan tinggi pada era kompetisi global sekarang ini. Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi sebuah perguruan tinggi. Transformasi kelembagaan ini mencakup penyelarasan atau perancangan ulang dari strategi, struktur, sistem, stakeholders relation, staff, skills (competence), style of leadership, dan shared value. Upaya transformasi kelembagaan ini diharapkan dapat merevitalisasi peran perguruan tinggi agar mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan academic excellence for education, for industrial relevance, for contribution for new knowledge, dan for empowerment. 

Keberhasilan transformasi pendidikan tinggi adalah faktor kuat agar perguruan tinggi dapat berkiprah dalam kompetisi global. Restrukturisasi, rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi berbagai fungsi serta komponen organisasi diperlukan dalam proses transformasi ini.

Munculnya kesadaran bahwa bangsa ini memerlukan perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam kompetisi global merupakan faktor penting dalam memulai suatu perubahan. Dalam menjawab pertanyaan mengapa perguruan tinggi di negara ini belum dapat menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di pasar tenaga kerja global dan bagaimana pengalamannya, maka dapatlah dikatakan bahwa secara umum persoalan ini berkaitan dengan kompetensi lulusan. 

Proses belajar yang berlangsung di kampus seharusnya memberikan jaminan mutu pada ketiga faktor kompetensi knowledge, skill, dan attitude. Ketidakmampuan bersaing ini disebabkan adanya kesenjangan antara kualifikasi yang diperlukan dengan kompetensi lulusan. Selain itu, perguruan tinggi perlu mengupayakan peningkatan kemampuan pendanaan dengan bijaksana dan kreatif. Perguruan tinggi harus menghindari opini komersialisasi yang berlebihan. Dalam sektor pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Bukan sekadar untuk meningkatkan peringkat, namun lebih untuk meningkatkan kinerja dan kualitas perguruan tinggi kita. Kualitas dalam hal apa? Tentunya kualitas dalam Tri Dharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun untuk meningkatkan kualitas dalam tiga hal tersebut, kita juga perlu meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pendanaan, serta kualitas para pelakunya, yakni para dosen dan tenaga pendukung, yang akan berdampak pada kualitas lulusannya.

Untuk mewujudkan mimpi mempunyai perguruan tinggi yang berkelas  diperlukan kerja ekstra keras dan waktu. Pada saat ini, reformasi dalam pendidikan tinggi merupakan suatu keharusan. Kunci keberhasilan PT ditentukan oleh human resources, management dan infrastruktur. Kaitannya dengan profit dan public service organization. Academic leader dan manajemen leader harus dibedakan, konsep penunjukan rektor kita setuju melalui pemilihan dengan mekanisme tertentu. Penting untuk diperhatikan bahwa perubahan sistem tidak akan berarti apa-apa, tanpa disertai perubahan pelaku sistem tersebut.

Harapan kami, hendaknya pimpinan universitas dan kelompok-kelompok politik di dalam universitas jangan hanya di sibuk kan dengan kepentingan untuk pemilihan rektor saja, tapi yang harus menjadi perhatian itu bagaimana meningkatkan nilai-nilai akademik dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian. Siklus pemilihan pimpinan yang menggunakan pendekatan politik akan mengakibatkan penggerusan nilai ilmiah di perguruan tinggi.


Rasanya penting untuk menengok ke samping dan ke belakang untuk belajar dari apa yang telah terjadi. Semoga rektor terpilih nanti adalah orang yang selalu berkarya untuk kemajuan Universitas Andalas di masa mendatang.

Motto Universitas : " Untuk Kedjajaan Bangsa".


zoel2015