Showing posts with label Religius. Show all posts
Showing posts with label Religius. Show all posts

Sunday, 7 January 2018

Kritis di dalam mencari Ilmu di Media Sosial

Mengambil ilmu di media sosial itu tidaklah terlarang, termasuk soal agama.

Hanya saja, hal tersebut perlu dibarengi kehati-hatian dan *penguasaan dasar-dasar ilmu agama* terlebih dulu.

Masuk ke medsos, kalau tidak tahu mana yang benar dan tidak, bisa-bisa terkena aliran sesat, pemikiran ekstrim, atau pemikiran menyimpang.

Ini penting untuk dipahami.

''Jadi bukan soal tidak boleh. Tapi masuk medsos itu seperti masuk hutan belantara, ada tumbuhan berduri dan ada yang tidak bermanfaat,''

Medsos bukan guru agama yang tepat untuk menimba ilmu pengetahuan tentang agama.

Apa yang dibaca harus diikutkan dengan pendalaman dengan bertanya kepada seseorang yang dipandang berpengetahuan agama luas agar tidak terjadi kesalahpahaman....

Demikianlah hal ini penulis sampaikan aga
pembaca lebih baik belajar dengan seorang guru yang sudah ahli di bidangnya.

Wednesday, 15 February 2017

JUJUR ITU PEDANG ALLAH DI MUKA BUMI.

Ibnu Qayyim berpendapat bahwa jujur adalah sifat yang membuat seseorang menjadi terhormat. Dari sana akan muncul seluruh derajat para pencari kebenaran dan jalan yang paling lurus. Orang yang tidak menitinya akan celaka. Kejujuran membedakan antara orang munafik dan orang mukmin serta penduduk surga dan penduduk neraka. Kejujuran adalah pedang Allah swt. di muka bumi. Pedang tersebut tidak akan pernah diletakkan pada sesuatu, kecuali iamematahkannya dan tidak akan berhadapan dengan yang batil kecuali ia akan melawan dan menumbangkannya.

Barang siapa naik takhta dengan jujur, dia tidak akan diturunkan. Kejujuran dapat membungkam musuh. Kejujuran adalah ruh segenap amal, pangkat segala seusatu, faktor yang mendorong seseorang berani menghadapi rintangan, dan pintu masuk bagi hamba yang in-dien sampai ke hadirat Allah swt. Kejujuran juga merupakan fondasi tegaknya agama dan tiang penyangga tenda keyakinan.

Derajat kejujuran berada di urutan kedua setelah derajat para nabi sebagai derajat paling tinggi. Di antara tempat-tempat tinggal mereka di surga, akan mengalir mata air dan sungai-sungai ke tempat tinggal orang-orang yang jujur. Kelak hati-hati mereka pun akan saling bertautan.

Allah swt. memerintahkan orang yang beriman untuk selalu bersama orang-orang jujur dan Ia berjanji akan menempatkan mereka bersama para nabi, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh.


Allah swt. berfirman,


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (at-Taubah [9]:119)

Firman Allah dalam surah yang lain,

"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) pada nabi, para pecinta kebenaran , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (an-Nisa [4]:69)

Para nabi, pecinta kebenaran, orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh itulah sebaik-baik teman. Allah swt akan selalu mengurniai mereka nikmat, kasih sayang-Nya, kebaikan yang sangat banyak, petunjuk dan arah-an dari-Nya. Bahkan lebih dari itu mereka akan mendapat keistimewaan khusus, yaitu perlindungan dari Allah swt. karena Allah akan selalau bersama orang-orang yang sabar. Kedudukan meraka sangatdekat dengan-Nya karena derajat mereka berada di urutan ke dua setelah derajat  para nabi.

Allah swt. memberitahukan bahwa orang yang memeunikan keimanan kepada-Nya berarti telah memberikan yang terbaik untuk dirinya. 

Allah berfirman,


"..Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (Muhammad [47]:21)

Allah swt juga memberitahukan tentang orang-orang yang baik dan memuji mereka karena telah memurnikan keimanan dan keislaman, bersedekah, dan selalu bersabar. Me-reka itulah orang-orang yang jujur.


Allah swt. berfirman.

"..tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi serta memberikan hartayang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (al-Baqarah [2]:177)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kejujuran sebagai dasar keimanan dan keislaman harus dibuktikan dengan amalan lahir dan batin.

Allah swt. membagi manusia menjadi dua tipe, yaitu tipe manusia yang jujur dan munafik (9).

Sebagaimana firman-Nya,


"Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazabkan orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka...." (al-Ahzab [33]:24) 

Kejujuran adalah fondasi keimanan, sedangkan kebohongan adalah dasar kemunafikan. Apabila kebohongan berkumpul dengan keimanan, salah satunya pasti tumbang.

Allah swt. juga memberitahu bahwa yang bisa menyelamatkan seorang hamba pada hari Kiamat kelak adalah kejujuran.


Allah swt. firman-Nya,


"..Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung." (al-Ma'idah [5]:119)

Dalam firman-Nya pada surah yang lain,


"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah yang bertakwa." (az-Zumar [39]:33)

Pembawa kebenaran yang dimaksudkan adalah orang yang senantiasa jujur, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun dalam kondisinya. Allah swt. telah memerintahkan rasulullah saw. agar memohon kepada-Nya untuk mengurniakan tempat masuk dan keluar yang benar pada setiap perkara.

Allah swt. berfirman,

"Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhan-ku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong-(Ku)." (al-Isra [17]:80)

Allah swt. juga mengisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim a.s., bahwaIbrahim telah memohon kepada-Nya agar dianugerahi lisan yang jujur sebagai teladan bagi generasi yang akan datang setelahnya. 

Hal itu, Allah kisahkan di dalam firmany-Nya,


"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu 'ara [26]:84)

Di dalam ayat yang lain, Allah swt. memberikan kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi dan tempat yang dia senangi di sisi-Nya.


Allah swt. berfirman,


"..dan gembiralah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan..." (Yunus [10]:2) 

Allah juga berfirman,

"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang Mahakuasa." (al-Qamar[54]:54-55)

Kesimpulannya, ayat-ayat tersebut menjelaskan lima perkara kepada kita, yaitu.


(1) tempat keluar yang benar,

(2) tempat masuk yang benar,

 (3) lisan yang gema jujur,

(4) kedudukan yang sangat tinggi, dan

(5) tempat yang menyenangkan.

Hakikat kejujuran pada lima perkara tersebut ada pada sebuah kebenaran yang kukuh dan berhubungan langsung degan Allah swt.


Kejujuran adalah perantara antara hamba dengan Tuhannya.
Kejujuran harus meliputi perkataan dan perbuatan yang dilakukan demi untuk Allah swt. serta balasan dari semua itu akan diterima ketika di dunia dan di akhirat. 

Semoga kejujuran menjadi pegangan hidup kita semua. 


Reference ; by. norhaya-jujur.blogspot.co.id-August 5, 2011


Thursday, 1 December 2016

Pentingnya Mengesakan Allah dalam kehidupan Kita ( keutamaan tauhid )..

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, :

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.

Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.”

Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan.

Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya lagi, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.”

Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.”

Semoga kisah di atas membuat kita semakin paham akan bahaya syirik dan pentingnya mengesakan Allah dalam ibadah ( keutamaan tauhid )..

Tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, tentu harus ditinggalkan apalagi jika sampai membuat Allah murka dan membuat kita terjerumus dalam neraka.

Subhanalloh, semoga kita terhindar dari segala keraguan dalam memahami dan meyakini agama Islam yang mulia ini.

Tuesday, 1 November 2016

“Islam adalah jalan cahaya bagi umat manusia”

Sikap Nabi Muhammad SAW Menghadapi Penistaan.

Kita sering menjumpai penghinaan dan perlakuan yang tidak menyenangkan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAWdan Alquran, baik melalui kartun maupun fitnah terhadap ayat-ayat Alquran. Kasus terbaru dilakukan Sam Bacile lewat filmnya "Innocence of Muslims". Kita mesti meneladani sikap Rasulullah SAW, dalam menghadapi berbagai penghinaan dan fitnah.

Suatu hari di tengah teriknya matahari, Nabi Muhammad SAW, mendatangi Kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Namun, belum lagi ia selesai menyampaikan risalahnya, para penduduk Thoif melempari beliau dengan batu. Nabi Muhammad SAW pun berlari dengan menderita luka cukup parah. Giginya patah dan berdarah terkena lemparan batu.

Malaikat Jibril segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad SAW. "Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi."

Bukan hanya kita yang sedih mendengar kisah ini, Jibril pun harus turun tangan melihat Nabi Muhammad SAW dihina dan dianiaya begitu rupa. Namun, apa kata Nabi Muhammad SAW;



"Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku." Dan doa beliau pun terkabul. Banyak di antara penduduk Thoif di kemudian hari yang menjadi ulama penerus risalah Nabi Muhammad SAW. Begitu mulianya akhlak Rasulullah terhadap orang-orang yang menghina dan menganiayanya. Dan beliau pun ingin umatnya mewarisi akhlak mulia tersebut.

Suatu ketika di dalam Kota Mekah ada seseorang yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW lewat di depan rumahnya, ia melempari beliau dengan batu, tidak jarang pula ia meludahi beliau dari atas rumahnya. Tidak cukup dengan itu, ia pun melempari Nabi dengan kotoran manusia.

Suatu hari orang tersebut jatuh sakit. Ketika Nabi Muhammad SAW melewati rumah itu, ia heran dan bertanya-tanya ke mana orang yang biasanya melemparinya. Setelah diketahuinya orang tersebut sedang sakit, Nabi Muhammad SAW pun mengunjunginya.

Orang tadi seakan tidak percaya jika Muhammad SAW yang selama ini ia caci maki dan ia lempari dengan batu dan kotoran masih mau menengoknya di kala sakit, saat orang lain tidak memedulikannya. Ia pun menangis di hadapan Nabi Muhammad SAW dan saat itu pula ia mengakui kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan syahadat.

Nabi Muhammad SAW dengan baik sekali mencontohkan apa yang tertera dalam Alquran, Surat Fushshilat Ayat (34): Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Meskipun penistaan atau penghinaan adalah perbuatan yang tercela, Alquran tidak pernah memuat hukuman bagi pelaku penghinaan atau memberikan wewenang kepada siapa pun untuk melakukan penghakiman. Yang ada adalah seruan untuk meninggalkan orang-orang yang menghina agar penghinaan itu tidak terus berlanjut.

"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)". (Qs. Al An'am [6]: 68).

Dalam Qs. Annisaa (4): 140 juga menerangkan hal yang sama. Ayat tersebut bisa menjadi pegangan dalam menyikapi orang-orang yang memfitnah dan memutarbalikkan ayat-ayat Alquran.

Jika hinaan dibalas dengan hujatan, lalu apa bedanya antara orang yang dihina dan orang yang menghujat. Reaksi yang berlebihan terhadap penghinaan akan membuat stigma yang lebih buruk terhadap umat Islam. Jika stigma kekerasan itu mencuat, yang bertepuk tangan adalah para provokator yang tidak senang dengan perdamaian.

Tidak sedikit orang yang menginginkan terciptanya permusuhan antara umat beragama. Daripada membalas hujatan dengan kecaman atau bahkan dengan pembunuhan akan lebih baik jika kita mengajak berdialog orang yang melakukan penghinaan atau penistaan. 

Dalam dialog kita bisa memperkenalkan pribadi Muhammad SAW yang sesungguhnya. Dengan begitu, bukan mustahil orang yang tadinya menghina akan berbalik menjadi sahabat yang setia seperti yang tertera dalam Alquran surat Fushshilat (41): 34.

Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang berkpribadian mulia menginginkan umatnya memiliki akhlak yang mulia pula. Banyak sekali hujatan dan penganiayaan yang beliau terima, tapi Nabi Muhammad SAW  mampu mengatasinya tanpa harus kehilangan kemuliaannya.

Di sudut pasar di Kota Madinah ada seorang buta yang setiap harinya selalu meneriakkan Muhammad SAW orang gila. Setiap hari ada orang yang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Suatu hari orang buta tersebut merasakan jika orang yang menyuapinya kali ini bukanlah orang yang biasa menyuapinya. Berkatalah orang buta dan tua itu, "Kau bukanlah orang yang biasanya menyuapiku, ke manakah gerangan orang yang biasa menyuapiku."

Orang yang ada di hadapannya bertanya, "Bagaimana kau tahu aku bukanlah orang yang biasa menyuapimu sedangkan engkau adalah orang yang tidak bisa melihat?"
Orang tua itu pun menerangkan, "Orang yang setiap harinya menyuapiku akan mengunyah makanan itu lebih dahulu sebelum memasukkan ke mulutku karena ia tahu gigiku sudah tidak kuat lagi mengunyah makanan."

Orang yang ada di hadapannya yang ternyata adalah Abu Bakar menahan tangis dan bertanya kembali, "Tahukah engkau siapa yang biasa menyuapimu setiap hari?"
Orang tua dan buta itu pun menggelengkan kepala. Abu Bakar barkata, "Orang yang menyuapimu setiap hari adalah Muhammad SAW yang biasa engkau caci maki dan sekarang ia telah tiada."

Betapa terkejutnya orang tua itu mengetahui akan hal itu. Ia pun tersungkur menangis dan seketika itu juga mengucapkan kalimat syahadat sebagai sebuah pengakuan atas ke-Esa-an Tuhan dan kemulian Nabi Muhammad SAW.


Original posting  from  jaka supriyanta , http://dhafinnet.blogspot.co.id.cara-nabi-muhammad-menghadapi-penghinaan.html

Thursday, 30 June 2016

Kenapa Perlu Mengetahui Mazhab

Pengertian mazhab itu adalah metode (manhaj) implementasi ajaran Islam yang dibentuk melalui pemikiran, kemudian orang yang menjalani akan  menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya.

Seorang Mujtahid yang telah merumuskan keputusan atas beberapa persoalan dalam implementasi ajaran Islam, kemudian diikuti oleh banyak orang, beliau inilah yang disebut sebagai Imam Mazhab. Karena setiap muslim yang berakal sehat pasti mampu untuk mencari atau memahami argumen-argumen ushuluddin/akidah dengan menggunakan akal pikiran, sehingga dalam masalah-masalah akidah ini tidak perlu dan tidak dibolehkan bertaqlid kepada orang lain. Akan tetapi dalam masalah-masalah fiqih/furu'uddin tidaklah demikian, artinya tidak semua orang -bahkan sedikit sekali- yang mampu menggali hukum dari sumbernya yang asli yaitu Al Qur'an dan hadits. Hanya para mujtahidlah yang mampu melakukan pekerjaan (ijtihad) ini. Oleh karena itu, dalam masalah fiqih ini orang awam (yang belum mencapai peringkat ijtihad) diwajibkan bertaqlid kepada seorang marja' (perujukan).

Dalam pengertian yang sama ketika kita dihadapkan pada sebuah permasalahan yang tidak ditemukan rujukan eksplisit dari Quran maupun sunnah, maka seseorang akan berfikir baik dengan menimbang secara rasional maupun dengan menggunakan data tambahan sebagai rujukan, untuk mendapatkan kesimpulan agar segera dapat diambil tindakan nyata untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Usaha semacam inilah yang secara umum dikenal dengan kata ijtihad. Secara khusus makna ijtihad dibatasi hanya untuk para ulama tertentu yang "memiliki" kualifikasi sebagai seorang mujtahid. Dalam pengertian ini, usaha serupa yang dilakukan orang awam tidak disebut sebagai ijtihad.

Pentingnya kualifikasi tentu saja berkaitan dengan "tingkat kesempurnaan" atau akurasi pengambilan keputusan. Orang dengan penguasaan Quran 70%, Sunnah 80%, diharapkan mampu untuk lebih akurat menganalisa masalah dan mengambil keputusan dibandingkan mereka yang tingkat penguasaan Quran dan Sunnahnya tidak lebih dari itu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa pendapat orang awam pada satu kasus tertentu lebih akurat dibanding pendapat ulama atau bahkan mujtahid. Untuk kasus khusus seperti ini seorang ulama yang arif tak segan untuk mengambil pendapat orang awam tersebut dan menjadikannya sebagai sandaran hujjah dalam keputusan yang diambilnya. Umar bin Khattab pernah mencontohkan hal demikian dengan kalimatnya yang terkenal, "...ibu ini benar, dan Umar salah"...

Seorang Mujtahid yang telah merumuskan keputusan atas beberapa persoalan dalam implementasi ajaran Islam, kemudian diikuti oleh banyak orang, beliau inilah yang disebut sebagai Imam Mazhab.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqh Al Islami wa Adilatuhumenyebutkan  6 tingkatan mujtahid fiqih.

Pertama:
Mujtahid mustaqil (mujtahid independen).
Ini tingkatan paling tinggi. Seorang mujtahid mustaqil memiliki kemampuan untuk menetapkan kaidah-kaidah fikih berdasarkan kesimpulan terhadap perenungan dalil Al Quran dan Sunah. Selanjutnya, kaidah-kaidah ini digunakan sebagai landasan dalam membangun pendapatnya. Di antara ulama yang telah mencapai derajat mujtahid mustaqil adalah para imam mazhab yang empat.

Kedua:
Mujtahid mutlaq yang tidak mustaqil.
Mereka adalah orang yang telah memenuhi persyaratan dalam berijtihad secara independen, namun mereka belum membangun kaidah sendiri tetapi hanya mengikuti metode imam mazhab dalam berijtihad. Mereka memiliki kemampuan menetapkan hukum dari beberapa dalil sesuai dengan kaidah yang ditetapkan pemimpin mazhab. Bisa jadi, mereka berselisih pendapat dalam beberapa masalah yang terperinci di bidang fikih, namun secara prinsip, mereka mengikuti imam mazhab. Seperti murid para imam mazhab.

Ketiga:
Mujatahid muqayyad (mujtahid terikat).
Mereka adalah kelompok ulama mujtahid yang memiliki kemampuan untuk mengkiaskan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh imam mazhab, untuk memecahkan permasalahan baru yang tidak terdapat dalam keterangan-keterangan ulama mazhab. Pendapat hasil ijtihad ulama pada tingkatan ini disebut dengan “al wajh”. Terkadang, dalam satu mazhab, para ulama dalam mazhab tersebut berbeda pendapat, sehingga sering dijumpai dalam penjelasan di buku fikih, pada suatu permasalahan terdapat sekian wajh. Artinya, dalam permasalahan itu terdapat sekian pendapat dalam mazhab tersebut.

Keempat:
Mujtahid takhrij.
Mereka adalah deretan ulama yang men-takhrij beberapa pendapat dalam mazhab. Kemampuan mereka dalam menguasai prinsip dan pengetahuan mereka dalam memahami landasan mazhab telah menjadi bekal bagi mereka untuk menguatkan salah satu pendapat.


Kelima:
Mujtahid tarjih.
Mereka adalah kelompok mujtahid yang memiliki kemampuan memilih pendapat yang lebih benar dan lebih kuat, ketika terdapat perbedaan pendapat, baik perbedaan antara imam mazhab atau perbedaan antara imam dengan muridnya dalam satu mazhab.

Keenam:
Mujtahid fatwa.
Mereka adalah para ulama yang memahami pendapat mazhab, serta menguasai segala penjelasan dan permasalahan dalam mazhab, sehingga mereka mampu menentukan mana pendapat yang paling kuat, agak kuat, dan lemah. Namun, mereka belum memiliki kepiawaian dalam menentukan landasan kias dari mazhab.

Tambahan 1 peringkat oleh Ibnu Abidin yakni:

Ketujuh,
Tingkatan para muqallid (orang yang taklid).
Mereka adalah orang yang tidak mampu membedakan antara (pendapat) yang kuat dan yang tidak kuat. Inilah tingkatan umumnya dari masyarakat.

Mazhab itu ada 4 (empat) yang terkemuka dan menjadi rujukan umat islam hingga hari ini:

Mazhab Al-Hanifiyah.
Didirikan oleh An-Nu’man bin Tsabit (80-150 H) atau lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah. Beliau berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah Umaiyah dan Abbasiyah.
Mazhab Al-Hanafiyah ini; Sangat dikenal dan terkemuka dalam masalah pemanfaatan akal/logika mengupas masalah fiqih.

Mazhab Al-Malikiyah.
Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi (93– 179H).
Berkembang sejak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh. Mazhab Al-Malikiyah  ini, merujuk dalam segala sesuatunya kepada hadits Rasulullah SAW dan cara hidup penduduk Madinah, meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang shahih para umumnya.
Mazhab ini adalah kebalikan dari mazhab Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah banyak sekali mengandalkan nalar dan logika, karena kurang tersedianya nash-nash yang valid di Kufah, mazhab Maliki justru 'kebanjiran' sumber-sumber syariah.

Mazhab As-Syafi'iyah.
Didirikan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H).Beliau dilahirkan di Gaza Palestina (Syam) tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan wafat di Mesir tahun 203 H.

Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli ra'yi (Al-Hanafiyah) dan fiqh ahli hadits (Al-Malikiyah).

Mazhab As-Syafi'iyah ini :
Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya, ”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah dan perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan, ”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”

Mazhab Al-Hanabilah.
Didirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani (164 – 241 H) dikenal sebagai Imam Hambali. Dilahirkan di Baghdad dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal. Beliau memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, seperti Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.

Imam Syafi’I adalah guru beliau ketika datang ke Baghdad, sehingga menjadi mujtahid mutlak mustaqil. Gurunya sangat banyak hingga mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah hadis dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadis di zamannya dengan berguru kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari (104 – 183 H).

Mazhab Al-Hanabilah 
Dasar madzhab, adalah Al-Quran, Sunnah, fatwah sahahabat, Ijam’, Qiyas, Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’. Imam Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang membukukan madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan lain-lain.

Namun beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat 40.000 lebih hadis. Beliau memiliki kekuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad mengunakan hadis mursal dan hadis dlaif yang derajatnya meningkat kepada hasan bukan hadis batil atau munkar.

Jadi untuk dapat memilih dan mentaqlidi salah seorang dari mereka- haruslah dengan bantuan dan perantara "ahli khibrah". "Ahli khibrah" ialah orang-orang yang telah lama (kira-kira lebih dari 20 tahun) mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu agama sehingga mereka telah mampu menilai, menentukan dan membedakan antara mujtahid dan antara a'lam dengan yang tidak.


Semoga bermanfaat.


By: ZM

Thursday, 29 October 2015

Hati yang luas akan melihat indahnya Kehidupan.

Hati yang luas akan melihat indahnya Kehidupan. Kehangatan, keharmonisan didalam kehidupan ini hanya datang dari kebeningan hati, yang tanpa beban, yang tanpa prasangka, juga tanpa kesombongan, tanpa ujub dan riya. Hati hanya dapat disentuh oleh hati yang tak ada kedustaan..



Rasulullah bersabda, “Hati itu ada empat macam; Hati yang bersih yang di dalamnya terdapat semacam pelita yang bersinar, hati yang tertutup lagi terikat, hati yang berbalik, dan hati yang berlapis”

Maksudnya  kira kira seperti:

Hati yang bersih itu adalah hati orang Mukmin, dan pelita yang ada di dalamnya itu adalah cahayanya.

Hati yang tertutup itu adalah hati orang kafir.

Hati yang berbalik itu adalah hati orang munafik murni (tulen), ia mengetahui Islam tapi mengingkarinya. Sedangkan hati yang berlapis itu adalah hati orang yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan.

Iman di dalam hati itu adalah ibarat sayuran yang disiram air bersih. Sedangkan  kemunafikan dalam hati itu  ibarat luka yang dilumuri nanah dan darah.

Mana di antara keduanya (iman dan kemunafikan) yang mengalahkan yang lainnya, maka dialah yang mendominasi. (HR. Ahmad).

Seorang Tabi’in (pengikut setelah sahabat nabi) berkata: “Siapa yang diberi ilmu dan tidak membuatnya menangis maka lebih baik baginya untuk tidak diberi ilmu, karana Allah telah menerangkan bahwa sifat orang yang berilmu itu adalah menangis”. (Riwayat Ad-Daraami)

Berarti maknanya ilmu  akan mengantarkan seseorang untuk beriman, dan iman pula akan membuat hati seseorang itu menjadi lembut, dan hati yang lembut akan membuat seseorang itu mudah menangis.

Hati itu indah bukan hanya isinya saja yang baik, semua kesalahan dan dosa kita yang tertata rapi dengan setumpuk kedermawanan, kemampuan untuk memaafkan itu semua yang menjadikan hati kita indah. 

Dan semua orang yang hidupnya indah, maka orang-orang itu memiliki hati yang indah. Hati yang banyak menerima akan bersinar dengan terang. Tetapi ada pikiran kita yang melingkari hati, dan hanya mengizinkan sedikit sinar masuk, yaitu sinar yang sepaham, se agama, se suku dan lain sebagainya, baru diizinkan masuk, nah inilah yang harus sedikit kita rubah.

Jangan kecilkan potensi hati yang besar ini dengan dengan terbatasnya pikiran. Apapun yang ditujukan kepada diri kita, kita harus menerima, karena kemampuan hati itu untuk menerima, bijaklah dengan pikiran.
Gunakan yang sudah masuk ke hati, sebagai kekuatan untuk memperindah penampilan, dalam mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Hanya hati yang luas yang mampu memikul langit yang luas. Hati yang luas akan melihat kehidupan ini jadi indah, hati yang kecil akan melihat kehidupan ini rumit dan sempit. Orang akan bereaksi cepat kepada yang dekat dilihat, untuk itu janjikan yang dekat-dekat saja. Pikiran kita juga tidak boleh menjanjikan yang terlalu jauh. Janjikan yang jauh boleh saja, tapi buktikan dalam jangka dekat bisa menghasilkan manfaat. Sehingga hati ini jadi sekutu bagi diri sendiri.

Paling kasihan bagi orang yang hatinya menjadi peragu dari semua rencananya. Seperti nilai sebuah kekayaan;  Kekayaan dapat membuat hati kita diharukan dan ada yang mengkhawatirkan. Kekayaan yang mengharukan itu menjadikan hati  selalu bersyukur dengan apa yang didapat, dan kekayaan yang mengkhawatirkan itu akan selalu dihantui dengan keburukan, karena kekayaan itu didapat dengan cara yang tidak baik.

Satu pertanyaan di dalam hatiku... Apakah kita menjalani hidup ini dengan ingatan atau pengertian? Ingatan itu diatur oleh masa lalu. Orang  yang mengatur hidupnya dengan masa lalu, hidupnya berdasarkan ingatan. Jadi seberapa besarpun ingatan kita, dia akan menyusut dengan berjalannya waktu.

Sedangkan hidup dengan pengertian, maka kita akan tumbuh sesuai dengan berjalannya kedewasaan hidup. Hidup itu bukan kita terima dari pelajaran, tetapi kita belajar dari kehidupan. Kemampuan itu semakin besar semakin hebat, tetapi penggunaan kemampuan itu lebih penting dari pada kemampuan itu sendiri.

Telah terbukti, banyak orang yang sekolahnya kurang baik dari kita, namun bisa mencapai kesuksesan yang lebih besar. Karena mereka berfokus pada penggunaan kemampuan. Yang mempengaruhi penggunaan kemampuan adalah hati. Semangat yang tinggi mempengaruhi penggunaan yang tinggi, sehingga kemampuannya berdampak efektif.

Jadi kalau berbicara hati dan nilai, itu tidak terpisah, karena nilai (sikap) adalah ukuran kita dalam menjalani kehidupan. Kelembut hati Nabi SAW perlu kita teladani, agar semua urusan kita menjadi mudah, indah dan membawa berkah di dunia dan akhirat.

Munajatku  pada Sang Pemilik Hati:
Ya Allah, yang maha melembutkan hati, kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami, jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami, jaga kami dengan mata-Mu yang tiada tidur, lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus. Kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu. Berlaku pasti atas kami hukum-hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.

Ya Allah, perbaiki hubungan antar kami, rukunkan antar hati kami, tunjuki kami jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang didunia dan akhirat…

Ya Allah, Wahai yang memudahkan segala yang sukar dan yang menyambung segala yang patah. Wahai yang menemani semua yang tersendiri dan pengaman segala yang takut. Aku mohon kasih-Mu…

Wahai Tuhan yang tidak memerlukan penjelasan dan penafsiran. Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak, Engkau Maha Tahu dan Melihat. Kami takut kepada-Mu selamatkan kami dari siksa-Mu…

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dari sisi-Mu, limpahkan kepada kami karunia-Mu, curahkan rahmat-Mu dan turunkanlah kepada kami berkah-Mu….
hanya kepadamM kami berharap dan hanya kepadaMu kami berserah diri..

Moga ada manfaatnya 


By: OE 291015



Tuesday, 14 July 2015

Lebaran Telah Tiba...

Dihari penuh Barokah ini ....


Allahumma taqobbal minna shiyamana, wa qiyamana, wa sujudana, wa tilawatana, wa shodaqona. 
Taqobbalallahu minna wa minkum kullu aamin wa antum bi khoir

Semoga Allah SWT membalas amal ibadah kita-saya dan anda (puasa, sholat malam, sujud, tilawah AL Qur'an, shodaqoh, serta amal kebajikan ) dengan balasan yang baik. 



Friday, 10 July 2015

Suasana Membuat Makan Jadi Sedap

Salah satu kebutuhan paling dasar manusia adalah makan dan minum. Dalam Alquran,
banyak ayat yang berbicara tentang perintah untuk memakan yang baik sebagai rezeki dari
Allah SWT (QS 67:15, 34:15).

Tidak semua makanan dan minuman boleh dikonsumsi. Karena itu, Islam mengatur
makanan yang boleh dan tidak. Jika dibolehkan, pasti baik kandungannya. Jika dilarang,
pastilah mudaratnya. Makan dan minum bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi menjadi sarana ibadah  kepada Allah SWT.

Ada empat tuntunan dalam perkara makanan :

Pertama, halaalan (halal atau boleh bukan haram), yakni makanan yang zatnya halal dan cara mendapatkannya benar (QS 2:168, 5:88, 16:114).

Kedua, thayyibaat (yang baik-baik), yakni makanan halal dan komposisi yang dibutuhkan. Sebab, makanan yang halal belum tentu thayyib apalagi yang haram (QS 2:172, 7:160,
20:81).

Ketiga, israaf (berlebih-lebihan), artinya berinfak atau makan sesuai kebutuhan saja. Bahkan, bersedekah pun tak boleh berlebihan (QS 3:147, 6:141-142).

Keempat, tabziir (boros atau menghamburkan), artinya sedekah atau makanan tidak dihabiskan atau dibuang-buang (QS 17:26-27).

Puasa itu bukan penyiksaan. Tapi hakikat dari puasa itu di balik setiap derita ada kepuasan. “Wa maa ladz-dzatu illa ba’da ta’bii” (Tiada kelezatan kecuali setelah kepayahan). Kelak di hari akhir, orang beriman dan beramal saleh, akan dihidangkan makanan lezat, lalu Allah SWT berfirman, ”Makan dan minumlah yang sedap." (QS 52:19, 69,25, 77:43).

Pertanyaannya ...Kapankah makan paling nikmat itu ???


Nikmat ditentukan dua hal, yakni bahan atau rasa dan situasi atau suasana. Rasa enak itu relatif sehingga enak bagi seseorang belum tentu enak bagi orang lain. Hal yang penting itu bukan bahan atau rasanya, tapi situasi atau suasananya lho.

Ada tiga suasana yang membuat makan menjadi sedap :

Pertama, makan ketika lapar. Jika ingin makan enak, maka laparlah. Jika ingin minum yang sedap, hauslah. Allah SWT memberikan jalan agar kita lapar dan haus bernilai ibadah, yakni puasa (wajib dan sunah).

Tak perlu makan obat untuk merangsang makan,tapi berpuasalah karena akan mendatangkan kebaikan (QS 2:184). Makan dan minum setiap hari sudah biasa. Tapi di saat berbuka, nikmatnya luar biasa.

Kedua, makan bersama orang-orang lapar. Jika yang pertama bersifat individual, nikmatnya personal, tapi yang kedua ini bersifat sosial sehingga kenikmatannya pun sosial.
Buka bersama keluarga, kaum kerabat, dan jamaah. Ibadah puasa memberikan jalan untuk mendapatkan kenikmatan sosial, yakni makan bersama orang-orang yang berpuasa (iftar jama’i). Keberkahan akan turun kepada orang yang makan berjamaah (HR Muslim).

Ketiga, memberi makan orang-orang lapar. Inilah makan paling sedap, bukan hanya nikmat personal dan sosial, tetapi juga spiritual. Bersedekah dan makan bersama dengan mereka yang lapar adalah makan paling nikmat. Kegembiraan orang yang berpuasa itu ketika berbuka dan bersama orang yang berpuasa, apalagi bisa menghidangkan makanan.Nikmatnya tak bisa diungkapkan karena rasa syukur ke hadirat Ilahi Rabbi hingga kelak gembira pula bertemu Sang Khalik (HR Muttafaq ‘alaih). 

Orang yang menyajikan takjil (hidangan berbuka) akan mendapat ganjaran seperti pahala orang yang berpuasa (HR Tirmidzi). Lalu Nabi SAW bersabda :

Para malaikat pun akan selalu berdoa untuk mereka agar diberi kebaikan.
(HR Abu Daud).

Referensi: Republika Online

Thursday, 9 July 2015

Ramadhan yang kutahu.

Bagiku Ramadhan adalah sebuah kesempatan berubah untuk bisa melakukan nilai ibadah yang lebih baik dalam keberkahan dan pengampunan tentu saja dengan mengikuti proses ibadah yang intens dan lebih baik dari bulan bulan sebelumnya bukan berarti bulan belakangan ini tidak baik tapi karena bulan Ramadhan ini punya kedudukan yang mulia di sisi Allah maka aku berusaha agar ibadahku bisa mendapat pahala yang banyak, sebagai ungkapan rasa syukur atas  Kasih Sayang Allah dalam mendapatkan nilai lebih itu dan juga mohon pengampunan atas segala kekurangan dan keterbatasanku sebagai manusia biasa. Maka aku pribadi wajar kan, termotivasi !!.

Ramadhan yang kutahu  itu  adalah (bulan) diturunkannya  Al Qur'an , panduan untuk diri kita dan umat manusia bagi yang mau membaca dan memahami tanda yang jelas  untuk membimbing antara benar dan salah. Dan bagi yang ingin tahu apa itu Ramadhan maka dia harus berpuasa (Al Baqarah 185).

Ramadhan  itu berarti "panas terik".  Pertanyaannya kenapa harus dinamakan Ramadhan ?Beberapa pendapat menyebutkan  bahwa ; Hati dan jiwa itu akan lebih mudah menerima nasihat dan mengingat Allah selama dibulan Ramadhan, mungkin juga ada kedekatan hubungan antara panas dan sifat manusia itu mirip dengan Ramadhan . Hehehehe..mungkiin ya !!

Kalo kita pahami dari sisi Islam, bulan Ramadhan punya makna dan kedudukan yang mulia karena banyak terjadi peristiwa penting  salah satunya ada 1 malam yang lebih baik dari 1000 bulan (+/- 83tahun), (al Qard(97):3). Dan berpuasa dengan ikhlas + menghayati dan melaksanakan ketentuan ibadah yang syar’i di bulan Ramadhan, ini akan diberikan ampunan atas segala dosanya. Insyaallah.

Di bulan Ramadhan ini ada ibadah sepuluh hari terakhir, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan) untuk melakukan i’tikaf.  I’tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. I’tikaf disyari’atkan untuk dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala, (QS. Al Baqarah: 187) Dan pada 10 hari terakhir ini turunnya lailatul qadar, lailatul qadar adalah malam penuh kemuliaan, bisa pula maknanya adalah malam penetapan takdir. Terakhir ini lebih mendekati benar karena mengingat firman Allah lainnya, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhon: 4)  

Dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Disebut lailatul qadar karena kemuliaan dan keutamaan malam tersebut di sisi Allah. Pada malam tersebut ditetapkan berbagai perkara yang akan terjadi pada satu tahun, yaitu ditetapkan ajal, rezeki, dan berbagai takdir". (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).

Ada awal pasti ada akhirnya, di awal ramadhan kita menyiapkan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mempelajari hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara lengkap atau bisa dengan mendengar ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan.

Karena RAMADHAN akan segera berlalu. Kurang lebih beberapa hitungan hari lagi hilal syawal akan muncul dan mengakhiri bulan mulia ini. Seperti biasa, kaum muslimin menyikapi akhir  Ramadhan dengan ragam kegiatan yang berbeda-beda. Sebagian menjalankan sunnah I’tikaf  untuk mengais keberkahan yang tersisa di bulan ini, khususnya kemuliaan malam lailatul qadar. Sebagian lainnya mulai menyibukkan diri untuk menyambut lebaran yang tengah dinanti.. Kadang ada dilema di hati kita yang selalu berulang  disetiap tahunnya. Kita pasti sedih karena banyak kehilangan momentum pahala dan keberkahan  yang berlipat-lipat di bulan ramadhan, namun pada saat yang sama kita juga harus bergembira  dengan datangnya hari raya Idul Fitri.

Di akhir Ramadhan ini, kita semua yang beragama islam marilah sejenak melakukan perenungan diri.  Bermuhasabah agar hati ini tidak merasa sombong dengan banyak ibadah yang telah dilakukan,  tapi justru terus mawas diri dan berharap agar puasa dan amal ibadah lainnya selama Ramadhan  ini benar-benar diterima di sisi Allah SWT. Hendaklah kita merenungi sabda Rasulullah SAW :

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang,”
(HR Ibnu Majah & al-Hakim)

Kemudian mengeluarkan zakat fitrah dengan ikhlas dan tepat waktu. Rasulullah SAW berkata: “Bagi  orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka (buka puasa dan saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka,” (HR Bukhori &; Muslim). 

Semoga:  Tujuan  la’allakum tattaquun dari berpuasa, yakni senantiasa menjaga dan meningkatkan ketaqwaan. Maka  taqwa yang dimaksud itu bukan barang langsung jadi,  melainkan sebuah proses berubah yang harus berlangsung terus menerus dalam kehidupan saat kini sampai yang akan datang . Miss U Ramadhan... !!

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Dan masa depan milik orang yang selalu belajar, masa lalu milik orang yang berhenti belajar.
[ABU 'ABBAD ANNAJAM]


Dari berbagai sumber.



Friday, 26 June 2015

AL-QURAN PENGOBAT HATI








google

Ayat-ayat Al-Quran yang dapat dijadikan terapi pengobat hati, berikut beberapa petikannya :

KENAPA AKU DIUJI?
Surat Al-Ankabut: 2-3
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) hanya dengan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”

KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKUIDAM-IDAMKAN?
Surah Al-Baqarah ayat 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
Surah Al-Baqarah ayat 286
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

BAGAIMANA MENYIKAPI RASA FRUSTASI?
Surah Al-Imran ayat 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

SUNGGUH, AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI…!!!!!
Surah Yusuf ayat 87
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.”

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPI PERSOALAN HIDUP ?
Surah Al-Imran ayat 200
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”

APA SOLUSINYA?
Surah Al-Baqarah ayat 45-46
”Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

SIAPA YANG MENOLONG DAN MELINDUNGIKU?
Surah Ali Imran: 173
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
Surah At-Taubah ayat 129
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.”

APA BALASAN ATAU HIKMAH DARI SEMUA INI?
Surah At-Taubah ayat 111
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

10, Al-quran.

Friday, 19 June 2015

MAKNA SALING MEMBERI HADIAH KEPADA SESAMA MUSLIM.

Makna saling memberi hadiah kepada sesama muslim. Hadiah adalah sesuatu yang penting dan sangat perlu sekali, karena ia bisa menambah kecintaan dihati setiap yang menerima dan memberi. Tidak ada di syarat kan dalam hadiah itu harus dengan harga yang mahal. Orang yang mencari hadiah yang akan diberikan karena harganya yang mahal dan karena nilai materi nya, berarti ia belum mengerti dan memahami makna hadiah itu sendiri, bisa jadi ia seorang materialis, atau penganut hidup hedonis yang menonjolkan merek-merek terkenal dan harga mahal dalam arti mereka yang tidak memahami dengan benar makna kasih sayang (cinta). Jika saya memberi sebuah hadiah yang sederhana kepada seseorang, itu tidak berarti bahwa saya tidak mencintainya. atau tidak menghormatinya ....Tidak sama sekali !!

Dan tidak berarti pula jika seseorang memberi hadiah yang mahal harganya kepada saudaranya, ia sangat mencintainya. Boleh jadi hal itu benar dan boleh jadi tidak. Tidak ada hubungan antara ukuran cinta, menghormati dan nilai hadiah, kecuali orang yang kikir apalagi bakhil, dan hal ini urusannya lain lagi. Tetapi, pada umumnya hadiah adalah simbol atau tanda kasih sayang (cinta), maupun menghormati juga sebagai penolong dan petunjuk baginya, Bahwa ada  anjuran dari Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam untuk saling memberi hadiah kepada sesama muslim, sebagaimana  yang tersebut dalam hadist riwayat Bukhari. 
Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam bersabda; 

"Saling memberi hadiah lah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai."

Pengertian Hadiah itu memberi dengan niat mendekatkan diri kepada seseorang dan menunjukkan kasih sayang kita kepada penerima dalam hubungan persahabatan,  hubungan suami isteri, hubungan antara ayah dan anak semua nya itu dapat menjalin kan kasih sayang sekiranya kita memberikan hadiah sebagai tanda penghargaan dan juga kasih sayang kita kepadanya.

Pemberian hadiah atau kado biasanya dilakukan dalam acara sosial,antara lain kumpul keluarga, reuni maupun acara pengajian bersama. Pernah saya mengalami peristiwa saling bertukar kado ini di acara pengajian di rumah teman, saat itu saya tidak tahu ada acara ini karena ada keperluan pribadi saja jadi gak ada persiapan apalagi bawa kado  :)  Namun teman ini meyakinkan saya agar ikut bergabung, karena saya tidak ada kegiatan yang tidak begitu penting maka saya bersedia untuk ikut ( itung itung nambah ilmu  agama  .. bukan karena ada kadonya lho ??!! :) ).

Pengajian di buka oleh teman saya yang bertindak sebagai sahibul hajat. Lantunan ayat-ayat Qur'an mulai menggema ketika setiap yang hadir membaca qur'an (tilawah) secara bergiliran. Selesai tilawah, acara pun dilanjutkan dengan pengumpulan infaq, setiap anggota kelompok menyisihkan uang seikhlasnya untuk di kumpulkan dan masuk ke dalam kas kelompok pengajian, setelahnya baru masuk ke acara inti penyampaian materi oleh murrobbi (guru). Selesai penyampaian materi, kami masuk ke acara berikutnya, tukar kado.


Uniknya masing-masing anggota mengeluarkan kado yang telah mereka siapkan sedemikian rupa. Cuma saya yang tidak menyiapkan kado karena diajak spontan oleh tuan rumah.  Ada yang berbentuk kotak agak besar, ada yang seukuran kotak jam, dan berbagai macam rupa lainnya, dan tentu telah di bungkus dengan kertas kado dengan warna beragam. Supaya adil dan tidak bisa memilah mana kado yang akan di dapatkan, kami pun membuat nomor untuk setiap kado, dan selanjutnya di kocok seperti layaknya arisan. Qodarullah (nasib kale yaa !!), saya ketiban rejeki  mendapatkan kado berisi buku berjudul Panduan Lengkap Perjalanan Haji dan Umroh. Saya anggap itu sebagai salah satu doa agar Allah berkenan memberangkatkanku mengunjungi tanah suci-Nya, dan saya lihat teman-teman yang hadir pun mendapat kado beragam. Sepasang kaos kaki, buku panduan mengasuh bayi, dan lain-lain. Malam itu pun di penuhi dengan gelak tawa yang akrab, penuh kehangatan dalam persaudaraan, ketika melihat teman saya yang masih lajang mendapatkan buku yang seharusnya dimiliki oleh wanita yang sudah bersuami.


Selesai acara teman saya katakan bahwa acara tukar kado kami jadikan bagian dari mengaplikasikan anjuran dari Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam untuk saling memberi hadiah kepada sesama muslim. Begitu juga sebaiknya jika kita berkumpul disaat bersama keluarga besar minimal sekali setahun dengan memulai dari diri kita sendiri dan lalu bersepakat untuk selalu membudayakan kebiasaan yang mulia ini.. Insya Allah keluarga besar kita semakin bertambah kokoh menyayangi saudara kita semua dan jadikan kebiasaan ini sebagai  obat hati agar kebencian, apalagi sikap bengis, individualistis terhadap saudara dan anak kita berubah dalam perasaan CINTA penuh KASIH SAYANG.. Banyak kenangan yang selalu diingat seorang teman, saudara, keluarga dan orangtua apalagi anak maupun ponakan , bahwa memberi hadiah itu salah satu sikap moral yang membawa kebaikan sedangkan kita mengetahuinya dengan baik .dan hindari sikap hidup yang mengutamakan pengajaran atau konsep moral dari Hedonisme. 

Hedonisme  adalah sikap yang menyamakan kebaikan dengan kesenangan. Jadi semua kesenangan dan kenikmatan secara fisik selalu membawa kebaikan. Pandangan hidup ini mengajarkan pada pengikut atau mereka yang siap mengikutinya bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia harus dikejar, dan itulah target tujuan hidup yang paling hakiki bagi mereka lho !!. Pandangan hidup seperti inilah yang sekarang banyak di amini dan dijadikan tolok ukur dalam gaya hidup. Kita lihat sekarang sikap keji yang terjadi dari peristiwa penganiyaan anak, orangtua, dan lain sebagainya bertambah meningkat, dikarenakan tuntutan gaya hidup yang serba materialistik. Orang tua tega menganiaya sampai mati anak sendiri, sebaliknya anak membunuh orangtua sendiri  dan banyak kasus yang tanpa disadari di sebabkan oleh sikap hidup mengejar kesenangan  dan kebanggaan sosial.

Hukum Hadiah, Diperbolehkan dengan kesepakatan ( ulama ). Apabila tidak terdapat di sana larangan syar’i (sesuatu ketentuan dari yang menentukan syari’at yang terkait  dengan perbuatan mengandung tuntutan, kebolehan, dan larangan serta mengandung ketentuan sebab, syarat …githoo dech !!! .

Terkadang disunnahkan untuk memberikan hadiah apabila dalam rangka menyambung silaturrahim, kasih sayang dan rasa cinta. Terkadang disyariatkan apabila dia termasuk di dalam persoalan ‘Membalas Budi dan Kebaikan Orang Lain’. Dan terkadang pula, bisa menjadi haram atau perantara menuju perkara yang haram, dan ia merupakan hadiah yang berbentuk suatu yang haram, atau termasuk dalam kategori sogok-menyogok dan yang sejenis didalam aturan hukum yang berlaku.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‘Barangsiapa yang sampai kepadanya sebuah kebaikan dari saudaranya dengan tanpa meminta dan tamak, hendaklah dia menerimanya dan tidak menolaknya, karena sesungguhnya itu merupakan rezeki yang Allah Azza wa Jalla kirimkan kepadanya’.” (HR. Ahmad, Ath Thabrani, Ibnu Hibban, Al Hakim, Shahih At Targhib wat Tarhib [838])

Maka pendapat yang mengatakan wajibnya menerima hadiah apabila tidak ada di sana larangan syar’i. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menolak hadiah dikarenakan satu sebab dari sebab-sebab yang ada, bolehnya menolak hadiah apabila khawatir muncul fitnah dari hadiah tersebut, atau terdapat penghinaan terhadap orang yang mengambil hadiah tersebut. Ada satu kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menolak hadiah Ratu Balqis dikarenakan ia merupakan suap-menyuap di dalam perkara agama agar Sulaiman ‘alaihissalam tidak melarang dan membiarkan dia beribadah kepada matahari. Bila hadiah tersebut berupa suap-menyuap untuk mempengaruhi apalagi membatalkan kebenaran dan melegalkan kebathilan, maka tidak boleh diterima saat  itu.

Haram bagimu memberikan hadiah dan haram bagi mereka menerima hadiah tersebut dikarenakan itu merupakan suap-menyuap, dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap di dalam hukum.” (Shahihul Jami’ [5093])

Dalil-dalil khusus yang menunjukkan tidak bolehnya menolak sebagian hadiah disebabkan zat hadiah tersebut. Di antaranya:

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

“Tiga perkara yang tidak boleh ditolak: bantal-bantal, minyak wangi, dan susu.” (HR. At Tirmidzi dari Umar, dan terdapat di dalam Shahihul Jami’ [3046] dan Ash Shahihah [619] dan Shahih At Tirmidzi [2241])

Ath Thibi rahimahullah berkata, “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan bahwasanya tamu itu dimuliakan dengan memberikan bantal, minyak wangi, dan susu. Dan itu merupakan hadiah yang sedikit jumlahnya, maka tidak sepantasnyalah ditolak.” (Tuhfatul Ahwadzi [8/61], hadits no. 2942)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa ditawari raihan, maka jangan menolaknya, sebab raihan itu mudah dibawa lagi harum baunya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Musnad Abu Ya’la, Shahihul Jami’ [6268])

Ibnu Atsir berkata di dalam An Nihayah, “Ar Raihan adalah setiap tumbuhan yang harum baunya yang termasuk dari jenis wewangian.”

2. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menolak minyak wangi.”

Membalas Pemberian Hadiah ( yaitu membalas kebaikan orang yang memberi hadiah dengan hadiah )
Di sunnahkan membalas pemberian hadiah dengan yang semisalnya atau dengan sesuatu yang lebih afdhal dari hadiah tersebut, maka apabila dia tidak mampu untuk membalasnya, hendaknya dia menyanjung sang pemberi hadiah dan mendoakan kebaikan untuknya dengan ucapan :

“Jazaakallahu khairan  ( semoga Allah membalasmu dengan kebaikan ),” atau yang selainnya dari doa yang ada.

Dan demikian pula sebaliknya apabila hadiah tersebut berupa barang curian atau barang haram. Maka tidak boleh diterima karena yang demikian itu termasuk makan barang haram dan termasuk tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan. bila yang memberi hadiah tersebut menganggap hadiahnya sebagai hutang bagimu dan kamu tidak menginginkan untuk menanggung hutang tersebut, baik secara syar’i maupun secara kebiasaan, maka boleh bagimu untuk menahan diri dari mengambilnya disertai dengan meminta udzur. 
Dan demikian pula bila sang pemberi hadiah tersebut adalah seorang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya dan menceritakannya, maka tidak boleh diterima hadiah itu darinya.

Hadiah diberikan untuk Kerabat yang Terdekat Itu Lebih Utama ( kedekatan dari sisi nasab dan bertetangga ).

Di dalam Ash Shahihain diriwayatkan bahwa Maimunah radhiyallahu ‘anha pernah suatu kali memerdekakan seorang budak wanita, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya,

“Ketahuilah sesungguhnya kamu jika memberikannya kepada paman-pamanmu (dari pihak ibu) niscaya kamu akan mendapatkan pahala yamg lebih besar.” (HR. Al Bukhari [2592], dan Muslim [999])

Dan di dalam Shahih Al Bukhari (2595) diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua orang tetangga, maka siapakah di antara keduanya yang lebih layak aku berikan hadiah?” Beliau menjawab :  “Kepada yang lebih dekat pintunya darimu.”

Maka bisa diambil faedah dari dua hadits ini bahwa kerabat itu lebih didahulukan di dalam pemberian hadiah dari pada orang asing. Dan apabila para kerabat itu setara dalam tingkat kekerabatan nya, maka didahulukan yang paling dekat pintunya. Dan ini semua apabila mereka sama-sama membutuhkan.  

Al Hasil : Bahwa hadiah dalam kehidupan antar individu dan komunitas manusia memiliki pengaruh yang signifikan untuk terwujudnya ikatan dan hubungan sosial, momen-momennya senantiasa terulang setiap hari di acara-acara keagamaan dalam momen puasa ini kita mengirim hadiah takjil atau mengantarkan makanan ke Mertua atau orang yang kita hormati, kemasyarakatan, dan lainnya. Dengan hadiah, terwujudlah kesempurnaan untuk meraih kecintaan, kasih sayang, sirna nya dengki , dan  Insha Allah wujud dari hati yang IKHLAS .

Hadiah merupakan bukti rasa cinta dan bersihnya hati seseorang , padanya ada kesan penghormatan dan pemuliaan. Dan oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan menganjurkan untuk saling memberi hadiah serta menganjurkan untuk menerimanya.

Akhirnya, dalil hukum dalam hadist dikatakan wajib menerima hadiah dan tidak boleh menolaknya kecuali bila didapati larangan syar’i atau udzur maka boleh menolaknya.

Wallahualam bissawab, Semoga kita terhindar dari segala keburukan sikap juga moral  dan selalu dilindungi Nya dalam kebaikan di dunia wal akhirat.

support by 201el.
Sumber bacaan :
·        Menebar Cinta dengan Hadiah karya Ibrahim bin Abdillah Al Mazru’i (penerjemah: Ibnu Musa Al Bankawy), penerbit: Al Husna, Jogyakarta.
·        Yezi-al-hikmah.blogspot,com /2013/06/harmoni-alam.