Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Sunday, 15 August 2021

26 Tahun, Berpulangnya Papa-ku..

Papa, semasa hidupnya seorang penggiat organisasi sosial masyarakat di daerah kami, Sumatera Barat dan juga seorang pendidik hingga akhir hayat beliau.

Bagi Mama, dan kami anak-anaknya, papa adalah sosok yang luar biasa. 

"Aku bangga, papa sosok luar biasa yang selalu memperjuangkan sesuatu yang benar bagi kepentingan masyarakat”

26 tahun sudah kepergian papa,  aku selalu memohon doa pada-Mu ya Allah; 

"Berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku  dan kasihanilah keduanya sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil".

Aamiin allahumma aamiin

Aku lampirkan beberapa kliping media massa sekedar mengenang beliau disaat suasana terakhir sebelum papa berpulang di kehadirat Allah Subhanahu Wa Taala.
























Papa dan Mama berfoto bersama cucu beliau ..



Friday, 25 December 2020

Memorabel Wedding Day My Parents ( Mama dan Papa )

Ingin kuhidangkan satu porsi cerita kisah dengan seribu doa yang tulus buat mama dan papa di alam sana, dari seribu porsi cerita kisah hanya satu doa saja di ritual hari ini, tanggal 25 Desember setengah abad lebih berlalu.

Malam seperti menertawakanku mama
dan sepi membuliku papa...

Saat seribu porsi doa dan satu porsi cerita kisahmu
Kupanjatkan di haribaan  Tuhan semalam

Aku mengaku jujur pada Tuhan
Tidak ada kata-kata sempurna yang bisa kutuangkan dalam tangkup carano pernikahanmu itu.

Hanya doa-doa kecil yang kubisikkan untuk memohon kasih sayang Tuhan
Supaya selimut cinta kasih tetap membungkus kamar bahteramu hingga bersemayam di sisiNya

61 tahun itu tlah berlalu.....

Nyata adanya kesetiaan dan ketabahan menyelimuti batinmu hingga berada disisi Yang Maha Kuasa.


Nyata  adanya rasa cinta yang selalu menggebu pada mutiara-mutiara kecilmu melewati telinga anak-anakmu 
Nyata adanya kebahagiaan yang telah diperoleh
Pada kebaikan yang telah ditabungkan dalam lumbung cinta kasih
Itu semua berkah, atas lirihnya pintamu di haribaan Maha Pencipta dalam doa yang penuh air mata..

Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-61,
Jadi memori panutan kami anakmu  Mama dan Papa...
Kami anak anakmu selalu bersyukur tanpa jenuh 
Kami selalu mengirimkan doa keselamatan dan kelapangan  keharibaan Tuhan dengan doa-doa penuh keikhlasan dan ketulusan sujud kami..
Agar Tuhan mengisi cangkir kehidupanmu di alam sana dengan  kebahagiaan yang tak pernah habis sampai akhir.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan yg ke- 61 Mama dan Papa..



Tetaplah saling mencintai sampai di darul Jannah 
Doaku menyertai mama dan papa
Kiranya Tuhan selalu memberkahi anak cucu keturunan mama papa sampai akhir jaman.


Wednesday, 23 December 2020

Ketika Tanah Berguncang Di Ranah Minang Berlalu, Mama Menyusul Pergi Meninggalkan Kami Selamanya..

Diakhir bulan September, 11 tahun yang lalu. Saat itu ada kejadian yang tak pernah terlupakan bagiku sepanjang hayat. Sebagai anak yang jauh dari orang tua apalagi hanya mama yang masih ada, inilah alasan kuatku melepas rasa rindu pulang kampung ke Padang berlebaran dan merasakan hangatnya pelukan mama, mama segalanya dalam hidupku. Seperti biasanya aku, suami dan ketiga anakku tiap tahun minimal kami merayakan Idul Fitri di Padang, ditahun itu aku dan anak bontotku saja yang mudik ke ranah minang karena mama sakit. Sesampai ku dirumah mama menyambut dengan senyuman lembutnya yang bikin rindu dihati sirna seketika tenang dan nyaman, meskipun sudah beberapa lama mama tidak sanggup lagi beraktifitas di rumah seperti biasa, mama itu kalau lagi sehat gak bisa diam, ada saja yang dikerjakannya, bikin kue keringlah buat ngemil, menjahitlah, merawat tanamanlah, beberes rumahlah, kalaupun sedang ngaso..dipastikan ada yang sedang dibacanya. 

Nah, diwaktu aku masih tinggal sama mama yang ku khawatir kan itu kalau mama mulai terlihat tidur siang. Itu pertanda mama sedang tidak sehat kalau itu yang terjadi kami bersaudara gantian memijit dan membalur kaki dan punggung mama dengan minyak kayu putih..

Berjalannya waktu sebelum kepulangan ku saat mau lebaran itu, adikku memberi tahukan kondisi mama sudah mulai menurun sejak pernah jatuh dikamar mandi dan pernah dirawat dirumah sakit karena kekurangan kalium kata dokter. Sejak itu kondisi mama terlihat turun drastis, adikku bilang kalau mama itu gak terima dengan kondisinya yang diharuskan istirahat ditempat tidur, kalau berjalan harus pakai kursi roda.. 

Malam sesampainya di Padang, aku suapin mama puding kesukaannya, walau dimakan sedikit tapi beliau kelihatan semangat. Beberapa hari dirumah aku lihat kebiasaan rutin mama, dari bangun pagi sampai malam menjelang tidur, lebih banyak dilakukan ditempat tidur. 

Tanggal 30 September 2009 pagi harinya, suhu badan mama naik, biasanya kalau bangun tidur bila dikasih susu selalu diminum, pagi itu sama sekali gak mau minum, ada slem dikerongkongan mama yang menyulitkan untuk menelan. Lalu aku dan adik adik rembukan apakah harus dibawa ke rumah sakit, karena aku khawatir dengan kondisi stamina mama yang terus menurun. Meskipun dulu mama pernah berpesan : ..”kalian ingat ya, kalau mama sakit dihari tua, mama gak mau dirawat dirumah sakit, apalagi bikin repot kalian..”, sekarang ternyata kondisinya sudah diluar kemampuan ku untuk merawat mama. 

Aku dan adik adik mengambil keputusan membawa beliau ke dokter, sebelumnya juga meminta pendapat serta persetujuan keluarga besar. Maka di putuskan untuk di bawa ke rumah sakit, ambulan ditelepon terlambat datangnya. Subhanallah, layanan kesehatan di negeri kita memang masih lamban. Disaat mama dibawa ke ambulan pandangan mata mama terasa geram sama aku dan adik adik, beliau terlihat menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit mama langsung masuk ke ruang IGD, lumayan lama menunggu mama diperiksa, akhirnya dokter merekomendasikan agar rawat inap. Setelah pindah kekamar di lantai 3, rumah sakitnya gak punya lift, ada tangga biasa dan jalan untuk kursi roda dan brankar. 

Kami agak cemas karena ditempatkan di lantai 3, waktu itu kota Padang sudah sering dilanda gempa, tapi kita gak bisa pilih kamar karena kamarnya penuh, kita dijanjikan akan pindah kamar besok kalau kamar di lantai bawah sudah kosong, ya apa boleh buat terima saja yang ada yang penting penyakit mama bisa ditangani Dokter.

Baru 15 menit dikamar, tiba tiba kedengaran suara seperti motor distarter diluar gedung, keras sekali, gak berapa lama dinding dinding kamar runtuh, kaca jendela pecah, tempat tidur, dispenser barang barang lainnya bergeser dengan cepat, aku dan adikku reflek melindungi kepala dan badan mama sambil menahan tempat tidur yang bergerak dan tiang tempat botol infus jatuh. 

Suara orang teriak, lari, dan perawat yang mendorong brankar menambah kepanikan..ini gempa paling besar yang pernah aku rasakan, getaran gempa terasa beberapa menit. Semua orang panik, gimana minta tolong sama perawat, semua orang menyelamatkan diri sendiri dan keluarganya sendiri, adikku langsung membopong mama turun dari lantai 3 yang tangganya penuh pecahan kaca, tembok runtuhan dinding, pelan pelan kita berdua turun sambil menyisihkan reruntuhan itu, sampai di lantai dasar, mama didudukkan dikursi roda yg tertimpa reruntuhan juga, selang infus dicopot, karena tanpa sadar darah keluar dr slang infus itu, untung kebetulan ada dokter dipelataran depan, dia berusaha menenangkan pasien dan keluarga pasien yang ada di halaman rumah sakit. 

Komunikasi telepon terputus, aku gak bisa menghubungi adik yang baru saja pulang kerumah menyiapkan segala sesuatu dan menengok anak anak yang waktu itu gak ikut ke rumah sakit. Rencananya sore itu kita kumpul lagi di rumah sakit jagain mama. 

Kita tidak tahu apa yang terjadi, semua orang panik, gempa masih berulang meskipun gak terlalu keras lagi getarannya, di jalan orang teriak teriak, tolongin ada banyak orang tertimpa gedung, gedung kursus, toko, rumah dan sebagainya, terjadi juga kebakaran dimana mana, bunyi mobil pemadam kebakaran, serine ambulan simpang siur dibawah sore menjelang. 

Tiba tiba ada anak muda mengajak naik ke mobilnya saja, kita harus menjauh dari tepi pantai, ada kabar kemungkinan tsunami datang, info masih simpang siur, rumah sakit memang letaknya gak jauh dari pantai. Di mobilnya sudah ada beberapa orang juga, “selagi masih bisa ayo bu naik saja, kasihan si nenek, biar saya antar pulang”, katanya. Anak muda ini ada dirumah sakit mau bezuk temannya, belum sempat masuk, gempa sudah terjadi, dia gak jadi bezuk. Sepanjang jalan dari rumah sakit pemandangan sungguh mengerikan, gedung, rumah, jalan retak, mobil diparkiran hancur. Yang sama sama menumpang dimobil ini sudah turun 2 keluarga (4 orang) tinggal aku, adikku dan mama, sampai depan rumah, rumah kosong terkunci, gak mungkin kita turun tinggal diluar rumah, rumah juga gak jauh dari pantai, keadaan mama yang tidak memungkinkan, akhirnya diputuskan kita bawa mama kerumah anak muda ini, lebih kurang 3 km jauhnya dari rumah mama. Kita diterima dengan sangat baik dirumah itu, mama langsung disediain kasur yang digelar diruang tamu, dijamu dengan baik. 

Sementara aku masih belum bisa kontak dengan adik dan keluarga di Jakarta, baru sekitar jam 8 malam adikku bisa dihubungi, gsm belum berfungsi, tapi cdma bisa, akhirnya kita kumpul dirumah keluarga yang menolong ini.

Semalaman gak bisa tidur, nguing-nguing ambulan, pemadam kebakaran gak berhenti suaranya, hujan, listrik gak ada, dan persediaan air juga menipis, jangankan untuk mandi, untuk wudhu aja kita hemat dengan menampung air hujan. Sekitar jam 23.00 baru bisa kontak dengan keluarga di Jakarta, dengan iparku, kebetulan sedang dinas diluar kota, masih belum bisa kontak karena batre hp habis..lengkaplah sudah. 

Besok pagi kita pulang kerumah, si ibu yang punya rumah masih sempat bikin nasi goreng untuk sarapan, “kita gak tau apa yang akan terjadi, yang penting perut diisi dulu, anak anak kasihan kelaparan nanti”, katanya, semoga Allah membalas kebaikan keluarga ini. Suasana kota Padang porak poranda, listrik, air belum nyala, pom bensin tutup, toko toko gak ada yang buka, hanya beberapa warung yang masih buka, seperti kota mati saja. Kita pulang kerumah adik papa dibelakang rumah, rupanya mereka gak ikut mengungsi seperti kebanyakan warga disekitar rumah, sebelum sampai rumah adik ipar papasan dijalan karena dia berusaha cari kita, dia cuma dapat info kita berada di daerah Padang Baru. 

Mama bisa tidur dengan tenang, dibersihkan, dikasih sereal meskipun makan cuma sedikit, slem dikerongkongannya dikeluarkan..kebetulan adik papa perawat jadi sudah biasa mengerjakannya dan juga punya alatnya dirumah. Alhamdulillah rumah selamat dari gempa ini, hanya beberapa botol madu, dan pajangan yang jatuh tapi gak ada yang rusak. Untuk kebutuhan air ada sumur yang alhamdulillah airnya bisa dikonsumsi, dan tetangga sebelah rumah juga punya genset dan mereka juga mempersilahkan warga memanfaatkan untuk charge hp. Terima kasih tak terhingga, warga saling tolong menolong waktu itu. 

Suhu tubuh mama naik turun, sepertinya juga sudah gak mengenali kita meskipun masih sadar. Kamis malam kondisi mama mulai turun, sepertinya tidak mungkin kita bawa kerumah sakit lagi, keadaan rumah sakit umum penuh. 

Akhirnya tanggal 2 Oktober 2009, hari jumat jam 05.30 mama berpulang keharibaan Yang Maha Kuasa sang Maha Pencipta. Innalillahi wainna ilaihirajiun.. 🙁 🙁 Peristiwa besar tentang Tanah Goyang di Ranah Minang mengantarkan kepergian Mama ku untuk selama lamanya… Semoga Mama dan Papa bahagia di tempat yang layak di sisiNya. Aamiin YRA.


Artikel ini telah tayang di https://www.indovoices.com/umum/ketika-tanah-berguncang-di-ranah-minang-berlalu-mama-menyusul-pergi-meninggalkan-kami-selamanya/?fbclid=IwAR065aVu7WXY_Ad_ThDo2kbZWTzBNpOeMsv5piiHC-6Mfb04ERUM-LxULxI | Indovoices

Wednesday, 1 August 2018

Momen Jelang Lebaran Di Masa Lalu Bersama Mama

Mendekati hari-hari menjelang idul fitri, selalu mengingatkan kenangan sekian puluh tahun yang lalu (duuh tua sekali aku yaa..?😂). Suasana di akhir ramadhan seperti pada saat ini, telah menjadi perhelatan besar yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya untuk keluarga. Tentunya, salah satu sosok yang berperan dalam keluarga kita adalah mama.

Setelah melewati puasa sebulan penuh, tidak terasa, hari raya Idul Fitri akhirnya tiba. Bagi yang tinggal di Jakarta, hari-hari menjelang dan setelah Lebaran diingat sebagai “hari tanpa kemacetan nasional”.

Hari-hari mendekati hari raya idul fitri, selalu saja ditandai dengan kegiatan yang khas “menjelang lebaran”. Demam THR (Tunjangan Hari Raya) melanda dimana-mana, demikian pula kegiatan yang hanya terjadi sekali sepanjang tahun, yakni “mudik lebaran”.

Dulu saat aku masih sekolah, khusus di dalam lingkungan keluarga di kampungku akan terlihat kegiatan menyongsong datangnya hari Lebaran. Kegiatan khusus dan unik ini tentu saja diwarnai perubahan dari tahun ke tahun, menyesuaikan perkembangan zaman.

Banyak “kenangan manis” yang mengesankan dan sulit dilupakan kala aku menjalani masa kanak-kanak menjelang hari raya Lebaran. Kenangan yang dipastikan akan tetap abadi dan tidak mungkin terulang kembali. Pada waktu aku masih bersekolah di SD, saat itu masih bernama Sekolah Rakyat atau SR (di akhir tahun 1974 hingga SMA awal tahun 1981 an) bulan puasa benar-benar menjadi bulan idaman dalam arti sesungguhnya.

Kala itu setiap menjelang bulan puasa tiba hingga beberapa hari setelah lebaran, anak-anak sekolah memperoleh liburan panjang yang dikenal dengan liburan 40 hari. Liburan sangat panjang yang bila kita kenang saat ini menjadi satu hal yang sulit dipercaya. Liburan sekolah 40 hari?, namun itulah yang terjadi disaat itu. Menjelang Lebaran, papa dan mamaku menjadi super sibuk mempersiapkan kedatangan hari raya, di tengah ibadah puasa dan tanpa ada pembantu. Mama aku selalu membuat baju baru sendiri bagi anak-anaknya dari bahan sangat sederhana yang dibeli bersama beberapa keperluan lebaran lainnya di pasar raya di kotaku.

Mama membuat sendiri pola baju anak-anaknya yang sering disebutnya sebagai “patroon”, sebelum memulai menjahit baju. Patroon digambar terlebih dahulu di atas kertas koran bekas, kemudian digunting di atas meja. Dengan patron itulah mamaku memotong bahan baju untuk aku , kakak dan adik. Tentu saja, sebelumnya mama mengukur sendiri ukuran badan anak-anaknya dengan meteran kain yang sudah disiapkan. Saat itulah aku mengenal pensil merah biru yang diperoleh mama dari papaku untuk membuat patron baju. Potlot atau pensil merah biru adalah sebuah pensil dengan dua ujung yang dapat diraut dan masing-masing berwarna merah dan biru. Setelah bahan kain selesai dipotong, potongan-potongan itu digulung dan dilipat sekaligus dengan patron dari koran bekas kemudian diikat serta ditandai dengan nama aku, adik atau kakak. Potongan itu disimpan terlebih dahulu sampai tiba saatnya mama memiliki waktu luang untuk menjahit baju.

Dua minggu sebelum lebaran, terkadang juga sudah mepet beberapa hari jelang lebaran, baru mama menjahit pakaian buat kami semua. Tradisi saat itu hari lebaran harus memakai pakaian baru, karena dihari hari biasa jarang atau gak pernah bikin baju baru kalau gak perlu sekali..hehe.

Mama menjahit dengan mesin jahit “singer” yang digerakkan dengan kaki. Setiap mendengar suara mesin jahit berbunyi, aku, adik dan kakak berlari-lari mendekat, sekedar mengecek saja baju siapa gerangan yang tengah dijahit. Kemudian bertanya terus, kapan kelarnya Ma, kapan kelarnya?

Mamaku dengan sorot matanya yang tenang, lalu tersenyum dan menjawab “sabar ya, sabar ya, besok kelar”. Selain membuat baju baru untuk anak-anaknya berlebaran, mama aku juga membuat kue-kue lebaran sendiri. Yang dibuat mama biasanya kue semacam cake yang diatasnya ditutup dengan agar-agar dan terakhir ada putih telur yang dikocok sampai beku, seperti salju diatas cake, sebelum disiram agar-agar, cakenya ditusuk tusuk dengan lidi supaya agar-agarnya meresap. Dan kue kering yang dipanggang di sebuah “oven” kuno yang atasnya diberi arang panas agar kue matang merata bawah dan atasnya. Karena saat itu belum ada “blender” maka tugas anak-anak mengocok adonan telur dan tepung dalam sebuah baskom dengan menggunakan pengocok adonan yang berbentuk seperti “pegas” yang dibuat agar dapat lentur. Yang menyenangkan adalah saat melihat mama mencetak kue keringnya dengan cetakan kue. Sesekali anak-anak diberi kesempatan mencoba juga mencetak kue. Ada pola-pola bintang, segi empat dan lingkaran seperti pada umumnya kue kering yang kita kenal sampai dengan saat ini.

Malam lebaran, mama aku bisa dikatakan tidak tidur sama sekali, karena harus memasak opor ayam, rendang dan lontong. Dulu ketupat belum banyak yang buat dikampungku. Biasanya baru masak pagi hari menjelang subuh, dan diangkat dari dandang setelah direbus atau dikukus dan kemudian diangkat untuk disusun rapi di sebuah “tampah”.

Di masa-masa seperti ini, semua itu terkenang kembali, betapa indah masa kanak-kanak. Terlebih dari itu, aku menyadari betapa mama- ku sebenarnya memang seorang “super duper woman”. Bayangkan pada setiap lebaran, mama-ku menjahit sendiri baju-baju baru untuk anak-anaknya, menyiapkan makanan sendiri opor, rendang, lontong dan sekaligus membuat sendiri “kue lebaran” dan kacang bawang. Semua dikerjakan dengan senang hati serta sesekali penuh canda dan selalu melibatkan anak-anaknya pada setiap pekerjaan yang dilakukannya. Walau kami tidak banyak membantu tentu saja, akan tetapi di balik itu sebenarnya mama-ku mendidik anak-anaknya untuk “mandiri”. Aku sangat mengagumi dan sangat menghormati mama dan papa tercinta…

Kenangan masa kanak-kanak yang menyenangkan meskipun belum begitu mengerti makna puasa, Idul Fitri.. yang aku rasakan tiap bulan puasa, libur sekolah yang amat lama jadi bisa main dengan adik kakak dan teman sekitar rumah. Kami tinggal dikomplek perumahan, jadi amanlah untuk anak-anak bermain karena tidak jauh-jauh dari seputaran kompleks yang saling kenal satu sama lain.

Dirumah juga sebenarnya tidak pernah sepi penghuni, kami keluarga inti ada 7 orang, ditambah keluarga dari papa dan mama yang silih berganti ikutan tinggal bersama, senang sih karena rame terus. Tidak pernah terpikir juga bagaimana bisa mengatur keuangan rumah tangga waktu itu. Sangat salut buat kedua ortuku terutama mama, semua dikerjakan tanpa mengeluh, ya masak, bebenah, jahit baju lebaran untuk anak-anak perempuannya, itu juga tidak hanya 1 baju, setidaknya masing-masing 2 helai baju lebaran. Aku jadi berpikir..waktu itu “waktu” bukan 24 jam kali.. Heran, kok bisa si mama ngerjain semua? Kita tidak selalu punya asisten di rumah, nah anak-anaknya masih kecil-kecil..boro-boro bantu, ngerecokin malah, hahaha…

Kalau udah di pertengahan bulan, kita mulai ancang-ancang ngecat rumah, tapi tidak tiap tahun juga, kalau rezekinya kebetulan ada lebih. Yang mengecat ya adik-adik papa yang sudah remaja. Senang sekali mereka karena bisa bolos puasa, alasannya “kan kerja berat”, ada-ada aja..yaa dimaklumi saja karena belum dapat pencerahan mereka waktu itu.

Sehabis taraweh, yang seringnya kita ramai-ramai dengan tetangga taraweh dirumah, papa yang jadi imam. Kita keliling komplek dan bermain, main petak umpet, bawa lilin ditempurung kelapa, lilin juga dipasang dipagar, diteras dan lain sebagainya yang bisa dipasangi lilin.

Kembali ke cerita tentang baju lebaran, karena aku bertiga perempuan, bajunya kembaran dengan model yang lagi trend saat itu, ada satu baju yang sangat aku ingat, bagian roknya sekeliling dikasih hiasan tusuk silang, kebayang gak bikinnya ribet dan lama, mama memang super woman, aku aja gak mampu seperti itu..😞

Dari pagi sesudah beberes rumah, mama mulai jahit menjahit, kadang juga terima permintaan tetangga yang minta jahitin baju juga. Dilanjutkan dengan masak buat buka puasa sekalian buat sahur. Malam mulai bikin kue kering untuk lebaran, kuenya bermacam macam dan pasti enak sekali..sekarang ilmunya turun ke adikku..kuenya enak2 (mudah2an dia juga baca jadi langsung dapat kiriman nih😂).

Ketika menjelang momen bersiap salat Iedul Fitri, mama masih sempat membangunkan semua anggota keluarga.

Mama menjadi lebih proaktif ketika salat Idul Fitri tiba, untuk memastikan semua menjalankan shalat sunnah yang terjadi sekali setahun ini. Mulai dari subuh tiba, semua penghuni rumah dibangunkan dan disegerakan untuk mandi. Tidak lupa pula mama memeriksa baju baru anak anak, sehingga tampak rapi dikenakan nantinya. Meski terkadang mama tidak bisa ikut shalat karena halangan, tentu saja momen ini tetap menjadi hal yang kami rindukan di kala Lebaran.

Aku tidak habis pikir, sekarang kenapa aku seperti kehabisan waktu ya..tidak bisa seperti mama, yang semua dikerjakan sendiri dan punya waktu cukup..kemana waktuku habis yaa?

“My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her”.
(George Washington)

Aku selalu berdoa untuk mama dan papa, agar Allah yang maha kuasa mengampuni dosa-dosa papa dan mama ku serta memberikan tempat yang layak disisiNya, sesuai dengan amal dan ibadahnya.

Kepada seluruh pembaca, aku sampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.


Artikel ini sudah pernah tayang di Indovoices, 12 Juni 2018

Friday, 24 March 2017

SEBUAH CERITA ROMANTIKA HIDUP .

Kepahaman diri seseorang, sejauh yang aku pahami sebagai orang awam dan dungu, bukan melulu ditakar dari tinggi jenjang status sosial, pendidikan akademis orang itu ataupun seberapa banyak buku-buku berkelas yang telah ia baca, melainkan juga perlu memperhatikan, salah satunya, laku kehidupan sehari-hari orang itu dalam berinteraksi dengan manusia lain dalam everyday-life (kehidupan sehari-hari).



Interaksi  bisa dimana pun terjadi dan seperti biasa kalau lagi libur toko aku suka ketemuan dengan beberapa teman di Corner Resto. Seperti biasa  kami ber haha hihi dan ngobrol tentang hal yang ringan dan santai..yaah pokoknya ngobrol yang gak bikin pusing kepala, suasana rileks ini membuat lelah seminggu menjadi kendor. Pengunjung resto malam ini cukup ramai dari hari hari biasanya. Aku dan Reina duduk di pojok belakang dekat kolam kecil resto, ditempat ini tidak ada asap rokok dan sejuk membuat suasana yang enak buat bicara dan tidak begitu gaduh.
Malam ini teman teman yang suka nimbrung bareng  menghabiskan malam di Corner Resto sepertinya masih punya kegiatan yang padat. Jadi malam ini  hanya aku berdua saja dengan Reina,  dan aku paham betul menu favorit  temanku Reina: Secangkir luwak  white kaffie  panas. Sementara menu favoritku: secangkir kopi  latte tanpa gula dan gorengan berminyak yang lezat (setidaknya menurutku demikian).
Aku sudah berteman dengan Reina sejak awal mula aku membuka toko bahan kimia dan plastik milikku. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ya, setelah aku menyelesaikan kuliah dan mengalami kerasnya dunia kerja di lingkungan perusahaan yang penuh intrik kotor dan menjijikkan, aku memutuskan untuk menjadi pengusaha saja. Istilahnya “Jadi bos bagi diriku sendiri”, itu keinginanku.
Beruntung, aku mendapat warisan dari kedua orang tuaku berupa tanah berukuran  250 meter persegi yang terletak tepat di pinggir jalan raya dekat rumahku. Sebenarnya, tanah itu milik almarhum kakekku, yang diwariskan ke bapakku, yang sudah bertahun-tahun dibiarkan terlantar begitu saja. Lalu, sebagian  dari luas tanah warisan itu aku jual ke seorang pengusaha bengkel mobil dan kemudian uang pembayarannya aku gunakan sebagai modal awalku untuk membuka usaha bahan kimia karena aku memang punya pengalaman di bidang ini. Usaha ini sungguh menjanjikan mengingat di daerahku ini lingkungan usaha home  industri, sebelum aku membuka usaha ini biasanya mereka membeli bahan kimia ke kota dan sedikit sekali orang yang membuka usaha toko bahan kimia dan plastik kemasan, pikirku dulu.
Jadi, suatu siang Reina datang ke toko milikku. Kebetulan, aku sedang ada di toko dan melayani para pelanggan setiaku.
“Mas, ada baking soda merk, butterfly, gak?” tanya Reina, dengan ramah dan ekspresi yang sedikit bingung. Ia waktu itu memakai T-shirt berwarna biru muda kotak kotak  dan jeans ketat berwarna hitam, sementara rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai indah.
“Ada, mbak. Mau berapa banyak  ya?”
“Dua botol yang ukuran besar , Mas.  ya?”
“Oh iya, ada Mbak. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu.”
Aku lalu pergi ke belakang menuju gudang penyimpan yang sudah aku buatkan untuk masing masing bahan khusus makanan dan minuman  biasa disimpan.  Nah ini dia, baking soda  yang mbak cantik itu cari.
“Ini, Mbak. Baking Soda butterfly nya. Gimana?”
“Oke, Mas. Jadi, berapa?” jawabnya sambil sesekali mengecek smartphone miliknya.
“90 ribu, Mbak.” jawabku singkat sembari menatap matanya dalam-dalam.
Lalu, ia mengeluarkan sebuah dompet lipat panjang dari tas hitam mungil bermerek Mulberry miliknya. Woow  Ia bukan seorang perempuan biasa, pikirku.
“Ini uangnya, Mas,” ia menyodorkan uang pembayarannya ke tanganku. “Oh ya, Mas, saya boleh minta tolong dipindahin kotak kayu  di dalam mobil saya ini  ke kabin belakang?” Ia meminta dengan senyum manis yang begitu menggoda. Tanpa banyak berpikir, aku langsung mengangguk dan buru-buru mengangkat kotak kayu yang dimaksud  ke dalam kabin bagasi mobil BMW hitam miliknya.
“Terima kasih ya, Mas.”
“Iya, sama-sama, Mbak.”
“Reina.” Dia mengenalkan dirinya.
“Oh iya. Ferry.” Sambut ku membalas.
“Oh, Mas pegawai di sini ya?”
“Kebetulan saya pemilik toko  bahan kimia dan plastik ini, Mbak.”
“Wah. Maaf, ya Mas? He he. Saya tidak tahu.”
Aku tertawa kecil dalam hati. Wajahku memang tidak terlihat meyakinkan untuk dianggap sebagai pengusaha. Malu juga ya? Menyedihkan sekali aku ini. Aku lalu menjawab tidak masalah dan ia tersenyum. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi melesat meninggalkanku sendirian.
Oh ya, ia memberikan nomor hapenya kepadaku. Ia bilang kepadaku, telfon ia jika ingin bertemu.
Semenjak itu, aku sering bertemu Reina, terutama saat malam liburan. Aku, kemudian, mengetahui bahwa Reina, anak seorang pengusaha beberapa hotel  di Jakarta. Sementara ibunya menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta  juga. Ia tinggal di sini bersama dua adiknya, seorang satpam dan seorang pembantu rumah tangga. Atas pengakuannya sendiri, ia berkata kepadaku bahwa ia rindu dengan kedua orangtuanya yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara ayah dan ibunya menempati rumah di Jakarta, ia hidup di sini, di daerah kecil ini.
Saat awal bertemu denganku ia berumur  sembilan belas tahun atau empat tahun lebih muda daripada aku. Aku tanya mengapa ia tidak kuliah dan ia jawab kuliah itu mengekang pikirannya dan malah membuat ia seperti robot-robot pencari kuasa. Aku kemudian membalas begini: Tetapi barangkali kuliah bisa menyelamatkan banyak orang dari kubangan kemiskinan kronis.. waktu itu, kami ngobrol  di dekat rumahku, dia cuma tersenyum sembari mengggores-gores meja dengan kunci mobilnya. Aku juga tersenyum melihat ia memasang ekspresi bingung.
***
Malam ini aku dan dia sudah banyak bicara soal apa saja yang bikin suasana rileks, rasanya gak habis habisnya yang di obrolin lalu terdiam sesaat  sambil menikmati cuaca cerah malam karena beberapa hari ini cuaca kurang bersahabat.
“Eiiih, omong-omong nih, aku mau cerita sesuatu ke kamu Fer,” tiba-tiba air muka Reina, teman perempuanku yang manis itu, berubah menjadi serius banget.
“Cerita apa nih? Ayo cerita saja Reina,” jawabku dengan santai.
“Jadi gini, Fer. Kemarin aku ketemu bapakku. Nah, dia bilang kalau aku harus cepat nikah karena bapak dan mama ku sudah kepengen punya momongan  cucu. Kamu kan tahu Fer kalau aku anak sulung. Apalagi, aku anak perempuan. Masalahnya, aku belum siap nikah. Aku juga ragu dengan tujuan nikah. Buat apa sih nikah itu?” Ia bercerita dengan semangat, sesekali memasang muka sebal, sambil  menghirup white kaffie  panasnya.
“Waduh. Aku juga bingung nih. Soalnya, aku juga belum pernah dituntut nikah. Ibu aku selama ini cukup tenang melihat aku yang hampir kepala tiga ini masih melajang,” jawabku bingung.
“Fer, bagaimana kalau kamu jadi pacar aku?”
“Hah? Gila kamu!! Ha ha ha,” sebenarnya aku senang dengan permintaan Reina, tetapi aku teringat latar belakang keluarganya.
Aku teringat pertemuan pertamaku dengan ayah dan ibu Reina lima tahun yang lalu. Waktu itu, aku diajak Reina mengunjungi orang tuanya di Jakarta. Ketika aku sampai di rumah orang tuanya, aku dibuat kagum dengan kemegahan rumahnya yang mewah dan bergaya retro. Itu sudah cukup membuat nyaliku menciut. Setelah dipersilakan masuk oleh ayah ibu Reina, kami berempat duduk di ruang tamu. Setelah berbasa basi, menanyakan nama, alamat tinggalku, tiba-tiba ayah Reina memutarkan pertanyaan yang di luar perkiraanku: “ Kerja kamu apa, Fer?”
Sontak aku kaget. Mengapa ayah Reina bertanya soal kerjaanku? Aneh sekali ini. Aku dengan pelan menjawab, “ Berdagang, Pak.” Ia nampak bingung dengan jawabanku dan menjawab, “Oh. Saya kira kamu punya perusahaan, Fer. Dalam pikiranku berdagang  itu bagus tapi dengan kondisi saat ini agak berat  ya? Turunnya daya beli  sulit untuk berkembang.”
Tiba tiba Reina ngangetin aku, bilang; “Fer, aku serius sama kamu. Begini, Fer. Aku lebih baik terus sama kamu, walaupun kita berdua nggak menikah, daripada harus dijodoh-jodohkan dengan seorang pria yang nggak aku suka. Aku lebih baik mati di samping kamu, Fer.. Aku serius !”..
Ah, Reina. Kau pandai menciptakan problem baru dalam diriku. Selama aku SMA dan kuliah dulu, aku tidak pernah bertemu dengan sosok perempuan yang sama lucunya, yang sama cantiknya, yang sama uniknya seperti kau Reina. Tetapi ini gila! Aku masih ingat bahwa orang tuamu kelihatan aneh ketika mengetahui pekerjaanku. Aku tidak ingin membuat kau terluka dengan jurang pemisah semacam perbedaan status sosial seperti ini. Aku ini pedagang kecil yang takkan bisa menyaingi usaha bapakmu apalagi membuat dirimu bahagia dalam usaha kecilku ini…
Tapi kata orang bijak, bahwa: Cinta itu dapat bebas sejauh ia tidak menentang status sosial orang. Itu yang masih aku percayai sampai detik ini. Sialnya, aku bertemu dengan seorang malaikat cantik yang pesakitan, yang menantang prinsip cintaku ini.
Spontan aku mencium pipinya dengan mesra. Lekat sekali, hangat sekali. –begitu saja.
Aku terdiam, seolah tak menyangka, bagaimana bisa sesuatu yang aku pikir tidak mungkin adalah sesuatu yang mungkin, aku mencintainya juga, sejak pertama kali aku bertemu Reina, aku telah jatuh cinta. Tapi mendengar ucapannya membuat aku bahagia.

“Bagaimana jika aku mencintaimu juga?" kataku pada Reina.
“Ya, aku senang, sangat senang, setidaknya hatiku tak bertepuk sebelah tangan, Reina menjawab ucapanku. Mengetahui bahwa ciuman yang kau berikan padaku, bukan hanya pipimu, tapi hatimu juga, apa kau mencintaiku sebagaimana aku?“ ucap Reina.

“Mencintaimu? Sudah ku lakukan, sejak pertama kali kita saling bertemu di tokoku, kau begitu tergesa-gesa pergi, hingga sesuatu yang tumbuh di tempat lain tak kau sadari, bahwa aku ingin menciummu berkali-kali, tapi tak pernah sampai pada bibir hatimu. Aku sudah mencintaimu sebelum bertemu, dan lebih mencintaimu sesudah bertemu“, jawabku.
            
Reina memelukku, sangat erat seperti tak ingin sesuatu terlepas, begitu juga aku, aku memeluknya begitu erat, sangat erat, seperti seorang kanak menggenggam kembang gula demi tak dipinta seseorang, kami saling terdiam dalam pelukan yang saling erat, begitu lama.

“Aku bahagia, sangat bahagia, ternyata hati kita sudah saling  mengenali,  sudah saling berciuman. Maafkan aku, tak seharusnya aku mengatakan bahwa aku mencintaimu sementara aku tak memiliki kesiapan memilikimu, semestinya aku biarkan saja kau terus bertanya-tanya tentang perasaanku, biar tak ku lukai hatimu yang begitu sangat ingin ku rengkuh, tapi aku ingin kamu juga tahu, biar terus mengingat bahwa aku juga merindukanmu, aku kehilangan jika kau tak ada. Aku mencintaimu, sungguh ini kesalahanku“. Ucapnya, kali ini matanya yang sendu menjatuhkan gerimis, mengalir menuju pipinya, kemudian jatuh di bibirnya.
Karena sudah larut malam dan jam menunjukkan pukul 23:00 wib, kami beranjak pulang dan ku antar Reina pulang. Setelah sampai di rumahnya aku katakan pada Reina untuk segera menemui kedua orangtuanya. Kita tak perlu menunggu waktu lagi dan jadilah teman hidupku selamanya..


By: FR

Saturday, 23 July 2016

Hari Esok Untuk Anak Anak Kita.

Anak merupakan aset penting bagi sebuah bangsa, sehingga pendidikan dan pengasuhan yang diberikan harus mampu meningkatkan kualitas anak dimasa mendatang. Pendidikan harus dinomorsatukan, akan tetapi pola pendidikan yang diberikan harus mengarah pada potensi yang kita punyai. Artinya, bagaimana membangun nilai-nilai kerja keras, optimisme pada anak, bagaimana membangun karakter yang siap tahan banting serta berani bersaing. Selain pendidikan di bangku sekolah, pembangunan nilai-nilai luhur kepada sang anak juga sangat penting dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga menjadi generasi penerus yang berkualitas, tangguh, kreatif, jujur, sehat, cerdas, berprestasi, berakhlak mulia.

Dunia Anak

Hari anak di Indonesia dirayakan pada tanggal 23 Juli. Kesemuanya ini dengan maksud untuk menghargai serta menghormati hak-hak anak disebabkan banyaknya kasus-kasus kekerasan dan pelecehan yang diterimanya. Kasus ini makin meningkat  setiap tahunnya.

Saat memulai untuk menuliskan tentang Hari Anak ini. Saya teringat pada sebuah buku yang kubaca  berjudul ‘Saat Berharga Untuk Anak Kita’ , bahwa:
1. Persiapkan anakmu untuk menjemput AKHIRAT, bukan dunia, dan perhatikan hak anakmu, sebelum menuntut hakmu.
2. Bahwa masa-masa berharga untuk menanamkan nilai luhur kepada anak memang tidaklah panjang, maka diperlukan kejelian orang tua untuk dapat memanfaatkannya dengan baik.

Kita semua mengerti “Pengalaman itu menjadi  guru kehidupan”, begitu kata pepatah. Sejarah atau pengalaman adalah guru terbaik kehidupan. Orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka yang telah mendahului kita, Insya Allah akan tahu bagaimana memaknai tugas hidup sebagai orangtua. 
Saya melihat betapa tak bergunanya kebanggaan terhadap kreativitas dan kecerdasan anak, ketika mereka tidak tahu jalan hidup yang harus ditempuh. Bahkan ilmu agama yang tinggi pun akan sia-sia kalau mereka tidak mempunyai harga diri serta tujuan hidup yang pasti. Betapa banyak anak-anak yang memiliki keluasan ilmu agama, tetapi karena kita salah menanamkan tujuan, mereka justru menjadi pembawa kesesatan dengan ilmu yang ada pada dirinya.

Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orangtua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orangtua. Di antara mereka ada yang selalu membasahi penghujung malam dengan airmata untuk merintih kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara mereka ada pula yang menyertai langkah-langkahnya dengan niat yang lurus dan bersih.

Kadang seperti tak berkait langsung. Tetapi amal bergantung pada niatnya. Seorang ibu menyedekahkan hartanya karena mengharap ridha Allah dan penjagaan iman atas anak-anaknya, lalu Allah tegakkan dinding di hati anak sehingga tak terjangkau oleh kerusakan yang ada di sekitarnya. Boleh jadi seorang istri bersikeras meminta suaminya menyucikan harta, lalu Allah sucikan hati anak-anak mereka dari keruhnya hati dan kotornya pikiran. Boleh jadi pula ada bapak-bapak yang sibuk dengan perkara yang seakan tak bersentuhan dengan agama, tetapi sesungguhnya ia sedang menolong agama Allah, sehingga Allah berikan pertolongan kepada mereka. Allah datangkan pertolongan kepada mereka dengan jalan yang tak terduga.

Teringatlah saya dengan firman Allah, Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Q.s. Muhammad [47:]: 7).
Ya Allah, alangkah masih sering lalai hati kita. Kita berbuat, tapi tanpa berniat. Bahkan di saat kita sedang sibuk berbicara agama pun, yang memenuhi hati seringkali bukan niat yang bersih. Akibatnya hati kita risau dan jiwa kita gelisah. Alih-alih membincangkan agama, yang ada justru perdebatan yang mengeraskan hati. Inilah antara lain yang menyebabkan sebagian ulama hilang kharismanya.


Astaghfirullahal ‘adzim. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Di zaman ketika wibawa sebagian ulama semakin rapuh, rasanya kita perlu menguatkan hati anak-anak kita. Di masa ketika masjid-masjid justru sibuk mengundang artis, kita perlu memperbanyak amal untuk memohon barokah Allah bagi kebaikan hidup kita dan anak-anak kita. Sesungguhnya Allah yang menggenggam hati manusia.

Semoga Allah mengampuni kelalaian kita. Semoga pula Allah menggerakkan hati kita untuk lebih mengingat-Nya, sehingga apa pun yang kita kerjakan mempunyai nilai di hadapan Allah. Semoga apa yang kita kerjakan sekarang, bisa menjadi bekal pulang ke kampung akhirat.

Telah berlalu masa orang-orang terdahulu. Setiap saat masa beralih dan zaman bertukar. Orang-orang yang dahulu berteriak lantang, sekarang mungkin sudah tinggal tulang belulang. Anak-anak yang dulu lucu-lucu, sekarang mungkin sudah menjadi penyejuk kalbu yang membawa haru karena tulusnya perjuangan mereka. Tetapi sebagian lagi mungkin justru menjadi penyebab airmata pilu para orangtua. Anak-anak yang dulu mengeja a-ba-ta-tsa, sekarang mungkin sedang aktif berdakwah. Tetapi sebagian lagi mungkin justru sedang sibuk menjual agama…

Masa berganti, zaman bertukar. Hanya hukum Allah yang tak pernah berubah, meskipun kita menggantinya setiap saat. Allah menyuruh kita mengambil pelajaran dari mereka yang telah pergi; baik mereka yang meninggalkan kebaikan maupun mereka yang membawa keburukan. Di dalamnya, ada hukum sejarah yang patut kita catat.

Ya… ya… ya… masa terus berganti. Kita tak bisa meminta anak-anak untuk menjadi seperti kita. Seperti nasihat ‘Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu, kita didik anak-anak kita untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Terserah mereka akan jadi apa, yang penting ‘akidah, iman dan komitmen mereka sama dengan kita atau lebih teguh lagi.

Dunia terus berubah, pada masa kita kecil, alat pengirim berita paling cepat adalah telegram. Sekarang, ketika kita belum terlalu tua, telegram sudah tidak dipakai lagi. Telegram sudah menjadi teknologi yang ketinggalan zaman. Sekarang melalui perangkat kecil di tangan yang bernama komunikator, berita dari manca negara lengkap dengan fotonya bisa kita akses setiap saat. Anak-anak yang masih ingusan bisa mendapatkan ilmu-ilmu berharga lewat internet dengan kecepatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tetapi pada saat yang sama, lihatlah di bilik-bilik warnet itu, bagaimana sejumlah anak kaum muslimin sedang terombang-ambing di hadapan situs-situs porno.

Kita mungkin bisa mencegah dengan kekuasaan atas anak-anak itu. Tetapi apa yang sanggup kita kerjakan sesudah kita tiada? Tak ada. Itu sebabnya kita mulai perlu berpikir tentang bekal buat anak-anak kita sesudah jasad terkubur tanah. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengingatkan, “Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar).” (Q.s. an-Nisâ` [4:]: 9).

Di tempat ini, kita sudah pernah berbincang tentang qaulan sadidan. Adapun tentang takwa, rasanya tak ada yang dapat saya sampaikan. Iman masih lemah, ilmu nyaris tak ada, sementara amal hampir-hampir tak ada yang dapat dibanggakan. Ingin sekali saya berpesan tentang takwa, tetapi saya lihat hati ini masih amat keruh. Padahal ketika Allah berpesan agar kita takut kalau-kalau di belakang hari meninggalkan generasi yang lemah, hanya dua yang menjadi jalan keluarnya, yakni takwa dan berbicara dengan perkataan yang benar.

Inilah dua hal yang amat sederhana, tetapi butuh perjuangan yang tak pernah usai. Seperti anak-anak kita kelak, setiap saat bertarung pada diri kita bisikan-bisikan kepada kesesatan dan bisikan-bisikan takwa. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha. Di hati kitalah semua bertarung.

Ya, dua hal itulah yang dapat kita harapkan menjadi bekal bagi anak-anak kita kelak. Bukan psikologi. Bukan sosiologi.

Semoga Allah kuatkan iman kita. Semoga pula Allah memperjalankan kita dalam takwa kepada-Nya. Semoga langkah kita senantiasa berada di atas niat yang kokoh dan tujuan yang baik. Semoga setiap langkah kita membawa kepada ridha-Nya dan meninggalkan bekas yang mantap di hati anak-anak dan keturunan kita, sehingga mereka senantiasa memenangkan bisikan takwanya.

Selebihnya, ada yang harus kita benahi. Tentang iman kita. Tentang ilmu kita. Juga tentang amal-amal kita.
Kepada Allah kita menggantungkan harapan. Hari-hari mendatang anak kita, di tengah tantangan yang semakin menakutkan, semoga dapat memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illallah. 

Semoga Allah memperjalankan mereka sebagai penolong-penolong-Nya. Allahumma amin.
Dikutip  dari narasi buku yang berjudul ;  

‘Saat Berharga Untuk Anak Kita’

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim.

Published 2009 by Pro-U Media 
goodreads,com/book/show/7802795/saat-berharga-untuk-anak-kita



Thursday, 3 March 2016

"Lantas, untuk apa kau simpan potongan kain bajumu ?"

Rintik hujan yang turun hampir setiap sore menggodaku untuk membalik semua kenangan yang telah ku timbun dalam lemari waktu.

Ia berikan sebuah tas transparan berbentuk persegi panjang. Aku sempat terkesiap melihat isinya. Ragu-ragu kuraih tas itu. Kuamati..Sempat juga kubolak-balik dan kuremas-remas sekadar ingin melunasi rasa penasaran. Membayangkan jika buntalan hitam itu memang benar-benar asli, aku jadi risi. Buru-buru kukembalikan lagi tas plastik itu. Ada senyum tersungging di bibirnya. Aku tersenyum masam.

"Bagaimana?! Masih belum yakin kalau ini potongan kain bajuku?" tanyanya sembari memasukkan kembali plastik itu ke dalam tas kerja ke abu abuan yang rebah di antara kedua pahanya.

Aku tak gampang percaya pada omongan orang lain jika tak ada buktinya. Bahkan, meski ia baru saja menunjukkan buntalan hitam itu potongan bajuku pun, aku masih saja ragu. 

Kupikir, bisa jadi buntalan hitam dalam plastik itu adalah kain yang dibelinya lalu diperlihatkannya kepadaku. Tapi, kupikir, ia bukan tipe wanita yang mau menyia- nyiakan waktu untuk melakukan hal bodoh semacam itu. Maka kupilih bungkam, tak menanggapi pertanyaannya.

Suatu senja di awal Maret, gerimis panjang belum juga berhenti. Siang tadi, lewat Whatsapp, ia mengajakku makan di sebuah mal di wilayah kota selatan itu.  Hari-hari belakangan, langit selalu dirundung mendung. Aku sempat ragu sebelum menyanggupi ajakannya. Nyatanya cuaca buruk tak mampu merintangi janji yang telah kami sepakati. Setelah semua tugas kantornya selesai, ia langsung menuju toko swalayan tempat kami janji bertemu.

Langit senja terasa lebih pekat kala hujan. Udara makin dingin karena dia enggan mematikan AC mobil. Dari balik kaca mobil yang dihiasi percik-percik air, kulihat orang-orang berteduh berdiri kedinginan di emperan toko atau di depan pintu masuk pusat perbelanjaan. Air hujan meluap sampai ke jalan. Warnanya keruh kecoklatan. 

Dia mengemudikan mobilnya perlahan saja. Kami terpesona memandangi gerimis yang tampak indah membias karena lampu jalan, lampu kendaraan, dan kerlap-kerlip sinar layar papan reklame. Kami singgah sebentar di sebuah mushola cantik di tengah kota.

"Sampai sekarang aku nggak bisa lupa mimik wajah pemilik butik itu." Usai menunaikan shalat magrib, perjalanan kami lanjutkan. "Waktu aku minta agar buntalan potongan bajuku dikumpulkan, lewat pantulan cermin kulihat dia bengong seperti habis bangun tidur,"  sambil terkekeh-kekeh.

"Lantas, untuk apa kau simpan potongan kain bajumu?"

Ia sempat diam sejenak sebelum berkata, "Yeah, untuk mengingatkanku pada kepahitan-kepahitan hidupku dulu...."

Kulirik wajahnya sekilas. Suaranya datar dan tak kudapati ekspresi apa pun di wajahnya. Aku juga diam membayangkan apa yang berkecamuk dalam benaknya sesaat sebelum ia ucapkan kalimat itu. Tentu saja setiap orang pernah mengalami masa-masa pahit dalam hidupnya. Tapi menyimpan potongan kain baju itu sebagai kenangan atas kepahitan-kepahitan hidup ? Ah, entahlah.............. kadang hidup ini aneh dan sulit dimengerti.

                                                         ++++++++++++..

Kukenal  Hedy tiga puluh lima tahun lalu ketika kami masih sama-sama kuliah di Bandung. Waktu itu, ia kerap mengeluh karena pacarnya--teman kuliah juga--tipe lelaki yang suka memelihara cemburu. Rasa memiliki yang kelewat berlebihan kadangkala menjengkelkan. Begitu selesai kuliah, kami pun hilang kontak. Tenggelam dalam dunia masing-masing. Orang-orang datang dan pergi dari kehidupan kami. Bukankah itu hal yang biasa  ?

Puasa tahun yang lalu Hedy memunculkan diri lagi di depan mataku. Entah angin apa yang memprovokasinya untuk bertandang ke rumah. Tiga puluh lima tahun tak bersua, aku sempat pangling juga melihatnya. Rambut Hedy yang dulu pendek sebatas bahu, kini agak panjang. Tutur kata dan bahasa tubuhnya pun tampak lebih tenang dan berbicara dengan suara lembut.

Dia pun merangkai cerita dan aku memasang telinga lebar-lebar. Ia bercerita bahwa pacarnya pergi dengan perempuan lain. Aku tak kaget lagi mendengarnya. Itu bukan cerita baru. Setelah mantan pacarnya menikah, ia terbang ke Jakarta. Mukanya memerah waktu kuledek bahwa dia pergi ke jakarta hanya untuk melupakan kenangan pahit. Lima tahun bekerja di Jakarta, rupanya Hedy tak kerasan. Dia rindu Kota Bandung. Rindu rumah dan orang-orang yang ia sayangi. Ya, ya, rindu adalah rasa sakit yang paling indah ya... Sekarang sudah dua setengah tahun lebih dia pulang dan bekerja di sebuah perusahaan tekstil.

                                        ****

Aku melangkah masuk ke sebuah resto cepat saji ala Jepang dan mendapati ruangan yang tak seberapa luas itu nyaris dipenuhi manusia. Berpasang-pasangan, bersama keluarga atau teman sebaya. Suasana riuh. Kucari tempat yang masih tersisa. Ahaa, di pojok ruangan dekat jendela ada dua kursi kosong. Letaknya persis menghadap jalan raya. Kupikir tempat itu cukup nyaman untuk orang yang datang sendirian. Aku bergegas ke sana setelah menegur seorang pelayan dan memesan mie ramen alias chuka soba, Makanan khas jepang yang bernama mie ramen ini. Mie ramen ini biasanya di campur dengan kuah kaldu campuran tulang sapi, tulang ayam, kacang kedelai gongseng, shiitake, bawang bombay atau daun bawang dan juga makanan khas jepang mie ramen ini berisi didalamnya seperti irisan daun bawang yang membuat rasa mie ramen lebih gurih kalo di jepang suka dikasih campuran tulang babi...eiit maaaaf...kok ceritanya malah promosi makanan jepang nih. Gak lupa pesan minum jus jeruk.

Meja dan bangku yang kududuki bentuknya persegi panjang. Warnanya pun senada. Persis di sebelah kananku, seorang remaja putri duduk berhadapan dengan dua temannya. Tiga rangkai sakura yang menunggu musim semi tiba itu masih mengenakan seragam sekolah. Mungkin baru pulang les tambahan di sekolah mereka. Tak sengaja telingaku menangkap percakapan mereka tentang film bioskop, handphone android yang lagi  trend, mode pakaian terbaru, dan gebyar diskon akhir tahun. Aku tersenyum kecut ketika gadis di sampingku menggerutu karena hujan belum juga reda.

Ah, kenapa hujan kerap dimaknai sebagai aral, ketimbang percaya bahwa lengkung pelangi yang kelak jatuh di kotamu begitu penuh memukau?

Aku mengunyah makanan yang ku pesan dalam kesunyian di resto ini. Mengurai sepi di tengah keramaian. Lima orang pelayan tampak kewalahan melayani pembeli yang berjubel dan semuanya ingin cepat dilayani. Aku tak risau meski pesananku terlambat diantar. Aku tidak sedang dan paling anti diburu waktu. Apa yang membawaku singgah dan ingin berlama-lama di tempat ini adalah saran yang dianjurkan seorang rekan dalam tulisannya di google plus. Dia bilang ada beberapa tips melawan lupa. Dua di antaranya adalah mengingat setiap nama yang berhubungan dengan kenangan, dan datangilah tempat-tempat rendezvous yang bisa menyegarkan ingatan terhadap suka atau pengkhianatan yang melukai.... 

Aku suka dengan tips sederhana itu dan kurasa tak perlu membantahnya lagi.

Lalu kuraih sebuah handphone tablet dari dalam tas yang ku bawa. Kutelusuri berita disertai gambar dari display monitornya satu persatu dengan membaca secara acak.

Ada sebuah cerita tentang kenangan.........”Bila hujan kembali turun, siapkan mantelmu sebelum kau berangkat untuk kemudian melupakan rumah ini. Simpanlah di dalam tubuhmu dan kenanglah aku yang mengingatkanmu.

Aku pun termangu. Hujan masih berdesir kencang di luar sana. Sesekali tempiasnya singgah di kulit tangan dan pelipis, tapi tak sampai ke dalam hati. Jalanan basah. Daun-daun kuyup. Genangan air lumpur di tepi jalan. Batang pohon dan tiang listrik seperti menggigil kedinginan. Roda-roda kendaraan menyibak air lumpur jalanan. Meninggalkan desis panjang dan lirih.

Tak ada yang istimewa bagi ku di saat itu. Masih tersimpan pesan singkat di whatsapp  didalam ponselku. Hedy mengirimnya beberapa hari lalu waktu kutanya pendapatnya tentang hujan yang turun nyaris setiap sore di bulan Maret  ini. Aku tersenyum kecut mengingat kalimat itu. Tidakkah ia rasakan Desember pun begitu cepat datang dan berlalu ? Tidakkah rintik hujan sampai di hatinya serupa nyanyian pilu ?

Baru beberapa detik kugenggam Jus jeruk, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Aku menghela napas. Hedy, Hedy. Teknologi memang telah mengubah segalanya. Meski lama sudah kami bertemu, pesan-pesan singkat cukup membuat kami kembali merasa dekat. Hedy mengabarkan bahwa ia masih terperangkap di jalan pintu tol pasopati. Menunggu antrian mobil yang sedang membayar tol sedangkan hujan belum juga reda. Dia pasti sedang jenuh dengan suasana antrian itu.

"Aku ingin main atau kumpul lagi dengan teman-teman. Seperti dulu. Ternyata nggak enak ya kalo sendirian," keluh Hedy dalam pesan berikutnya. Setelah berfikir sejenak, iseng-iseng kusuruh dia menyisihkan waktu untuk mematung di tepi jendela mobilnya. Menekuri cuaca yang sedang tak bersahabat itu. Dia bisa saja leluasa membongkar-bongkar kenangan silam. Tentang apa saja. Mungkin tentang masa lalu yang makin menjauh, tentang lelaki yang ia cintai namun tak bisa ia miliki, atau tentang jejaknya yang tertinggal di kota-kota yang pernah ia singgahi. Sayang, aku lupa bahwa lain lubuk lain ikannya. Hedy bukan tipe wanita yang betah mengukur jarak sepi. "Justru itu aku selalu mencari kesibukan biar nggak merasa kesepian dan jenuh. Main game online, berjam-jam di depan komputer, menelepon teman lama, atau jalan jalan ke Mall atau hadiri acara resepsi pernikahan. Ya, begitulah hidup. Berbagai masalah harus dihadapi dan kita mesti cari solusi yang terbaik," begitu pesan terakhirnya sebelum baterai ponselku mulai habis.

Gerimis dan kesepian datang membawa noktah noktah  kenangan. Aku jadi tak punya nyali untuk bercerita lebih banyak pada Hedy tentang malam-malam larut, hening yang mencengkam, dan cinta yang menggelayut. Meski ada yang mekar diam-diam di tanah basah ini, aku percaya tak semua tanya butuh jawaban. Realisasi perjalanan sebuah doa kadang tak bisa dipahami dengan akal sehat atau logika. Sebagaimana yang kukatakan, Hedy pun sepakat kota ini sudah terlalu riuh dan pelik untuk dipahami. Maka biarlah semua itu ikut bersama sobekan lembaran angka-angka di kalender. Biarlah orang-orang datang dan pergi dari kehidupan kita. Bukankah itu hal yang biasa terjadi sesuai sunnatullah?

                                                               ***

Bunyi gerimis hujan diluar seperti selimut sutra turun dari langit terdengar seperti  mendesis lirih.  Mungkin di suatu tempat, seseorang tengah menyanyikan lirik lagu sentimentil nan romantis. Suasana gerimis mempercepat suasana kelam. Aku masih berteduh di dalam sebuah resto kembali ditemani segelas kopi panas. Uap tipis panasnya  meliuk liuk keluar dari gelas lalu raib dalam udara. Kupanggil seorang pelayan lelaki yang lewat mejaku. Kusodorkan sebuah disc kepadanya dan minta diputarkan sebuah tembang. Aku merasa mungkin, mimik pelayan itu mirip mimik penjahit butik tempat Hedy minta potongan bahan kain baju itu di kumpulkan. Ah, mungkin juga dia belum sadar bahwa menganggap remeh hal-hal yang sepele adalah kesalahan besar.

Begitulah. Selang beberapa menit kemudian terdengar "Januarinya -Glen Fredly" mengalun, membakar hawa dingin.Dalam cuaca begini muram, tak ada hal menarik yang ingin kulakukan selain mengingat. Bukankah masa lalu dan kenangan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan kini dan nanti?


Usai gerimis, kota ini akan kembali riuh. Aku ingin menyusuri ruas-ruas jalannya. Menyaksikan hal-hal sepele seperti jalanan basah, kaca berembun, langkah diselingi liukan tubuh  orang-orang menghindari genangan air, atau perempuan berbaju jaket hujan transparan buatan china.

Dan, mungkin juga, ketika gerimis itu benar-benar usai, akan kusambangi sebuah pintu yang sudah lama tertutup rapat. Pintu yang meneteskan air mata sejak kutinggalkan. Apa kabarnya perempuan dalam rumah itu? Apakah dia baik-baik saja setelah bercerai dengan suaminya? Entahlah. Namun, sungguh, gerimis ini begitu menghasut kenangan. Tiba-tiba aku ingin berada didekatnya kembali. Mengenang gerimis-gerimis silam. Lalu kubayangkan apa yang akan kami perbuat di ujung percakapan. Mungkin dia akan menutup pintu dan jendela lalu memadamkan semua lampu. Mungkin akan kumatikan ponsel agar tak ada yang mengganggu; teman, kenalan, atau Hedy sekalipun. Mungkin...

Bulan Maret ini nyatanya telah menghampiri ku..aku merasa telah separuh jalan hidupku sudah kujalani...aku nggak bisa lupa mimik wajah pemilik butik itu, potongan kain bajuku yang di sodorkan Hedy padaku adalah potongan kenangan masa lalu yang jadi timbangan hidupku di kemudian hari...semoga.


***

Cerita ini ku persembahkan untuk yang berulang tahun dibulan ini...semoga selalu sehat dan diberi umur yang penuh barokah agar husnul khotimah...

by : gmarpi16.