Showing posts with label Renunganku. Show all posts
Showing posts with label Renunganku. Show all posts

Wednesday, 27 January 2021

ADA MASALAH JILBAB DI ESEMKA PADANG

Kenapa beberapa tahun terakhir ini saja di Indonesia yang bilang jilbab itu kewajiban? Kenapa dulu-dulu orang tidak bicara kewajiban? Di zaman Belanda lalu ke zaman Jepang dan baru di tahun 80-an rame sampai pake ribut segala soal jilbab ini.

Sebenarnya,  yang percaya jilbab itu kewajiban silahkan, tapi jangan memaksakan orang harus pakai jilbab seperti kejadian di sekolah SMK negeri di Padang itu. 

Bukti bahwa ada pemaksaan ber jilbab ini adalah bentuk pemaksaan yang harus dihentikan. Bagi yang percaya itu budaya juga silahkan gak ada masalah kalau hal tersebut didasarkan rasa suka dan senang..ya silahkan. Gak usah jadi masalah apalagi dibawa bawa ke ranah politik.. kayaknya gak gitu juga.

Dalam sejarahnya, penggunaan hijab ini, baik dalam keyakinan Yahudi maupun Kristen, adalah simbol kesederhanaan dan kepantasan. Perintah penggunaan penutup kepala bagi perempuan itu seperti larangan mengenakan topi bagi laki-laki saat berada di dalam gereja (begitulah pesan Santo Paulus). Karena itu jika ada umat Kristen dan Yahudi kontemporer yang menolak hijab sebetulnya mereka telah mengingkari dan menolak asal-usul dan warisan sejarah dan tradisi agamanya sendiri. 

Lalu, bagaimana cerita hijab dalam sejarah Islam?

Menariknya, masyarakat Arab pada mulanya tidak mengenal tradisi hijab ini lho. Kebudayaan Byzantium dan Persi-lah yang memperkenalkan “budaya hijab” ini ke masyarakat Arab.

Mungkin karena dianggap sebagai “tradisi yang baik”, sejumlah agama kemudian mengadopsi “tradisi berhijab” ini menjadi bagian dari norma keagamaan. 

Memang jika kita mengkaji secara mendalam dengan perangkat keilmuan (bukan dengan keimanan) kita akan mendapatkan sejumlah tradisi atau kebudayaan masyarakat yang kemudian menjadi ajaran-ajaran normatif agama.

Dengan kata lain, ada budaya yang dinormakan atau “diagamakan.” Ada pula agama atau norma yang dibudayakan. Hijab adalah salah satu contoh dari budaya yang “dinormakan/diagamakan” tadi.

Pemerintah Arab Saudi sekarang 2021 tak mewajibkan penerapan peraturan mengenai busana Muslim dan aktivitas para perempuan tersebut. Bahkan, tidak ada larangan bagi wanita di Arab Saudi soal bagaimana mereka berpakaian dan mereka boleh tidak mengenakan busana Muslimah, seperti hijab, cadar, nikab atau burka. Katanya Arab Saudi masuk era modernisasi.

Kementerian Budaya dan Informasi Pemerintah Arab Saudi Khaleed A.A. Al Ghamdi, baru-baru ini di Riyadh mengatakan, adalah hak para wanita Arab Saudi untuk mengenakan busana yang mereka sukai.

Adakah hubungannya antara pakaian dan kesalehan, antara jubah atau jilbab dengan kebaikan, moralitas, dan perilaku seseorang? Jelas tidak. Itu hanya sehelai pakaian. Tidak kurang, tidak lebih. Karena itu keliru besar jika orang2 di Barat sana misalnya yang mengaitkan antara jubah & hijab dengan radikalisme, ekstremisme, anti-kemanusiaan dan seterusnya. 

Hal itu sama kelirunya dengan sebagian kaum Muslim di Indonesia yang menganggap orang Islam lain yang tidak berjubah & berjilbab itu sebagai Muslim kafir. Lebih konyol lagi jika ada yang beranggapan bahwa surga itu hanya untuk kaum Muslim yang berjubah dan berjilbab...( benar kah ? ).

Beragama itu tidak cukup hanya membaca ayat ini, hadis itu, perkataan ulama ini-itu, tanpa melihat konteks ayat, hadis, dan perkataan ulama tadi.

Segala sesuatu ada konteksnya. Setiap dalil ada sejarahnya. 

Begitu pula risalah tentang “hijab” ini: Ada sejarah dan konteknya. Jika umat Islam membaca dengan teliti dan seksama diiringi dengan pemahaman sosial-kesejarahan, maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya tidak ada “juklak” dan “juknis” mengenai berhijab ini.

Dulu tahun 70 sampai 80 waktu penulis di Padang, pelajar di Padang tidak ada menggunakan hijab dan sejenisnya sebagai pelengkap seragam sekolah tapi seragam tersebut menutup aurat, yang penulis ingat hari Jumat, pelajar perempuan wajib mengenakan baju kurung dan selempang kerudung.




Orang tua dan saudara penulis serta keluarga para ulama tetap menggunakan pakaian yang sederhana dan menutup kepala mereka dengan selendang kain. Dan jika sholat ibu dan saudara perempuan ku tetap menggunakan mukena dan kain sarung yang bersih.

Begitu juga dengan ayah dan kakak lelaki penulis memakai kain sarung dan kopiah hitam kalau pergi sholat ke mesjid atau surau. Dan ada yang pakai celana pantofel / kain untuk melakukan shalat..dengan baju yang dilapis jas dan memakai syal bila sholat subuh, kalau masalah jenggot tergantung pribadi masing-masing mereka gak pernah pakai abaya atau celana cingkrang seperti yang saya lihat sekarang.. penulis berpikir bahwa pakaian yang dipakai itu bersih dari najis dan menutup aurat maka semua itu memenuhi syarat melakukan sholat.sederhana sekali tapi tidak mengurangi nilai ibadah sholat tersebut.

Jadi kalau tidak mengguna
kan hijab dikatakan tidak menghormati budaya daerah kayaknya gak nyambung juga ya, sebab pakaian tradisional Minangkabau tidak ada jilbabnya. Karena pakaian tradisional Minangkabau yang dikenakan umumnya berbentuk kerudung yang terkancing rapi menutupi tubuh yang menggunakan nya serta kerudung.

Kembali ke soal budaya berpakaian atau berhijab itu adalah soal keyakinan dan hak pribadi masing-masing ... Bagi yang percaya itu budaya juga silahkan gak ada masalah kalau hal tersebut didasarkan rasa suka dan senang...bagi yang gak suka silahkan. Prinsipnya jagalah aurat kalian, pakaian itu mencerminkan siapa pemakainya...

By :ae



Sunday, 31 December 2017

Kisah Diujung Tahun 2017.

Gak kerasa yah ...kita sudah berada di ujung tahun 2017  berakhir sudah.

Banyak kisah dan cerita menarik, namun tak sedikit kisah-kisah sedih yang kita alami. Semua itu adalah pelajaran yang berarti dan semoga tak akan kita alami kembali di tahun 2018.

Namun kita berharap, kisah sukses di tahun 2017 bisa dijadikan momentum yang tak terlupakan untuk dipertahankan di tahun 2018.

Hal-hal yang belum tercapai karena berbagai sebab, tentu harus diupayakan dan diraih di tahun 2018 agar target hidup lebih bermakna dan indah pada waktunya.

Melewatkan suasana pergantian tahun baru aku nikmati dalam nuansa kekeluargaan dan persaudaraan. Ini akan lebih berarti di moment pergantian tahun, walau sekadar kumpul bersama keluarga dan teman serta tetangga, pergantian tahun ini cuaca  cerah dan sedikit mendung.

Minimal berkumpul di ruang publik perumahan kami ini terasa banget kompaknya warga bergembira bersama, kami sepakat untuk tidak merencanakan keluar rumah merayakan pergantian tahun dengan segala hingar bingarnya kembang api.😁

Intinya tahun depan harus lebih baik karena itu saya berpesan kepada saudara saudaraku :

*barang siapa yang hari esoknya lebih baik dari hari ini, maka itulah ciri-ciri orang yang beruntung.*
hehehe.

Wednesday, 10 May 2017

Arti Kebajikan

Kenikmatan hidup dan kehormatan hidup itu berbeda dan berlawanan. Kalau saya mau hidup terhormat, pasti tidak nikmat. Kalau saya mau sepenuhnya menikmati hidup, maka pasti tidak bisa dikatakan terhormat. Lalu bagaimana menikmati hidup? Apa ukuran kenikmatan itu bisa diperoleh???  
                         
Aristoteles mengatakan bahwa kesenangan adalah aktivitas yang selaras dengan kebajikan dan keutamaan moral.    
             
Kebajikan itu identik dengan kesenangan sejati. Kita tidak bisa melakukan tindakan yang sesuai dengan keutamaan moral hanya karena mau mendapatkan kehormatan saja.

Kita bertindak dengan tepat supaya mendapatkan kesenangan. Tetapi kesenangan sejati tidak bisa direduksi dengan kesenangan yang hanya dinikmati sendiri.                                                                

Ada begitu banyak kesenangan yang lain, yaitu kesenangan yang diperoleh ketika dihargai oleh orang lain, ketika menghargai orang lain, ketika dapat menolong orang lain, ketika dapat membela kebebasan orang lain, dan seterusnya.    
                                                  
Siapa yang mereduksi kesenangan dan kenikmatan  hidup pribadi dalam nilai rupiah semata  maka  jiwanya sedang sakit. Dia tidak sehat, apalagi senang. Kesenangannya adalah kesenangan palsu. Kesenangan jiwa adalah kesenangan yang utuh dan dinikmati oleh diri dan orang lain....

Sunday, 13 November 2016

Hidup Butuh Persaingan

Hidup di era globalisasi saat ini penuh dengan hiruk pikuknya kompetisi dengan kata lain persaingan. Persaingan antar individu, kelompok atau negara dengan negara lain makin berkobar seakan tak kenal lelah mencari tahu siapa yang berhak memimpin dan siapa yang ber hak dibelakangnya. 

Persaingan berakibat untuk harus bekerja keras dan sampai memforsir tenaga, pikiran, dan waktu untuk meraih kemenangan. Ada juga yang menyerah dalam persaingan ini lalu membiarkan dirinya terbawa arus kehidupan. 


Dan sebagian ada juga yang bersaing setengah setengah yang pada awalnya saja bersemangat. Lalu ada yang menganggap kemenangan tak ada artinya tapi ada sebagian lagi kemenangan adalah segala galanya.

Macam ragam kehidupan bernuansa persaingan memberi akibat yang alami harus menentukan siapa yang berhak jadi pemimpin dalam persaingan itu.

Persaingan bagai dua sisi mata uang logam, disatu sisi berdampak positif disisi yang lain mengakibatkan dampak yang buruk. Jika persaingan berdampak  positif maka bisa diartikan persaingan itu sehat dan dalam kebaikan. Sebaliknya persaingan yang negatif akan memberikan dampak buruk ketika persaingan ber nuansa kecurangan dan motif motif keburukan. 

Sayang sekali sekarang ini kita menghadapi suasana persaingan  yang kadang sehat dan sering kali dalam suasana kurang sehat .selain dikarenakan ketidak mampuan memahami esensi persaingan maka setiap individu ataupun kelompok lebih mengedepankan EGO nya untuk menjadi nomor satu.

Kalau kita mau memahami esensi nya persaingan itu, bahwa hakikatnya persaingan yang positif akan memberi dampak dalam kebaikan bersama. Karena persaingan adalah salah satu cara untuk mencapai target tertentu dalam gabungan kelompok kelompok yang di tata sedemikian rupa. Artinya yang kita lihat bukan sekedar objeknya tapi subjek dari pelaku pesaing. Sehingga persaingan bukan permusuhan tapi membuat suatu bentuk kerjasama untuk kesuksesan bersama. 

Karena dari tujuan persaingan itu pemenang mampu memberikan nilai positif kepada semua kelompok.

Untuk kita ketahui bersama nilai persaingan yang kita ciptakan itu bukan sekedar menjadi nomor satu tapi bagaimana cara kita berjuang mengerahkan kemampuan puncak yang optimal. 

Ketika pengerahan kemampuan telah memenangkan banyak hal maka bukan sekedar penambahan skill dan atau pengalaman tapi bersiap siaplah karena Allah Subhanahuwata’alah telah menyiapkan setumpuk apresiasi  bagi mereka yang bersaing dalam kebaikan. Apresiasi itu bukan bagi pemenang persaingan tapi bagi yang mengerahkan kemampuan puncak optimalnya.

Banyak orang berpikir bahwa persaingan itu hal yang kotor dan menjijikan serta melelahkan. Padahal jika persaingan itu benar benar sehat dengan mindset yang benar justru berdampak positif pada pengembangan personality pelakunya. Sebenarnya kegagalan itu milik mereka yang takut bersaing dalam hidup ini. Filosopinya “berani hidup harus berani bersaing”. Persaingan itu dapat meningkatkan kompetensi mereka yang tergabung didalam kelompok kelompok yang bergabung.

Dalam dunia usaha dapat kita jadikan contoh bahwa “berjuang dalam usaha /bisnis, persaingan akan memperoleh banyak keunggulan karena makin terlatih dan terasah dalam mengembangkan usaha agar maju dan akan ditempa lingkungan usaha tersebut. Karena motivasi eksternal akan mendorong kita terpacu untuk mengerahkan kemampuan puncak yang optimal.

Namun sayang sekali, banyak diantara kita yang salah kaprah dalam menghadapi medan persaingan ini. Hasrat ingin menjadi nomor satu biasanya menjadikan persaingan selalu mencari segala cara yang negatif dan tidak sehat agar bisa jadi pemenang. Selain itu ada hal yang kadang membuat orang memahaminya bahwa menjadi nomor satu sebagai tujuan. Berakibat banyak orang patah arang diawal nya dan akhirnya tidak mampu meraih target dan ketika gagal ia gundah.

Padahal pemenang itu bukan maksudnya menjadi nomor satu karena hal tersebut adalah bunga dari kemenangan. Kemenangan sesungguhnya adalah mampu untuk mengerahkan kemampuan puncak optimalnya dalam persaingan itu.

Saingan itu bukan lawan tapi partner atau tepatnya mitra tanding alias “sparring partner. Secara langsung mitra ini juga mendapat manfaat pengalaman dan kemampuan baru dari persaingan itu.

Partner bukan berarti pendukung secara langsung tapi sebenarnya bersaing dengan kita pun adalah pendukung kita secara tak  langsung.

Kesimpulannya:

Secara hakiki, bahwa persaingan bukanlah bagaimana menjadi nomor satu.tapi bagaimana kita bisa mengerahkan potensi puncak yang optimal menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena sukses tidak datang dari langit tapi harus ada usaha yang terorganisir baik.

Persaingan bukan lah permusuhan yang melekat tapi dalam arti “ Mitra Tanding” yang secara tak langsung akan memberi dampak positif bagi kita mengerahkan potensi positif yang kita punya baik itu individu maupun kelompok  untuk berusaha keras menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Artinya akan menimbulkan mutualisme yang membuat orang menjadi lebih baik dan bisa memahami manfaat dari persaingan. Dan akan membuat kita berani untuk bersaing serta berani keluar dari zona nyaman dan berani mengembangkan diri di dunia ini dalam “ pertarungan” yang saling memberi manfaat..

Selamat menempuh kehidupan ini untuk menjadi “pesaing globalisasi”. Kemandirian bangsa ada ditangan para pesaing yang handal.

by. hdj12

Sunday, 17 July 2016

Sebuah Makna Hidup .

Di balik keringat yang deras itu, ada banyak harapan yang tertanam di sana. Hidup bukanlah sebuah protes, melainkan sebuah proses yang harus dijalani.

Proses hidup tak kenal kata indah atau buruk. Indah dan buruk itu sebuah kewajaran. Mengingat di dunia ini diciptakan berpasangan.

Jika sekarang kita mengalami demikian, maka dengan semangat, doa yang terpacu pada harapan, suatu saat kelak keburukan yang kita anggap teman pasti akan menjauh dan mengantarkan kepada keindahan.

Beginilah hidup, ada kalanya kita mudah mendapatkan apa yang kita inginkan, namun terkadang yang sudah ada di depan mata pun masih susah untuk menggapainya.  Mungkin kita butuh kata sabar.

Kata ibu padaku..jadi penulis itu menyenangkan, mengindahkan pikiran dan juga hati..tuliskan kata yang menggugah dunia, kumpulkan tinta mimpimu, rangkailah jadi kisah yang mengharumi bumi, tebar  dan buncahkan semangatmu ke setiap pribadi.

Terpikir dalam hati ini; “Akan datang suatu masa di mana ku akan berjalan sendiri. Hanya Allah saja yang akan menjadi pelindungku“.

Berjalan sendirian, tanpa orang terkasih,  gelap, dan pandangku menggelap, ketika ku pernah mencakar keadaan, ku tonjok udara yang hampa, hingga ku tersadar, semua ini takdir Tuhan.

Tidak ada yang indah selain ikhlas menerimanya. Protes berarti sia-sia dan takkan merobah apapun untuk diriku..hanya sedih dan sakit hati, inilah jalan hidupku hingga ku benar-benar akan berjalan sendiri, yang ku bisa hanya mencurahkan keluh kesah atau nada ceria kepada Tuhanku.

Bukan karena Tuhan tak mengabulkan keinginanku lantas ku membenci Nya, melainkan karena inilah salah satu pemberian Nya  yang terindah ku dapatkan, hingga ku selalu bersujud  untuk mengharap berkah kasih sayang  Allah.., ku bisa merasakan selimut kasih sayang Nya dalam bait doa di setiap waktuku pada  Allah dan memohon;

“Sejukkan hati dan pikiranku ini  Ya Allah…Aku tahu Hidup itu Proses dan tak ada Hak ku untuk Protes pada Mu….”.



By: Ey

Saturday, 2 July 2016

Bermuhasabah Tentang Sikap Jujur

Sejauh mana kita sebagai umat muslim dapat menjadi manusia yang seutuhnya? Manusia yang taat dan takwa kepada Allah Subhannahu wa Ta'alaa. Dapat bersikap jujur dan menjadi tauladan bagi sesama….seperti yang dikatakan oleh Ali Bin Abi Thalib, orang yang jujur itu akan mendapatkan 4 hal, KEPERCAYAAN, CINTA dan RASA HORMAT, Sabar. Ini tidak semudah lidah berbicara. Namun pahala sifat itu amat indah, percaya dan yakin bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan jujur. Mari kita latih diri kita untuk selalu berbicara yang benar faktanya.

Karena Allah mengetahui segala-galanya. Dan sifat jujur itu adalah pertanda orang yang sehat dan waras. Salah satu tanda-tanda hari kiamat kata pak ustadz ketika kudengar di mesjid, saat diangkatnya amanah, dan urusan umat akan diserahkan kepada orang yang tidak tepat dan tidak mampu menanganinya.

Kemudian, salah satu tandanya lagi adalah orang jujur akan dikatakan pengkhianat. Maksudnya, nanti orang orang jujur akan diragukan dan tidak dipercaya lagi.

Sementara itu, pendusta, orang munafik, orang yang pandai bersilat lidah dan pengkhianatlah yang akan dipercaya. Ini sudah terlihat kasat mata di depan kita saat ini.

Rasulullah Saw bersabda, "Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” (HR. Bukhari-Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud)

Berani jujur itu hebat. Berani jujur itu suatu kebanggaan. Itu slogan sebuah lembaga anti rasuah. Berlaku curang sudah membudaya dalam keseharian kita di Indonesia. Saat kecil terbiasa menyontek, beranjak remaja biasa melanggar aturan lalu lintas. Kalau jadi pejabat menjadi biasa mengambil duit rakyat. Kalau jadi pengusaha biasa tidak membayar pajak. Kalau kelakuan  curang jadi biasa, berarti jadi jujur itu disebut luar biasa.

Jadi, silahkan pilih masih mau yang biasa biasa saja kah?
Ayo..bersikap jujur demi diri sendiri dan masa depan negeri ini!!

Punya teman yang jujur itu rezeki.
Punya teman yang mengajarkan kebaikan itu rezeki.
Punya teman yang bisa diajak suka dan duka itu rezeki.
Punya teman yang menerima apa adanya itu rezeki.
Punya teman yang tidak bermuka dua itu anugerah.

Luqman yang bijak menasehati anaknya. Dia berkata,
"Wahai putraku.. hendaklah perkara pertama yang engkau cari setelah iman kepada Allah, adalah sahabat yang jujur. Sesungguhnya sahabat yang jujur itu seperti pohon yang rindang. Jika engkau duduk di bawah naungannya, dia akan menaungimu, jika engkau mengambil sesuatu darinya, dia akan mengenyangkanmu dan jika dia tidak bermanfaat bagimu, dia tidak mencelakakanmu”.
Jujur itu bukan masalah sebuah kemenangan atau kekalahan. Jujur pada diri sendiri merupakan sebuah cara sederhana untuk mendapatkan kebahagiaan.

Jujur saja..aku menulis soal ini untuk menasihati diriku sendiri. Dan kalau ada yang mendapat manfaatnya, apa salahnya kan. Kita bermuhasabah diri bersama semata karena Allah. 


Selamat berpuasa, sahabatku dimana saja berada.


By: EY

Saturday, 21 May 2016

Kebangkitan Peradaban Bangsa..

Dalam memaknai hari Kebangkitan Nasional tahun ini. Saya sangat prihatin melihat fenomena krisis sosial dan moral di beberapa wilayah negara kita, bisa dilihat faktanya sangat mengerikan dan jauh dari rasa saling menghargai hak dan kewajiban individu dalam melindungi, menyayangi dan saling nasehat menasehati apalagi memberi contoh tauladan yang baik dilingkungannya sendiri. Sebelum saya teruskan menulis ada baiknya pembaca mohon untuk memakluminya karena tulisan ini jauh dari harapan pembaca...saya menulis sesuai dengan apa yang saya pikirkan dengan cara yang sederhana.

Selanjutnya, saat ini yang salah dan benar atau yang patut dan yang tidak patut sudah tak lagi menjadi nilai yang kita anut dan yakini dalam kehidupan saat ini. Kalau boleh disebut bahwa bangsa kita sudah berada (minjem istilah para pakar) dalam keadaan “darurat krisis budaya yang jauh dari nilai harkat dan martabat kemanusiaan”.


Kita semua mungkin telah tercerabut dari budaya leluhur yang merupakan karakter diri kita masing masing dimana kita tumbuh dan berkembang selama ini. Kita tidak lagi berpegang kepada nilai budi pekerti dan ke-arifan berkeluarga dan bermasyarakat. Kita silau dengan budaya entertain orang asing yang dianggap modern, logis, bebas dan tak terikat kepada aturan nilai keyakinan kepada yang Maha Pencipta Alam Semesta ini. Melalui media teknologi informasi yang tersedia di depan mata kita. Kita semua termakan oleh tayangan dan informasi yang sangat menyimpang dari logika berpikir. Dunia teknologi informasi ini hampir dikatakan wujud khayalan dan jauh dari realitas kehidupan nyata hanya sumber inspirasi semata, (dunia entertain yang direkayasa) selanjutnya tanpa kita sadari menciptakan budaya baru yang jauh dari hakikat budaya yang kita anut selama ini. Budaya secara definitif adalah kekayaan material dan spiritual suatu ras dan bangsa, sedangkan peradaban adalah akumulasi material dan spiritual manusia secara keseluruhan. Peradaban adalah milik manusia secara keseluruhan, sedangkan budaya adalah khas milik etnis tertentu. Oleh karena itulah, budaya bersifat membedakan satu etnik dari etnik lainnya, sementara peradaban bersifat menyatukan.  

Dengan demikian teknologi sebagai bentuk konten budaya entertain telah merubah pola pikir generasi yang menelan mentah informasi ini dan bermetamorfosis dalam krisis sosial dan moral yang terlihat di negeri kita pada hari ini dan tanpa kita sadari telah bersikap permissive dengan keadaan yang terjadi tanpa berpikir kritis menerima hal tersebut. Contoh seperti melakukan korupsi, mengkonsumsi narkoba dan pemerkosaan serta penganiayaan...teknologi informasi yang tidak dikelola pemerintah sebagai penjaga moral dan peradaban bangsa, terlihat nyata sudah sangat berpengaruh besar serta berdampak terhadap kehidupan bermasyarakat. Terutama rakyat kecil khususnya generasi muda termasuk sebagian kaum dewasa. Dalam keadaan yang seperti ini mungkinkah kita sempat bertanya dalam hati, mengapa krisis sosial dan moral sampai menimpa bangsa Indonesia sedemikian getirnya ? Bukankah kita yang mayoritas beragama islam sudah punya kitab yang menjadi petunjuk yakni Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman hidup lalu kita juga mempunyai nilai adat dan budaya dalam menata cara hidup yang bermoral dari leluhur kita masing masing kesukuan, tentu saja telah menjadi ciri identitas asal usul pribadi yang menjadi kan seseorang itu menjunjung tinggi akan harkat dan martabat manusia dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur yang harus kita ajarkan kepada generasi ke generasi. Tapi apa yang terjadi saat ini kita sebagai anak bangsa tak lagi peduli dan meremehkan tentang ajaran keluhuran akal budi yang menjadi cermin identitas bangsa yang menjaga sopan santun dan berbudi luhur dalam menjaga moral sebagai pedoman hidup. Dan kita merasa bangga meniru propaganda budaya pop dan entertainer yang diinformasikan secara tidak bertanggung jawab, dengan semua itu kita malah bangga untuk memberi contoh dan mengajarkan generasi muda kita tumbuh dan  jadi budak teknologi informasi tersebut secara mudah. Mereka gunakan teknologi tersebut sepanjang waktu tanpa kenal lelah dan menjadi manusia anti sosial. Seiring dengan berkembang pesatnya budaya pop materialistis yang berasal dari luar, telah menjadi daya tarik yang menyilaukan pikiran generasi muda dan malah membuat sebagian generasi yang sudah dewasa pun telah buta akal terhadap nilai budaya yang mereka terima dari leluhur mereka. Malah menganggap budaya leluhur mereka sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Mereka lebih tertarik pada budaya luar yang kita anggap modern dan futuristik katanya. Lalu kita telan dalam pikiran tanpa memfilterisasi dari sisi baik buruknya. Tapi justru sebaliknya, menjadikan hal tersebut sebagai hal yang biasa.

Seharusnya  kita bisa menyeimbangkan antara teknologi dan budaya yang kita punya. Kita harus memiliki keseimbangan antara mengikuti perkembangan globalisasi dengan menjaga dan menjadikan budaya sebagai karakter diri kita sendiri dalam tumbuh kembangnya kemajuan budaya milik kita sendiri.

Generasi muda seharusnya bisa lebih cerdas mengkolaborasikan teknologi dan budaya yang kita anut .Contoh nya dalam membuat lagu daerah atau kesenian, kita menanggapi kemajuan teknologi informasi tanpa melupakan identitas bangsa yaitu budaya kita sendiri. Melalui lagu daerah inilah rasa cinta terhadap budaya bangsa akan terpupuk. Dengan kreasi modern dalam menggubah lagu daerah yang mengandung unsur budaya yang kita anut akan menjadi pendamai antara teknologi dan kebudayaan bangsa dan sekaligus memperbaharui nya sesuai keadaan zaman. Bukan mengeksploitasi teknologi dalam konten pornografi dan lain sebagainya, apalagi pelecehan martabat dan nilai kemanusiaan orang lain dilingkungan kita sendiri terutama menyangkut hak kehidupan kaum kerabat kita sendiri. Banyak contoh perilaku yang menjadi pencetus penderitaan orang lain yang dikarenakan keserakahan maupun ketidak pedulian sosial dalam masyarakat kita terutama yang memegang kekuasaan contoh korupsi dan manipulasi sosial. Mereka tidak peduli apalagi memikirkan ada hak orang lain dan kewajiban mensejahterakan orang lain dari kekuasaan yang mereka miliki.

Sehubungan dengan fakta yang terjadi dalam beberapa dekade setelah bangsa ini bangkit dari pelecehan dan penindasan dari bangsa asing (penjajahan) lalu meraih martabat dan harga diri melalui kemerdekaan, lalu kita lupa dengan penjajahan itu dan mencari identitas diri dari budaya entertain asing agar dianggap lebih maju dan modern. Para sosiolog dan budayawan sudah banyak mengkritik gejala krisis sosial-moral dan kebudayaan, tapi realitasnya bangsa Indonesia seakan tetap tidak mau mendengar, "malah para pengkritik dianggap sebagai sebuah radio yang sudah rusak". Kalau kita menengok kebelakang bangsa ini bukan hanya mengalami krisis moral an sich tapi sudah mengalami kemiskinan nilai budaya, buktinya? Kita sangat permissive dengan hal berbau pornografi dan aksi. Walau sebagian masyarakat banyak menentang  tapi tetap saja diharu birukan dalam kehidupan sehari hari. Keadaan yang dirasakan saat ini paling tidak telah mencederai atau dengan kata lain menodai nilai-nilai budaya di tanah air yang senantiasa melestarikan semangat multi dimensi yang terkandung didalam filsafa pancasila, malah tambah semangat untuk meniru budaya entertain asing melalui media yang tersedia di setiap keluarga bangsa tercinta ini.

Pola mengeksploitasi fisik wanita. Bagaimanapun kemasannya, ada satu hal yang itu sangat pasti: Pelarangan atau membuat aturan yang tegas terhadap tindakan pornografi dan pornoaksi ini harus di wujudkan pada satu tujuan yang ingin di capai yakni memberikan perlindungan dan pendidikan moral bagi masyarakat untuk selalu menjunjung tinggi akan harkat dan martabat manusia dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur, beriman, dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa.

Apa yang kita rasakan saat melihat kondisi kehidupan masyarakat kita, ketika ada kebebasan berekspresi dan bereksploitasi terhadap sex, melalui berbagai media dan handphone ini jelas-jelas menimbulkan ekses moral yang luar biasa, artinya peredaran dan perkembangan mengumbar seksualitas lebih banyak mudharatnya terutama bagi generasi anak bangsa kita dimasa mendatang.

Realitas ini memang sangat memprihatinkan semua pihak bagi yang mencintai kehidupan yang bernilai luhur di dalam diri setiap generasi muda karena ditangan mereka lah bangsa ini akan maju dan menjaga peradaban. Dapat dibayangkan, bagaimana nasib negeri ini yang dibangun diatas lembaran pornografi dan pornoaksi. Dari situlah saya mencoba memberi sebuah pembanding agar kita dapat melihat mana yang gelap dan mana yang terang yakni: Pertama Didalam keluarga harus ada keinginan kuat melakukan pembinaan moral agama yang aplikatif. Kedua tindakan hukum yang memberi sanksi yang tegas baik itu keluarga maupun pemerintah. Ketiga sudah saatnya kita atau masyarakat menyadari bahayanya pornografi, pornoaksi, narkoba, serta perbuatan korupsi itu merusak nilai kemanusiaan secara universal. Karena itulah penanaman nilai-nilai moral budaya serta agama sangat dibutuhkan bagi setiap warga sebagai filterisasi kehidupan bermasyarakat.

Kita pantas mengelus dada saat krisis ini menimbulkan efek ganda, yakni bagaimana keadaan masa depan bangsa dan budaya kita. Ini menyebabkan bahwa keluarga, masyarakat dan pemerintah Indonesia belum bisa melihat permasalahan yang terjadi dilapangan sebagai permasalahan yang serius sehingga disamakan dengan perbuatan krisis yang biasa-biasa saja.

Bila diamati secara detail, krisis dan kemiskinan itu berdampak sangat besar terhadap peradaban kita dan mengalami penurunan moral yang dahsyat pada kehidupan masyarakat Indonesia; pertama krisis moral yang dialami oleh anak-anak kita, kedua kemiskinan kebudayaan yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Menurut hemat saya pengaruh kebudayaan dan moral akan merusak kualitas berpikir generasi muda itu sendiri. Jika suatu bangsa mempunyai budaya yang bermoral maka, dalam waktu 20 tahun kedepan, kualitas bangsa tersebut akan mengalami kemajuan peradaban yang sangat signifikan.

Dalam konteks inilah kita dapat menimbang arti pentingnya budaya, moral yang bersifat holistik-universal dan menata pengertian budaya yang menyusun suatu strategi kebudayaan untuk menyongsong hari esok. Sebagai bagian dari realitas sosial, saya mencoba ikut sumbang saran dan berbicara tentang apa dan bagaimana kebudayaan itu. Tujuannya agar keabsahan kebudayaan sebagai totalitas bersikap ,seperti dikumandangkan para tokoh masyarakat dan pemerhati budaya dapat dibenarkan secara akademik.

Kalau kita mencermati apa yang diperbincangkan masyarakat, barang kali transformasi sosial yang sedang berlangsung saat ini, menunjukkan kalau masyarakat kita  telah bermetamorfose dari masyarakat berbudaya menjadi masyarakat cuek budaya, yang mana dinamika moral budaya pun bergantung pada situasi kondisional saja dalam makna seremonial komunitas bukan sebagai sumber spirit dalam kehidupan yang hanya dipakai untuk mensosialisasikan dan menginternalisasikan (secara paksa) etika budaya dan spirit semu yang telah menjelma menjadi buta akal (idol of the mind).
Melengkapi pendapat yang sudah disampaikan diatas maka faktor yang mempengaruhi maju mundurnya peradaban bangsa itu tak terlepas dari aturan yang dibuat oleh pemerintah atau kekuasaan yang termasuk dalam faktor immaterialistis, disamping faktor materialistis yakni faktor ekonomi, geografis dan geologis. Immaterialistis yang saya maksud aturan hukum yang berupa nilai-nilai moral yang mengikat antara satu individu dengan individu yang lain, sehingga tercipta dalam kehidupan sebuah aturan yang diakui keberadaannya oleh semua anggota masyarakat. Nilai-nilai moral inilah yang membuat perilaku masyarakat menjadi lebih teratur dan terarah pada satu tujuan yang sama. Dari sini dapat kita lihat pentingnya keyakinan terhadap hal-hal yang berada di balik materi (baca: agama), karena keyakinan ini sangat membantu terbentuknya nilai-nilai moral dalam kehidupan masyarakat. Tidak tersedianya semua faktor di atas menyebabkan peradaban tidak dapat tumbuh. Bahkan hilangnya salah satu dari faktor di atas bisa jadi cukup untuk menjadi sebab mundurnya, bahkan hancurnya sebuah peradaban. Secara terperinci dapat dikatakan bahwa hancur atau tidak berkembangnya sebuah peradaban bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti kemunduran tradisi berpikir yang disebabkan oleh munculnya paham yang kurang—atau bahkan tidak—menghargai fungsi akal atau tidak berorientasi kemanusiaan atau dekadensi moral yang menyebabkan masyarakat hidup dalam ketidak-teraturan atau hancurnya kaedah-kaedah lama yang menjadi dasar terbentuknya aturan-aturan sosial dan ketidak-mampuan untuk menciptakan kaedah-kaedah baru sebagai pengganti atau hancurnya keturunan karena berkurangnya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang disebabkan oleh tersebarnya filsafat-filsafat yang menyeru pada keputusasaan hidup atau terpolarisasinya kekayaan pada golongan tertentu yang menyulut timbulnya pertarungan antar kelas; dan lain-lain.
Kebangkitan sebuah peradaban mengisyaratkan adanya peraturan-peraturan pemerintahan yang mengatur hubungan antara satu anggota masyarakat dengan lainnya, antara anggota masyarakat dengan negara, dan seterusnya. Peraturan-peraturan ini selalu kita temukan dalam peradaban-peradaban lama, meskipun dalam bentuk yang masih sangat sederhana dan dengan kekuatan sangat lemah, sehingga kehidupan masyarakat pada saat itu lebih dekat pada ketidakteraturan dari pada keteraturan.
Akhir kata , bahwa peradaban-peradaban yang dimiliki oleh manusia sepanjang sejarah satu sama lain adalah saling berkaitan dan berkesinambungan. Tidak ada satu peradaban pun mampu berdiri sendiri tanpa mengambil khasanah yang dimiliki oleh peradaban lain, itu pasti—baik sebelumnya maupun semasanya—melalui proses belajar dan transformasi pengetahuan. Sehingga wajar kalau dikatakan bahwa sebenarnya tidak ada peradaban yang sama sekali hancur dan mati, karena meskipun satu peradaban telah berakhir masa hidupnya, tapi sisa-sisa khasanah yang dimiliki oleh peradaban tersebut masih dapat ditemukan pada peradaban lain yang masih eksis. Semua kembali kepada diri kita sendiri yang bermula dari komitmen akan kebangkitan kesadaran mengajarkan, membina dan menularkan ajaran budaya serta peradaban melalui aturan perilaku moral kebaikan didalam keluarga kita dan dampaknya akan membangkitkan serta memajukan peradaban itu ke seluruh hubungan berbangsa di negara ini..WalLâhu a‘lam.



By: ZM

Monday, 7 December 2015

Bahagia dalam Kesederhanaan

Kebahagiaan itu ada dalam hati dan pikiran (sangat personal, emang) gak perlu kita cari sampai ke bulan dan matahari..apalagi ingin mencari hidup ke planet Mars.., walau kita hidup dalam kesederhanaanpun akan selalu terasa indah.

Suasana hidup didunia ini tak ada yang berubah soal kebiasaan makan, minum, usia muda dan menjadi tua (sunnahtullah), yang berubah hanya ada dalam pandangan dan cara kita menjalaninya, karena negeri dunia yang kita tempati saat ini hanyalah satu episode dari alur kisah yang panjang. Kita bermain peran sesuai dengan skenario Allah. Hanya dengan menundukkan hati kita, merendahkan diri (ilah) kita dihadapan-Nya. Lalu semai lah benih benih kebaikan buat sesama, nasehat menasehati, agar hidup tidak menjadi hampa. Sesungguhnya seorang hamba (bisa jadi) melakukan suatu dosa yang pada akhirnya justru membuatnya masuk ke dalam Surga. Dan (bisa jadi) dia melakukan suatu kebaikan yang pada akhirnya justru membuatnya masuk ke dalam Neraka...semisal seorang hamba yang melakukan suatu amal kebaikan (namun justru pada akhirnya masuk kedalam Neraka), ketika ia (memiliki sikap) senantiasa merasa berjasa kepada Rabb nya, merasa sombong dengan amalannya itu, melihat kelebihan dirinya, merasa bangga terhadap amalannya dan ia pun menyombongkan prestasinya.

Dia selalu berkata, “Aku sudah berhasil melakukan ini dan itu” dan hal itu menumbuhkan perasaan ujub dan sombong, bangga diri dan meremehkan orang lain, yang pada akhirnya itu menjadi sebab kebinasaan dirinya (masuk Neraka). subhanallah..

Moga tulisan ini bermanfaat.

By.KT071215


Saturday, 21 November 2015

Hidup sederhana itu lebih produktif...

Suasana heningnya malam  membuat aku lebih mudah merenungi hidup ini, sungguh banyak perubahan dalam menyikapi hidup sehari hari dalam beberapa dekade yang aku lalui. Dan aku pun merasakan perubahan itu terjadi didalam diriku sendiri, contoh yang gampang dan sepele dari cara menjalani keseharian yakni  “hidup sederhana”.

Selama ini, terus terang aku punya persepsi  jika gaya hidup yang keren itu harus mewah dan waah..untuk memberi kesan kalau hidup aku itu akan menaikan harga diri dihadapan orang banyak. Pertanyaannya apa itu salah? Gak kan? Dan gak salah kalau semua itu memang hak pribadiku karena aku gak kepengen dipandang rendah derajatku dalam pergaulan. Dan itu dapat aku nikmati dan rasakan dari persaingan ego yang  ada di sekelilingku.

Sering ada perasaan yang gak bisa aku terima jika orang lain bilang “kamu itu gak keren banget deh, lagian bajumu itu berapa banyak sih kok warnanya gak ganti tiap hari? – bahannya juga pasti murahan ...”  tak bisa kupungkiri kadang ku paksakan diri memenuhi keinginan membeli asesoris yang mahal untuk beberapa pasang baju dan celana agar bisa berpenampilan sedikit mewah. Kemewahan ternyata bisa membuat aku percaya diri dalam bergaul sehari hari. Walau aku bukanlah orang yang disebut "berada", dan tentu saja penampilan seperti itu bisa menaikkan level derajat hidupku, dan dipuji plus dipandang tinggi oleh teman atau orang lain . Apalagi saat kemudikan mobil sport kesukaanku yang berstandar amerika, kereen abis ..deh !!. 

Hidup di Jakarta memang penampilan lebih diutamakan walau makan gak teratur dan lebih cenderung jamak qashar ,,hehehe ,yang penting gaya hidup cosmopolis bisa ku lakoni, aku jadi ingat istilah orang Menado bilang “biar kalah nasi asal jangan kalah aksi”, hehehe..keadaan inilah yang  memaksaku untuk bekerja tak mengenal waktu. Capek dan lelah kurasa memang...!! Demi gengsi dan ambisi aku harus jalani  job di banyak tempat di kota ini yang harus ku lakoni dengan semangat luar biasa namun tetap profesional. Soal kerja bagiku memang sangat ku nikmati. menurut pandangan teman ku sekantor dan relasi yang minta bantuan profesi ,aku type work-alkolik. 

Dalam soal makan pun  yang awalnya makan kenyang dan murah, perlahan berubah dari makan pake cakar, sekarang pake capitan kadang pake garpu sama pisau pemotong ukuran kecil. Soal busana juga, yang aku ceritakan diatas karena masalah derajat juga nih . Aku beralih ke busana ber merk kayak; Yvest St Lauren, Chanel, DKNY, Calvin Klein, Hugo sampe Chloe. Sungguh banyak yang berubah dari cara menyikapi hidup ini karena egoku dan lingkungan hedonis yang aku jalani sehari hari. 

Akhirnya usia juga yang memberi warning, terutama stamina mulai menurun dan tanpa kusadari beban psikologis sosial pun bertambah, ternyata aku salah menyikapi hidup ini. Lagi lagi yang namanya kebutuhan itu beda dengan keinginan. Aku merasa selama ini sibuk dengan banyak “keinginan” dibanding “kebutuhan”. Terasa bahwa memamerkan kekayaan dengan cara apapun, seperti yang sudah aku lakukan dengan bekerja sampai melewati batas waktu dan cara yang halal sudah membuat aku capek, lelah dan bosan, lain lagi ketika kubaca berita di media on-line. Ada orang lain yang punya kesempatan mendapatkan materi secara instan (korupsi atau menerima gratifikasi) karena faktor kekuasaan yang dia punya , lho..ini kan sudah termasuk kategori pengkhianatan terhadap amanat masyarakat termasuk harapan bangsa dan negara demi suatu keinginan pribadi apalagi kelompok , Aku sebagai orang profesional tidak bisa terima cara cara yang sudah keterlaluan ini dan lebih pantas mereka ini disebut manusia bejad dan tak tahu malu. Menjadi kaya itu dianjurkan agama. walaupun yang aku jalani menjadi keren selama ini karena faktor gengsi dan tidak mau diremehkan orang lain tapi tidak harus menghalalkan segala cara lho, yang aku lakukan selalu memacu diri bekerja keras dan meng up date kemampuan . Jadi aku layak mendapatkan semua yang aku inginkan. Jadi saat aku merenungi hidupku ,banyak perubahan telah terjadi dari hari ke hari. Dulu kalau kita mencuri uang orangtua kita, pas ketahuan ayah dan ibu rasa bersalah plus malunya sampai hari ini. Tapi sekarang ini, orang korupsi atau maling ketangkap basah sama KPK malah senyum dan bangga yaah. Apakah mereka ini sudah gila atau memang gaya hidup keren dan derajat hidup yang mereka idamkan itu membutakan hati mereka antara "salah dan benar ???". Atau ketakutan terhadap kemiskinan menjadikan kita jadi pendek pikiran ??? atau telah lunturnya keyakinan kita kepada azab Allah ??  Yaaah...sudahlah, kupikir Allah lebih Tahu dari manusia seperti aku .

Setelah aku banyak memperhatikan orang yang sukses dan mereka bisa eksis untuk mewariskan hasil kerja keras mereka untuk generasi di masa depan. Ternyata, kebanyakan dari mereka biasa hidup sederhana dalam arti memenuhi kebutuhannya saja .

Beda banget dengan karakterku, masa sulit dalam kehidupanku membuat aku mengejar keinginan dan tidak memikirkan sesuatu yang produktif semua uang ku habiskan buat hari ini dan besok cari lagi, bagi mereka yang kusebut "orang sukses" masa sulit mengajarkan mereka untuk berhemat dan mengontrol keinginan dengan membeli  sesuatu yang tidak produktif dan berani mencoba untuk menolak hambatan dalam pencapaian hidup yang lebih baik dimasa mendatang, itu sebabnya mereka memilih hidup sederhana untuk menjadi contoh bagi generasi mereka selanjutnya nanti. Jadi ada rasa tanggung jawab dan merawat hasil kerja yang mereka dapatkan. 

Walau agak terlambat aku menyadari bahwa hidup sederhana itu, seharusnya  “merelakan hal yang tak penting dan memprioritaskan hal yang penting sehingga kita fokus terhadap kualitas bukan pada kuantitas hidup“. 
Ketika aku masih kecil hidup ini terasa sederhana dan penuh harapan, setelah lama hidup kok dunia ini tambah rumit aja ya . Ternyata rumit itu dari diri sendiri . Rasa iri dan dengki melihat orang lain sukses hanya menghabiskan waktu kita untuk memikirkan apa yang di cita citakan orang lain . Harusnya seimbang kan hidup ini antara kebutuhan dan keinginan dan tentu saja meraihnya dengan bekerja keras , jangan khianati negara dan bangsamu ini dengan nafsu serakah mu untuk menjadi kaya secara instant. 

Terakhir ku kutip istilah orang pintar , yang selalu berkata: 
Betapapun sulitnya hidup, kamu  dapat lewati jika bisa mengontrol  kebutuhanmu. Setiap manusia terlahir unik dan beda,  jadi, jangan pernah ingin mencoba meniru orang lain. Menyesal kemudian tak ada gunanya.


HG211112


Thursday, 29 October 2015

Wajah Keangkaraan Manusia di Bumi Pertiwi

Bunda pertiwiku yang cantik  rupawan… Engkau tak pernah putus bertasbih memuji-Nya. Sedangkan aku hanya menikmati saja hasilmu melalui pergantian musim yang tlah diaturNya. Aku malu pada imanku yang tak lagi menggelora di dada.


Bunda… Engkau tak pernah marah, ketika ku hanguskan  kulit tubuhmu dengan api dan mata bor di setiap lekuk tubuhmu yang elok rupa. Walau wajah keangkaraan telah membutakan nurani ini, namun engkau tak pernah berontak apalagi marah mencubit atau memukulku, ketika ku timbun sisa plastik dan sampah busuk lalu kuserakan. Engkau masih saja tersenyum dan membelaiku dengan lambaian dedaunan yang rimbun. Sehingga diriku tak dapat disentuh sang mentari. 

Wahai bunda pertiwi ku, betapa sabarnya dirimu ketika akhlakku dikalahkan oleh keegoisanku. Kesombongan dan kepentinganku demi kapital dan keuntungan usahaku yang lebih di nomorsatukan…engkau tetap sabar..lalu mayat mayat kecil penerus generasi dari siksaan gas sisa pembakaran itu telah bergelimpangan didalam  perutmu..namun engkau tetap sabar….

Bunda, di usiamu yang telah renta, Kini kurasa semakin lama kesejukan darimu tak pernah lagi menghampiri, aku rindu suasana itu. Tempat berteduh dan rindangnya dedaunan makin sulit kucari untuk bermain petak umpet. Gersang, tandus, kering dan teriknya sang mentari serasa mencambuk diriku dengan cahayanya. Tak ada lagi rasa damai dalam jiwamu yang mulai makin redup karena menahan sakit.

Sesal menggumpal dalam hatiku wahai bunda, kehampaan dan gelisah. Apakah semua ini karena kelancangan sikap tanganku, engkau menjadi rusak dan nestapa? Wahai bunda, aku tak pernah menyalahkanmu…ini bukan salahmu, bukan juga kehendakmu. Engkau  korban dari kesombonganku, kelalaianku, ketamakanku dan kecerobahanku.. Aku menyesal. Aku berjanji padamu bunda, akan menutup semua kesalahanku dengan taubat nasuha. 

Aku akan hias diriku dengan do’a-do’a keselamatan dan syukur nikmat demi kehidupan dunia akhirat, bumi dan langit serta semua isi alam ini dengan rasa tawadhuk serta khusuk. 

Ya Tuhan, bersitkan hatiku dengan petunjukMu ke dalam diriku dengan segumpal ke insyafan. Bimbinglah aku ke jalan-Mu yang lurus. Agar aku dapat menjaga intan permata alam khatulistiwa  tetap indah dan ramah… 

Berilah petunjukMu ya Allah kepada saudaraku yang juga sibuk meraup keuntungan dengan tamaknya agar sadar…bahwa BUMI yang HIJAU adalah HAK KEHIDUPAN semua isi ALAM SEMESTA.


By: Api Prahara 291015

Wednesday, 2 September 2015

MAMPU ASAL BICARA ATAU BAIKNYA DIAM.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” 
(QS.Al-Ahzab : 70-71)

Sebenarnya tidak sulit mencari yang benar seperti apa dan kenapa lalu seharusnya bagaimana. Kita tinggal mencontoh manusia paling baik dan paling benar di muka bumi ini. Akhlaknya paling tinggi tingkatannya dan dia tidak pernah berkata-kata yang tidak baik apalagi perkataan yang keji dan kotor terrmasuk dalam bercanda sekalipun. Rasulullah Muhammad adalah contoh dan teladan terbaik dan kita tak perlu sulit mengambil contoh jika orang-orang disekeliling kita tidak layak dijadikan contoh. Firman Allah :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS.Al Ahzab: 22)

Dan dalam sebuah hadits. Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah
Muhammad bersabda: "
Siapa yang percaya dengan keyakinan yang tinggi kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang percaya dengan keyakinan yang tinggi kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang percaya dengan keyakinan yang tinggi kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya"  
HR. Bukhari & Muslim).


Jika kita tidak mampu berkata baik, maka diamlah. Kunci mulut rapat-rapat karena kata -kata yang tidak baik akan memangsa kita sendiri dan dapat menghancurkan orang lain. 
Namun sebaliknya jika kita mampu berkata baik, maka jangan tutup mulut tapi sampaikanlah sebanyak mungkin. Sesuatu yang baik yang tidak disampaikan akan sia-sia dan tidak memberi manfaat bagi orang lain bahkan untuk diri sendiri.

Karena tidak menyampaikan kebaikan dan kebenaran akan sama buruknya dengan orang yang berkata buruk.  Hal ini karena salah satu tanda baiknya Islam seseorang  adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat. Sungguh telah banyak terjadi pembicaraan yang bersifat mubah berubah menjadi haram.

Bahwa pembicaraan yang kita lakukan harus sesuatu yang baik menurut hukum, baik sunnah atau wajib. Bila isi pembicaraan bersifat mubah, sebaiknya seperlunya saja karena dikuatirkan lama kelamaan pembicaraan itu menjurus kepada hal yang tidak berguna bahkan tidak dibenarkan  menurut syariat. Banyak petuah bijak disampaikan agar kita berhati-hati dalam bertutur kata. 

Teks kalimat yang digunakan pun bermacam-macam, ada yang menggunakan bahasa anak muda  sekarang hingga peribahasa warisan budaya bangsa.

“Memang lidah tak bertulang!”
“Mulutmu harimau mu!”
“Jikalau pedang lukai tubuh, masihlah ada harapan sembuh. Tapi jika lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari?
“Ajining diri ono ing lati (dalam peribahasa Jawa yang  artinya kemuliaan diri ada di lisan).”

Suatu saat Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memegang ujung lidah beliau dan berkata,

“Lidah ini (bila tidak berhati-hati) bisa menyebabkanku sampai pada tempat kesalahan dan celaka di dunia dan akhirat” 

Di kitab “Rawdhatul 'Uqalâ' wa Nuzhatul Fudhalâ'” Imam Ibnu Hibban al-Busti—beliau  juga penulis Shahih  Ibnu Hibban—menerangkan: Imam Abu Hatim ra. menjelaskan bahwa orang berakal harus lebih banyak mempergunakan kedua telinga daripada lisan. Dia harus menyadari bahwa diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu supaya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkan. Biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan akan menguasai dirinya.Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol apa yang akan dikatakan. Imam Abu Hatim ra. Juga menasihatkan bahwa lisan orang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun  orang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya, termasuk dalam menjaga lisan adalah menjaga tulisan.

Saat ini, begitu mudah kita menorehkan kata. SMS, forum, blog, jejaring sosial dan kolom komentar di situs berita online menjadi media utama sebagai ganti ucapan lisan. Mari kita perhatikan diri sendiri, tak perlu repot-repot mengamati orang lain.

Siapa pun kita, apakah kita murid, guru, mahasiswa, dosen, kepala keluarga, ibu, anak, pegawai, pengusaha, anak buah, atasan, anggota masyarakat, pemimpin formal/non formal, pejabat, politikus, anggota  kepolisian, tentara, santri maupun ustadz, mari kita evaluasi setiap perkataan/tulisan kita hingga detik ini. Apakah ucapan kita selama ini mengandung banyak manfaat ? Ataukah lebih sering bersifat mubah (tak ada manfaat dan mudharat)?  Atau lebih parah lagi yaitu menimbulkan kemudharatan ?    

Sahabat Ali bin Abi Thalib, memberi nasihat:

 “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang bermanfaat”.

Akhir Kata , Berbicara adalah ekspresi pembicara. Melalui pembicara, pembicara sebenarnya menyatakan gambaran dirinya. Berbicara merupakan simbolisasi kepribadian si pembicara.

Berbicara adalah ekspresi diri. Bila terisi oleh pengetahuan dan pengalaman yang kaya, maka dengan mudah yang bersangkutan menguraikan pengetahuan dan pengalamannya itu sebaliknya bila pembicara itu miskin pengetahuan dan pengalaman, maka yang bersangkutan akan mengalami kesukaran dalam berbicara.

Berbicara pada hakikatnya melukiskan apa yang ada di hati, seperti pikiran, perasaan, keinginan, idenya dan lain-lain. Karena itu sering dikatakan bahwa berbicara adalah indeks kepribadian.

Untuk itu, " Kita itu harus pahami dulu persoalannya baru bicara, jangan bicara tanpa kita pahami  dulu suatu persoalan yang dibicarakan, karena ujung ujungnya bisa menjadi fitnah . Pilihannya : MAMPU ASAL BICARA ATAU BAIKNYA DIAM.

Wallahu a’lam bish shawab


By: gio/15


Friday, 31 July 2015

Masih kah ada semangat Ramadhan di hati kita ??

Terasa masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu di bulan ramadhan itu kaum muslimin sibuk beraktifitas beribadah. Betapa syahdunya kegiatan menyantap buka puasa, lalu membaca alquran dan betapa indahnya terasa malam malam yang terasa hidup dalam lantunan zikir dan istighfar  dari mulut kaum muslimin  di mesjid itu.

Ramadhan datang seperti hujan musiman kemudian berlalu, hujan yang menyirami hati orang yang beriman .Ramadhan membawa hujan yang menyirami hati yang kering karena kemarau. Ramadhan mengipasi percikan api amal yang mulai padam. Ramadhan membangunkan semangat  ibadah kita yang mulai layu. Ramadhan memupuk kesabaran lalu menumbuhkan kepedulian untuk yang kurang beruntung....

Ramadhan telah usai, sekarang mau kemana dan harus apa?? Apakah kita akan kembali berjalan mundur lagikah?? Apakah semua latihan menahan diri itu setelah kita lewati akan di bebaskan sebebas bebasnya ??? Seperti mendapat semangat baru untuk terlibat kembali keperbuatan transaksi riba atau korupsi. Akankah semangat bersedekah, berbagi, belas kasih, kesabaran empati terhadap sesama masih terlihat cerah hingga ramadhan berikutnya?? Atau tlah redup dan lenyap terengut.

Kini waktu telah berlalu, yang datang pasti akan berlalu, ada awal ada akhir. Bagi yang mengisinya dengan amalan ketaatan hendaknya bersyukur  dan yang tlah menyia-nyiakan hendaklah menyesali dan bertaubat segera. Syariat puasa tetap di perintahkan di luar ramadhan. Nabi bersabda: Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka seolah olah puasa dia setahun penuh (HR>Muslim), lalu jika berpuasa tiga hari dalam setiap bulan hijriah serta ramadhan ke ramadhan, semua itu seolah olah berpuasa setahun penuh.(HR>Muslim).

Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir aktifitas ibadah kita, kita selalu bersemangat dalam mengisi hari hari kita dengan selalu beribadah kepada Allah. Amalan tak pernah berakhir sebelum maut datang menjemput.

Sebaiknya ramadhan menjadi dapat meng-upgrade kualitas iman setiap pribadi menjadi lebih baik dalam kehidupan kita. Ibarat kata “janganlah kita menjadi hamba Ramadhani tapi jadilah hamba Rabbani“ Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya, maksudnya adalah mengerjakan kebaikan  maka dilanjutkan dengan kebaikan yang lain, jangan pernah merasa sudah cukup amal tapi harus istiqomah dalam beramal sepanjang hayat di kandung badan. Seharusnya sasaran hidup yang kita idamkan itu TAKWA. Nabi bersaabda “amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berketerusan walau itu sedikit “.

Semoga semangat ramadhan masih ada dihati kita dan semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua  agar dalam ibadah selepas ramadhan selalu dalam pertolongan Allah hendaknya. Aamii!!

By: HZ

Wednesday, 22 July 2015

Hidup yang lebih berdaya tahan

Hidup memang tak selalu bisa sesuai dengan harapan kita. Suatu saat kita harus merasakan penderitaan yang sangat  menyedihkan. Sekali waktu kita akan merasakan sakit dan pedihnya hidup ini. Kita pun bisa juga mengalami kegagalan dan jatuh di saat yang tak terduga.

Ada yang bilang kalau hidup itu bagaikan roda. Kadang ada di atas, tapi bisa juga ada di bawah. Kalau mau bisa terus berjalan, roda yaaa harus terus berputar dong... Kalau roda gak berputar, kita pun gak akan bisa mencapai apa-apa atau malah mampet alias gak kesampaian di tujuan kita.

Agar hidup kita bisa memiliki  masa depan yang lebih baik, kita harus berproses untuk terus berputar. Kita harus rela ada di bawah, sebelum akhirnya bisa ada di puncak. Untuk bisa menuju kembali ke puncak yang baru, kita harus berputar lagi. Terus begitu, terus ..terus..teruuus berputar setiap waktu.

Kayaknya kita baru bisa merasakan kenikmatan dan mensyukuri kebahagiaan setelah kita mengalami penderitaan...why?? Agar bisa tetap rendah hati ketika mencapai sesuatu yang besar, sudah hukum alam kayaknya kita harus jatuh bangun melewati berbagai macam hambatan.

Coba lihat  matahari  deh...gak pernah tuh..ada terus di atas kepala kita. Matahari  juga harus terbenam ketika sudah waktunya. Baru keesokan harinya, kembali bangkit dan menyinari kita. Matahari berputar, bumi juga berputar, hidup kita pun secara alami ikut mutar jugaaa...

Mulai saat ini mending kita syukuri aja. Terima dengan lapang dada semua hal yang telah kita peroleh sampai  detik ini. Agar nantinya ketika hidup kita udah lebih baik, dan bisa benar-benar menjaganya dan gak mudah goyah dengan hambatan atau masalah terbaru.

Jika hidup saat ini terasa berat, bersyukur ajalah, karena itu tandanya kita sedang di uji untuk menerima sesuatu yang lebih besar sesuai kesanggupan. Dan  sedang ditempa untuk menjadi sosok yang lebih kuat lagi. Kalau  saat ini segala sesuatunya terasa gak berjalan sesuai dengan keinginan, ambil hikmahnya deh... dan jadikan lecutan untuk memacu diri lebih bersemangat  lagi. Dalam arti hidup yang lebih berdaya tahan ...tentunya.